Aksi Kamisan Jogja di Tugu Pal Putih: Merawat Ingatan, Menuntut Keadilan, dan Melawan Impunitas

Bagikan :

Ilustrasi aksi kamisan (Pinterest :Amanullah Zaki)

Yogyakarta, KabarJawa – Setiap Kamis sore, suasana di sekitar Tugu Pal Putih Yogyakarta berubah. Di antara kendaraan yang melintas dan aktivitas warga, sekelompok orang berpakaian hitam berdiri dengan payung, poster, serta foto korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Mereka tidak datang dengan pengeras suara atau aksi massa yang penuh teriakan. Sebaliknya, mereka memilih diam. Sikap tersebut menjadi bagian dari Aksi Kamisan Jogja, sebuah gerakan yang menggunakan aksi diam sebagai bentuk penyampaian pesan kepada publik dan pemerintah.

Di balik keheningan itu terdapat tuntutan agar kasus-kasus kekerasan dan pelanggaran HAM tidak dilupakan. Bagi peserta aksi, mengingat merupakan bagian dari upaya menjaga ruang keadilan agar persoalan masa lalu tidak berhenti sebagai catatan sejarah.

Berawal dari Aksi Keluarga Korban di Jakarta

Aksi Kamisan memiliki sejarah panjang yang bermula dari perjuangan keluarga korban pelanggaran HAM. Gerakan ini digagas oleh Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK) di depan Istana Negara Jakarta.

Pada awalnya, aksi tersebut hanya diikuti tiga orang. Mereka membawa payung hitam dan foto korban sebagai simbol duka sekaligus tuntutan agar negara memberikan kejelasan serta keadilan.

Konsistensi aksi yang digelar setiap Kamis kemudian membuat gerakan tersebut dikenal lebih luas. Sejumlah kelompok di berbagai daerah turut mengadopsi konsep serupa, termasuk Bandung, Semarang, Ternate, dan Yogyakarta.

Baca juga  Polisi Gadungan di Magelang Gasak 11 HP Pelajar, Begini Modusnya

Aksi Kamisan Hadir di Yogyakarta Sejak 2013

Di Yogyakarta, Aksi Kamisan mulai berlangsung pada 2013. Gerakan tersebut diinisiasi oleh lembaga swadaya masyarakat Social Movement Institute (SMI) bersama sejumlah elemen masyarakat.

Tugu Pal Putih dipilih sebagai lokasi karena berada di salah satu kawasan yang ramai dilalui masyarakat. Kehadiran massa di ruang publik membuat pesan yang dibawa tidak hanya ditujukan kepada pemerintah, tetapi juga dapat dilihat oleh warga yang melintas.

Dalam perkembangannya, kegiatan Kamisan di Yogyakarta tidak selalu berupa aksi berdiri dalam diam. Berbagai bentuk ekspresi digunakan untuk menyampaikan pesan, seperti pembacaan puisi, pertunjukan teater, musik, hingga kegiatan seni lainnya.

Payung Hitam dan Pesan untuk Tidak Melupakan

Payung hitam menjadi simbol yang identik dengan Aksi Kamisan. Warna tersebut menggambarkan suasana duka keluarga korban sekaligus menjadi penanda bahwa persoalan yang mereka bawa belum dianggap selesai.

Peserta biasanya membawa foto atau poster yang berkaitan dengan kasus HAM. Dengan cara tersebut, nama dan wajah korban kembali dihadirkan di ruang publik.

Pesan yang ingin disampaikan sederhana: peristiwa kekerasan tidak seharusnya hilang dari ingatan hanya karena waktu telah berlalu.

September Hitam dan Catatan Pelanggaran HAM

Salah satu agenda yang mendapat perhatian dalam gerakan Kamisan di Yogyakarta adalah September Hitam. Momentum ini digunakan untuk mengingat sejumlah peristiwa kekerasan dan pelanggaran HAM yang terjadi pada bulan September maupun kasus lain yang dianggap penting untuk terus diingat.

Beberapa peristiwa yang kerap dibicarakan dalam agenda tersebut antara lain tragedi 1965โ€“1966, Tragedi Tanjung Priok, Semanggi, pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib, kasus Salim Kancil, Reformasi Dikorupsi 2019, serta kasus penembakan Pendeta Yeremia di Papua.

