Kabar Jawa – Fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat tengah memperpanjang kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur.
BMKG pada 22 September 2026 menyebut anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 mencapai +2,83 pada akhir Agustus, sedangkan indeks ENSO periode Juli-Agustus-September berada di angka +2,63. Kondisi tersebut mengindikasikan El Nino sangat kuat.
Kombinasi El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif turut mengurangi curah hujan dan membuat musim hujan 2026/2027 diprediksi datang lebih lambat di banyak wilayah.
Dampaknya tidak hanya dirasakan melalui suhu udara yang terik dan tanah yang mengering. Ketersediaan air bersih ikut menurun, ancaman kebakaran hutan dan lahan meningkat, sementara berkurangnya pasokan hasil pertanian berpotensi memengaruhi harga sejumlah bahan pangan.
Krisis Air Mulai Membebani Warga di Pelosok
Di daerah tapal kuda dan pedalaman, memenuhi kebutuhan air bersih kini menuntut perjuangan lebih besar. Kondisi tersebut salah satunya dirasakan warga Dusun Tambakselo, Desa Banyu Urip, Kabupaten Ngawi.
Karena hujan absen selama sekitar dua bulan, hampir seluruh sumur galian warga mengering. Lilik, salah seorang warga setempat, mengisahkan warga harus berjalan kaki sekitar 3 kilometer menyusuri jalan setapak untuk mencapai satu-satunya sumber air yang masih tersedia.
Dalam sehari, warga bahkan harus bolak-balik hingga 10 kali dengan membawa ember dan galon bekas. Air tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan dasar rumah tangga, mulai dari memasak, mencuci hingga mandi.
Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Pasuruan. Berdasarkan catatan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD setempat, sebanyak 2.568 kepala keluarga (KK) di 12 dusun yang berada di Kecamatan Pasrepan dan Kecamatan Lumbang terdampak krisis air bersih.
Lumbang menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak terbanyak, yakni 1.467 KK. Dusun Krajan Timur mencatat jumlah terdampak mencapai 467 KK. Sementara Pasrepan menyumbang 1.101 KK, termasuk Dusun Dongol dan Karangpocok di Desa Sibon yang masing-masing terdampak 274 KK.
Kalaksa BPBD Kabupaten Pasuruan Sugeng Hariyadi mengatakan tim reaksi cepat BPBD telah mengerahkan armada truk tangki untuk menyalurkan air bersih secara bertahap. Masyarakat juga diimbau menghemat penggunaan air selama kondisi kering berlangsung.
Kekeringan Meluas, Karhutla Ikut Mengintai
Jika dilihat dalam skala provinsi, ancaman kekeringan tidak hanya terjadi di satu atau dua wilayah. Sejumlah daerah di Jawa Timur menghadapi kondisi kering yang membuat kebutuhan distribusi air bersih meningkat.
BPBD Jawa Timur menyiapkan berbagai langkah untuk merespons kebutuhan tersebut, termasuk distribusi air bersih menggunakan armada tangki serta penyediaan tandon dan perlengkapan pendukung lainnya.
Ancaman kemarau juga merembet ke sektor kehutanan. Vegetasi yang mengering membuat kawasan hutan dan lahan lebih mudah terbakar. Sejumlah wilayah, termasuk kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, menjadi bagian dari wilayah yang perlu diwaspadai terhadap karhutla.
Kondisi ini sejalan dengan peringatan BMKG bahwa El Nino dapat meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla. BMKG sebelumnya juga memproyeksikan musim kemarau 2026 cenderung lebih kering dari kondisi normal di sejumlah wilayah.
Harga Cabai Ikut Terdampak di Pasar Kota
Dampak musim kemarau tidak berhenti pada persoalan air bersih. Berkurangnya produksi pertanian di sejumlah sentra juga dapat memengaruhi pasokan bahan pangan yang masuk ke pasar perkotaan.
Pantauan Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Disperindag Jatim mencatat adanya perubahan harga sejumlah komoditas, mulai dari beras kualitas premium, gula pasir, minyak goreng, telur ayam hingga beberapa jenis sayuran.
Salah satu komoditas yang mengalami kenaikan adalah cabai rawit merah. Di Pasar Wonokromo Surabaya, harga cabai kecil disebut mencapai Rp65.000 per kilogram. Harga tersebut berada di atas kisaran normal yang sebelumnya berada sekitar Rp35.000 hingga Rp40.000 per kilogram.
Sayuran buncis juga mengalami kenaikan sekitar Rp3.000 menjadi Rp15.000 per kilogram.
Nasipah, salah seorang pedagang bahan pokok di Pasar Wonokromo, mengatakan kenaikan harga membuat sebagian pembeli mengurangi jumlah belanja. Kondisi tersebut turut berdampak pada volume transaksi pedagang.
Pemerintah Siapkan Pompanisasi hingga Sumur Bor
Untuk menghadapi ancaman kekeringan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyiapkan sejumlah intervensi untuk mempertahankan ketersediaan air sekaligus membantu sektor pertanian.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan Pemprov bersama Kementerian Pertanian dan pemerintah daerah telah melakukan inventarisasi terhadap lokasi yang mengalami kekurangan air.
Beberapa langkah yang disiapkan meliputi:
- Pompanisasi, yakni mengambil air dari sumber air permukaan yang masih dapat dijangkau.
- Sumur bor, dengan mengeksplorasi sumber air tanah di lokasi yang memungkinkan.
- Pemipaan, termasuk membangun jaringan untuk mengalirkan air dari sumber terdekat. Pada sejumlah lokasi, jaringan tersebut dapat menjangkau jarak hingga belasan kilometer.
- Bagi petani yang menghadapi risiko gagal panen, pemerintah juga menyiapkan bantuan untuk mendukung pemulihan musim tanam berikutnya, termasuk melalui anggaran Biaya Tidak Terduga (BTT).
BMKG Sebut Musim Hujan 2026/2027 Datang Lebih Lambat
BMKG pada 22 September 2026 juga memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di 529 Zona Musim atau sekitar 61,08 persen wilayah Indonesia mengalami kemunduran dibandingkan rata-rata klimatologisnya. Sebagian besar wilayah diprediksi mulai memasuki musim hujan pada November dan Desember 2026.
Dalam buletin terbarunya, BMKG juga memprediksi curah hujan Oktober hingga Desember 2026 secara umum berada pada kategori rendah hingga menengah, dengan sifat hujan bawah normal hingga normal. BMKG mengingatkan masyarakat untuk mengikuti pembaruan prakiraan iklim karena kondisi dapat berubah seiring perkembangan atmosfer dan laut.
Untuk Jawa Timur, BMKG Stasiun Klimatologi sebelumnya memperkirakan El Nino berpengaruh terhadap penurunan curah hujan pada periode Juni hingga November 2026. Dalam pembaruan nasional pada September, BMKG kemudian menyatakan El Nino telah mencapai kategori sangat kuat.
Dengan kondisi tersebut, penghematan air, distribusi air bersih bagi wilayah terdampak, perlindungan tanaman pertanian, serta kewaspadaan terhadap karhutla menjadi bagian penting dalam menghadapi periode kering yang masih berlangsung di Jawa Timur.