kabarjawa – Atmosfer sepak bola di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai terasa lebih sejuk menjelang kompetisi BRI Super League 2026/2027. Persaingan antara PSIM Yogyakarta dan PSS Sleman yang selama ini kerap diwarnai tensi tinggi kini dibingkai dengan komitmen bersama untuk menjaga pertandingan tetap aman dan tertib.
Pimpinan klub, panitia pelaksana, aparat keamanan, serta perwakilan suporter dari kedua tim duduk bersama untuk menyepakati komitmen perdamaian. Langkah tersebut diharapkan menjadi momentum agar rivalitas di lapangan tidak berkembang menjadi perselisihan di tribun maupun di luar stadion.
PSIM dan PSS Duduk Bersama di Mapolda DIY
Komitmen tersebut dibangun dalam pertemuan yang digelar di Aula Promoter Mapolda DIY, Rabu (16/9/2026). Pertemuan itu dihadiri Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, Bupati Sleman Harga Kiswaya, pengurus Asprov PSSI DIY, jajaran kepolisian, manajemen klub, panitia pelaksana, serta perwakilan suporter.
Empat kelompok suporter utama, yakni Brajamusti dan Mataram Independent (The Maident) dari kubu PSIM, serta Slemania dan Brigata Curva Sud (BCS) dari kubu PSS, turut hadir dalam pertemuan tersebut.
Mereka membacakan sekaligus menandatangani dokumen komitmen bersama sebagai pedoman menghadapi kompetisi Super League 2026/2027.
Kabid Humas Polda DIY Kombes Pol Ihsan mengatakan keamanan pertandingan membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Menurut dia, pesan perdamaian juga perlu diteruskan hingga tingkat akar rumput suporter.
Perwakilan suporter PSIM, Rendy Agung Prasetya, menyatakan komitmen untuk ikut mengawal suporter di tingkat bawah. Sementara itu, perwakilan PSS, Tato Indarto, mengimbau pendukung kedua klub menurunkan ego agar tidak terjadi bentrokan.
Bupati Sleman Harga Kiswaya juga mengingatkan bahwa masyarakat Yogyakarta pada dasarnya merupakan satu keluarga besar.
9 Poin Kesepakatan Derby PSIM vs PSS
Dokumen yang ditandatangani para pihak memuat sembilan poin yang menjadi pedoman selama kompetisi. Berikut isinya:
- Menjunjung sportivitas. Manajemen, panitia pertandingan, dan pimpinan suporter berkomitmen menjaga nilai sportivitas.
- Menerima pengalihan arena. Seluruh pihak bersedia menerima pemindahan lokasi pertandingan jika hasil evaluasi keamanan menyatakan stadion awal tidak memungkinkan digunakan.
- Manajemen bertanggung jawab atas pendukung. Klub bertanggung jawab menjaga ketertiban pengurus, pemain, dan pendukungnya.
- Koordinasi panitia pelaksana. Panpel wajib berkomunikasi secara rutin dengan klub, suporter, dan aparat keamanan.
- Mematuhi aturan lalu lintas. Suporter wajib menaati aturan berkendara, termasuk menggunakan helm standar, tidak berboncengan tiga, tidak menggunakan knalpot brong, tidak mengonsumsi minuman beralkohol, serta tidak membawa senjata tajam maupun tiang bendera.
- Dilarang membawa benda berbahaya. Flare, laser pena, petasan, kembang api, dan bom asap dilarang dibawa atau dinyalakan di stadion.
- Mencegah kericuhan dan provokasi di media sosial. Suporter berkomitmen menghindari perusakan, penganiayaan, serta narasi provokatif yang dapat memicu konflik.
- Bertanggung jawab atas kerugian. Manajer, panpel, dan ketua suporter bersedia mengganti kerugian fisik maupun materiil apabila terjadi kerusakan akibat ulah pendukung.
- Mematuhi proses hukum. Pelaku aksi anarkistis akan diproses sesuai hukum, sementara pengurus suporter berkomitmen membantu kepolisian.
Status Penonton Derby Mataram Belum Diputuskan
Meski komitmen perdamaian telah disepakati, kepastian mengenai kehadiran penonton dalam laga Derby Mataram belum diputuskan.
Polda DIY masih melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap situasi keamanan menjelang pertandingan. Kebijakan mengenai penonton akan ditentukan berdasarkan hasil analisis dan evaluasi kepolisian mendekati hari pertandingan.
Dalam kalender Super League 2026/2027, pertemuan pertama PSIM dan PSS dijadwalkan pada 10 Desember 2026 di Stadion Sultan Agung, Bantul, dengan PSIM sebagai tuan rumah.
Sementara itu, pertemuan kedua dijadwalkan pada 20 Februari 2027 di Stadion Maguwoharjo, Sleman, yang merupakan kandang PSS.
Rivalitas PSIM dan PSS dalam Sejarah Sepak Bola DIY
Rivalitas PSIM dan PSS tidak terlepas dari perjalanan panjang sepak bola Yogyakarta. PSIM berdiri pada 5 September 1929 dan menjadi salah satu klub yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan sepak bola nasional. Sementara PSS Sleman berdiri pada 20 Mei 1976.
Persaingan kedua kelompok pendukung mulai semakin terasa ketika PSS menembus kasta Divisi Utama pada musim 1999/2000, sementara PSIM menghadapi periode sulit. Perubahan peta persaingan tersebut kemudian menjadi salah satu bagian dari dinamika rivalitas sepak bola di DIY.
Namun, rivalitas tersebut juga berkembang di luar lapangan. Kelompok suporter dari kedua klub memiliki berbagai kegiatan komunitas dan ekonomi kreatif yang berjalan di tengah kehidupan masyarakat Yogyakarta.
Pada akhirnya, rivalitas PSIM dan PSS tetap menjadi bagian dari gairah sepak bola Yogyakarta. Namun, komitmen damai yang disepakati berbagai pihak menunjukkan adanya upaya untuk memisahkan persaingan selama 90 menit di lapangan dari kehidupan sosial masyarakat di luar stadion.***