Peringatan terhadap Munir juga menjadi salah satu bagian penting. Dalam sejumlah kegiatan, peserta menggunakan topeng bergambar wajah Munir sebagai simbol bahwa perjuangan untuk mengungkap kasus tersebut masih terus diingat.

Baca juga  Harga Jagung Anjlok di Madiun, Petani Keluhkan Harga di Bawah HPP

Pengakuan Negara Belum Mengakhiri Tuntutan

Pemerintah sebelumnya telah menyatakan pengakuan terhadap sejumlah peristiwa pelanggaran HAM berat masa lalu. Namun, bagi peserta Aksi Kamisan, pengakuan tersebut belum otomatis menyelesaikan persoalan.

Mereka masih menyoroti kebutuhan akan proses hukum, pengungkapan fakta, serta pertanggungjawaban terhadap pihak-pihak yang dinilai terlibat dalam kasus tersebut.

Karena itu, aksi setiap Kamis menjadi sarana untuk mempertahankan tuntutan tersebut di ruang publik. Kehadiran rutin mereka juga menjadi bentuk pengingat bahwa penyelesaian kasus HAM tidak berhenti pada pernyataan atau pengakuan semata.

Tak Hanya Membahas Kasus Masa Lalu

Isu yang dibawa Aksi Kamisan Jogja tidak terbatas pada peristiwa yang terjadi puluhan tahun lalu. Gerakan ini juga merespons kasus kekerasan, intimidasi, dan persoalan hak warga yang muncul dalam perkembangan terbaru.

Salah satu isu yang pernah disuarakan berkaitan dengan aktivis Andrie Yunus yang menjadi korban penyiraman air keras. Massa aksi mendorong adanya pengungkapan kasus secara terbuka dan proses hukum terhadap pelaku.

Aksi Kamisan juga pernah menyampaikan kritik terkait kekerasan aparat di Tual, Maluku, yang menyebabkan seorang pelajar meninggal dunia. Persoalan tersebut kemudian dikaitkan dengan tuntutan evaluasi terhadap penggunaan kekuatan oleh aparat.

Mengawal Persoalan Wadas hingga Kasus di DIY

Aksi Kamisan Jogja juga menjadi ruang untuk menyuarakan berbagai persoalan lingkungan dan konflik agraria.

Kasus warga Desa Wadas, Purworejo, misalnya, menjadi salah satu isu yang mendapat dukungan dari gerakan masyarakat sipil di Yogyakarta. Penolakan warga berkaitan dengan rencana penambangan batuan untuk kebutuhan pembangunan Bendungan Bener.

Selain Wadas, sejumlah persoalan lokal turut menjadi perhatian, seperti penggusuran pedagang kaki lima di kawasan Malioboro, persoalan lingkungan di Kali Progo, kasus petani Pakel, hingga perkara Gedongkuning.

Berbagai isu tersebut menunjukkan bahwa tema yang dibawa dalam aksi dapat berubah mengikuti persoalan yang sedang berkembang di masyarakat.

Kritik terhadap Kondisi Ekonomi dan Kebijakan Pemerintah

Dalam perkembangannya, Aksi Kamisan Jogja juga digunakan untuk menyampaikan kritik terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan pemerintah.

Baca juga  Melaju Kencang di Tikungan, L300 Hantam Tembok SD di Bantul hingga Ringsek, Pengemudi Patah Tangan

Salah satu bentuknya terlihat dari penggunaan spanduk yang menyoroti persoalan nilai tukar rupiah, kenaikan harga bahan bakar, serta tekanan terhadap daya beli masyarakat.

Kritik juga datang dari isu pendidikan dan lapangan kerja. Dalam salah satu aksi, peserta muda menyampaikan pandangan bahwa pemerintah perlu memperhatikan akses pendidikan yang layak dan ruang aman bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat.

Persoalan program magang juga menjadi bagian dari sorotan ketika muncul dugaan adanya praktik yang merugikan pencari kerja muda.

