Batang, Kabar Jawa – Insiden dugaan keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa 276 warga di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, mengungkapkan fakta lapangan yang membedakannya dari kasus keracunan sekolah biasa. Dampak kesehatan akibat sajian MBG tidak berhenti di lingkungan sekolah, melainkan menjangkau hingga ke dalam rumah tangga akibat kebiasaan orang tua mengonsumsi sisa makanan anak.
Fenomena “Eman – Eman” Makanan Anak
Kasus yang menimpa Nur Hayati (43), warga Kecamatan Bawang, menjadi salah satu cerminan nyata dari dampak rantai domestik ini. Pada Selasa (22/9/2026) siang sekitar pukul 12.00 WIB, sang anak yang masih duduk di bangku PAUD membawa pulang sisa paket makanan MBG yang tidak habis dikonsumsi di sekolah. Makanan tersebut kemudian disantap oleh ibunya karena merasa sayang jika dibuang (eman-eman).
Namun, beberapa jam setelah menyantap olahan telur dari paket tersebut, reaksi kesehatan mulai bermunculan. Pada Selasa malam, Nur Hayati mengalami gejala diare parah serta mual-mual.
Keterlambatan Diagnosis dan Informasi Grup WhatsApp
Awalnya, pihak keluarga tidak menduga sama sekali bahwa keluhan tersebut dipicu oleh makanan program sekolah. Suaminya, M. Sadullah (43), sempat mengira istrinya hanya mengalami masuk angin biasa dan memberikan perawatan tradisional berupa kerokan. Pada Rabu pagi, suami korban bahkan sempat membelikan obat di apotek karena menduga penyakit diabetes istrinya yang kambuh.
Keluarga baru menyadari bahwa Nur Hayati merupakan korban keracunan makanan setelah memantau percakapan di grup WhatsApp warga dan sekolah. Di grup tersebut, banyak orang tua murid membagikan keluhan kesehatan serupa usai anak maupun anggota keluarga mereka menyantap makanan MBG. Korban kemudian dievakuasi oleh petugas menuju Puskesmas Bawang sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Batang (Kalisari).
Rincian Menu dan Tindakan Pemerintah
Paket makanan MBG yang dibagikan pada Selasa (22/9/2026) tersebut dipasok oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bawang di bawah naungan Yayasan Bela Sejahtera Batang. Paket menu tersebut terdiri dari nasi putih, telur saus bolognese, tahu mendoan, tumis sayur campuran (mix vegetable), dan buah anggur. Dapur SPPG Bawang ini melayani sekitar 2.700 penerima manfaat yang tersebar di 11 lembaga pendidikan tingkat TK, PAUD, SD/MI, hingga MA/MTs di Kecamatan Bawang.
Menanggapi kejadian ini, Wakil Bupati Batang Suyono menginstruksikan penghentian sementara seluruh aktivitas distribusi dapur SPPG Bawang dan meminta sampel makanan diperiksa secara intensif di laboratorium mikrobiologi dan toksikologi. Pemkab Batang juga menyiapkan empat fasilitas kesehatan utama, yakni RSUD Batang (Kalisari), RSUD Limpung, Puskesmas Subah, dan Puskesmas Batang, untuk merawat para korban yang mengalami mual, pusing, dan diare.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, Ida Susilaksmi, memastikan bahwa hingga Kamis (24/9/2026) pagi kondisi mayoritas pasien telah membaik dan secara tegas menepis kabar burung (hoaks) yang menyebutkan adanya korban meninggal dunia.