
Kabar Jawa – Link Twibbon Haris Statistik Nasional 2026 menjadi salah satu cara sederhana merayakan peringatan yang diperingati setiap tanggal 26 September. Berbagai bingkai foto dengan desain modern dan terbaru bisa diunduh secara gratis lalu dibagikan ke media sosial mulai dari Instagram, Facebook, TikTok, atau WhatsApp.
Hari Statistik Nasional (HSN) 2026 jatuh pada Sabtu, 26 September 2026. Momen tahunan ini menjadi pengingat bahwa data statistik memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari memahami kondisi masyarakat hingga mendukung perencanaan pembangunan.
HSN bukan sekedar peringatan tahunan, melainkan kesempatan untuk mengingatkan masyarakat bahwa data memiliki peran penting dalam memahami berbagai persoalan dan menentukan arah pembangunan.
Peringatan Hari Statistik Nasional bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pentingnya data dalam kehidupan sehari-hari. Sebab melalui statistik yang akurat dan tepercaya, masyarakat dapat memahami berbagai kondisi sosial dan ekonomi, sekaligus mendukung perencanaan serta evaluasi pembangunan.
Selain itu, literasi statistik perlu diperkuat agar masyarakat mampu membaca, memahami, dan menafsirkan data secara tepat sehingga tidak mudah menarik kesimpulan keliru. Kolaborasi antara penyelenggara statistik, responden, dan pengguna data diperlukan untuk mewujudkan pembangunan yang berlandaskan informasi berkualitas.
Link Twibbon Hari Statistik Nasional 2026
Buat kamu yang ingin berpartisipasi memeriahkan peringatan Hari Statistik Nasional 2026, berikut kabarjawa.com telah menyiapkan sejumlah twibbon berdesain modern terbaru yang bisa kamu gunakan secara gratis.
https://www.twibbonize.com/hsn-unipda-2026
https://www.twibbonize.com/hari-statistik-nasional
https://www.twibbonize.com/haristatistiknasional26septe
https://www.twibbonize.com/hari-statistik-nasional-2025
Sejarah Hari Statisik Nasional
Tanggal 26 September ditetapkan sebagai Hari Statistik Nasional berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1960 tentang Statistik. UU ini menjadi salah satu tonggak penting dalam penyelenggaraan statistik di Indonesia.
Namun jauh sebelum itu lembaga statistik telah hadir sejak masa kolonial. Pada Februari 1920, pemerintah Hindia Belanda mendirikan kantor statistik di Bogor.
Empat tahun kemudian, tepatnya pada 24 September 1924, lembaga tersebut berganti nama menjadi Centraal Kantoor voor de Statistiek (CKS) dan dipindahkan ke Batavia, yang sekarang dikenal sebagai Jakarta.
Setelah Indonesia merdeka pada 1945, kegiatan statistik dijalankan oleh Kantor Penyelidikan Perangkaan Umum Republik Indonesia (KAPPURI).
Pada 1950, KAPPURI dan CKS dilebur menjadi Kantor Pusat Statistik (KPS). Lembaga ini kemudian berubah nama menjadi Biro Pusat Statistik pada 1 Juni 1957.
Gagasan untuk menetapkan Hari Statistik Nasional muncul pada 1996. Saat itu, Kepala Biro Pusat Statistik, Sugito Suwito, mengusulkan adanya peringatan khusus untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya statistik.
Tanggal 26 September kemudian disetujui sebagai Hari Statistik Nasional melalui surat Menteri Sekretaris Negara Nomor B.259/M.Sesneg/1996 tertanggal 12 Agustus 1996.
Pada 19 Mei 1997, pemerintah mengesahkan UU Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik. Melalui perubahan tersebut, nama Biro Pusat Statistik berganti menjadi Badan Pusat Statistik (BPS), lembaga yang hingga kini menyelenggarakan kegiatan statistik di Indonesia.
Makna dan Tujuan Peringatan Hari Statistik Nasional
Hari Statistik Nasional bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan kesempatan untuk mengingatkan masyarakat bahwa data memiliki peran penting dalam memahami berbagai persoalan dan menentukan arah pembangunan.
Ada beberapa tujuan utama yang ingin dicapai melalui peringatan ini, di antaranya:
1. Meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap data
Data statistik dapat membantu masyarakat memahami kondisi sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga perkembangan wilayah. Pemahaman yang baik terhadap data juga membantu mengurangi kesalahpahaman ketika menerima informasi.
2. Mendorong penggunaan data yang akurat dan tepercaya
Statistik yang berkualitas dibutuhkan untuk menyusun kebijakan, mengevaluasi program, dan menentukan prioritas pembangunan. Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa sumber serta konteks data sebelum menggunakannya.
3. Memperkuat literasi statistik
Literasi statistik bukan hanya kemampuan membaca angka, tetapi juga memahami cara data dikumpulkan, disajikan, dan ditafsirkan. Kemampuan ini penting agar masyarakat tidak mudah menarik kesimpulan yang keliru dari sebuah informasi.
4. Mendukung pembangunan berbasis data
Data yang akurat dapat menjadi landasan dalam merancang program pembangunan sesuai kebutuhan masyarakat. Kolaborasi antara penyelenggara statistik, responden, dan pengguna data juga dibutuhkan untuk membangun sistem statistik nasional yang andal.***