Menjaga Ingatan di Tengah Arus Informasi

Bagi peserta Aksi Kamisan, melawan lupa merupakan bagian penting dari perjuangan mereka. Arus informasi yang sangat cepat membuat perhatian publik mudah berpindah dari satu isu ke isu lainnya.

Kasus yang sempat ramai diperbincangkan dapat dengan cepat tenggelam oleh berita baru. Karena itu, aksi rutin setiap Kamis menjadi cara untuk menghadirkan kembali persoalan yang belum selesai ke ruang publik.

Keheningan yang terlihat di sekitar Tugu Pal Putih justru menjadi pesan tersendiri. Tanpa harus memenuhi jalan dengan teriakan, peserta aksi menunjukkan bahwa ada persoalan yang masih mereka anggap penting untuk terus dibicarakan.

Aksi Kamisan dan Ruang Demokrasi di Yogyakarta

Selama bertahun-tahun, Aksi Kamisan Jogja menjadi salah satu bentuk ekspresi masyarakat sipil di ruang publik Yogyakarta. Payung hitam, foto korban, poster, puisi, hingga pertunjukan seni menjadi medium untuk menyampaikan keresahan dan tuntutan.

Bagi peserta, konsistensi hadir setiap Kamis bukan hanya tentang sebuah kegiatan mingguan. Ada upaya untuk menjaga ingatan kolektif, mengawal persoalan HAM, serta mempertahankan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat.

Dari Tugu Pal Putih, pesan itu terus disampaikan dengan cara yang khas: berdiri, membawa simbol, dan memilih diam agar publik berhenti sejenak untuk melihat persoalan yang belum selesai.

Berita Terbaru

GELOOO #CRSLlandFestival MASIH MAU NAMBAH 2 GUEST STAR LAGI ๐ŸšจDahlaaah langsung amanin 2 DAYS PA
CRSL Land Festival 2026 Siap Meriahkan Stadion Maguwoharjo
Jogokariyan
Jumat Berkah di Jogja: 6 Masjid dengan Tradisi Makan Gratis yang Bikin Hati Hangat
kamisan jogja
Aksi Kamisan Jogja di Tugu Pal Putih: Merawat Ingatan, Menuntut Keadilan, dan Melawan Impunitas
Link Twibbon Hari Statistik Nasional 2026 desain modern terbaru untuk merayakan peringatan HSN 26 September, sejarah, makna dan tujuan. (Twibbonize)
Link Twibbon Hari Statistik Nasional 2026, Desain Modern Terbaru untuk Peringati HSN 26 September
P1260023
Mengulik Kluwek dan Tradisi di Balik Rawon Lewat Cooking Show Sasanti Yogyakarta

Terpopuler

Amal Buton, adik Arie Kriting, meninggal dunia pada 24 September 2026. Simak profil dan informasi penyebab wafatnya. (instagram/amal_buton)
Amal Buton Adik Arie Kriting Meninggal Dunia Kenapa, Apakah Sakit? Ini Profil dan Penyebab Wafat
Biodata Cicilia Golda Bethulla, istri Axel Matthew Thomas: anak siapa, umur, pekerjaan, hingga akun Instagram dan TikTok. (instagram/valerieethomas)
Biodata Cicilia Golda Bethulla Istri Axel Matthew Thomas, Anak Siapa, Umur, Kerja Apa, Akun IG-TikTok
Link Twibbon Hari Jadi Kota Bandung 2026 tersedia dengan desain terbaru. Simak cara pasang dan sejarah HJKB ke-216. (Twibbonize)
Link Twibbon Hari Jadi ke-216 Kota Bandung 2026 Desain Terbaru untuk Media Sosial
Batas mentor ACC absen dan laporan harian MagangHUB 2026 belum ditentukan. Cek aturan, solusi laporan belum ACC.
Batas Mentor ACC Absen dan Laporan Harian MagangHUB Kemnaker 2026, Berapa Lama & Bagaimana Jika Belum di-ACC
Irfan Fikri Aulia adalah suami mendiang Kairissta Chaniago. Simak pekerjaan, profil, dan sosok Indies Noe yang kini dekat dengannya. (instagram/irfan_fikri)
Suami Kairissta Chaniago, Irfan Fikri Aulia Kerja Apa dan Siapa Pacar Barunya?