
KABAR JAWA – Ketika mendengar istilah Lumbung Mataraman, sebagian orang mungkin langsung membayangkan sebuah bangunan lumbung besar yang digunakan untuk menyimpan hasil panen. Namun, anggapan ini ternyata kurang tepat.
Lumbung Mataraman bukanlah sekadar bangunan kasat mata, melainkan sebuah konsep sekaligus program berbasis masyarakat yang telah dikenal sejak lama, khususnya oleh warga Yogyakarta.
Bagi masyarakat yang belum pernah mendengarnya, tentu pertanyaan yang muncul adalah, apa sebenarnya Lumbung Mataraman itu?
Arti Lumbung Mataraman
Berdasarkan laman resmi dari Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian, Lumbung Mataraman merupakan program yang mengedukasi masyarakat agar mampu memanfaatkan pekarangan rumah untuk kegiatan budidaya sekaligus melakukan diversifikasi pangan secara berkelanjutan. Jadi, Lumbung Mataraman lebih dekat pada sebuah gerakan sosial daripada sebuah bangunan.
Menariknya, konsep ini bukanlah hal baru. Berdasarkan catatan sejarah, sejak abad ke-17, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645), masyarakat Jawa sudah mengenal praktik serupa.
Dengan kata lain, Lumbung Mataraman tergolong warisan budaya yang terus hidup hingga saat ini, dan mengajarkan pentingnya pemanfaatan pekarangan untuk mencukupi kebutuhan pangan keluarga.
Fungsi Lumbung Mataraman
Keberadaan Lumbung Mataraman memiliki fungsi yang sangat luas. Tujuan utamanya adalah menciptakan kemandirian, ketahanan, sekaligus kedaulatan pangan di tingkat rumah tangga maupun desa.
Hal ini dilakukan melalui kegiatan budidaya pertanian dan peternakan yang terpadu dengan tetap mengedepankan nilai kearifan lokal.
Tidak hanya itu, Lumbung Mataraman juga berfungsi sebagai ruang pembelajaran pertanian bagi masyarakat, destinasi wisata edukasi, pusat distribusi pangan untuk kelompok rentan, serta motor penggerak ekonomi usaha mikro kecil dan menengah di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dengan begitu, manfaatnya tidak hanya terbatas pada ketersediaan pangan, tetapi juga berdampak pada peningkatan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat.
Filosofi Jawa dalam Lumbung Mataraman
Salah satu keistimewaan dari Lumbung Mataraman adalah keterkaitannya dengan filosofi Jawa yang berbunyi “nandur opo sing dipangan, mangan opo sing ditandur”. Jika diterjemahkan secara sederhana, ungkapan ini berarti menanam apa yang dimakan dan makan apa yang ditanam.
Akan tetapi, maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar aktivitas menanam dan mengonsumsi hasil panen.
Setidaknya ada tiga poin penting yang terkandung dalam filosofi ini, antara lain:
Kemandirian Pangan
Filosofi ini menekankan pentingnya setiap keluarga memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Dengan memanfaatkan pekarangan rumah, masyarakat bisa menanam sayuran, buah, atau tanaman lain yang menjadi konsumsi sehari-hari.
Pemanfaatan Sumber Daya
Bagian “nandur opo sing dipangan” memberi dorongan agar menanam jenis pangan yang benar-benar dibutuhkan. Hal ini membuat pemanfaatan lahan lebih tepat guna dan hasilnya langsung bermanfaat bagi keluarga.
Hasil dan Nilai Tambah
Sementara itu, “mangan opo sing ditandur” bermakna mengonsumsi hasil dari tanaman yang ditanam. Jika ada hasil panen berlebih, maka bisa dijual untuk menambah penghasilan keluarga. Dengan begitu, filosofi ini juga memiliki dimensi ekonomi yang nyata.
Selain itu, filosofi tersebut juga dapat diartikan lebih luas lagi. Nandur menggambarkan sebuah proses kehidupan yang tidak bisa dijalani seorang diri, melainkan memerlukan gotong royong dan kerja sama.
Sementara itu, nandur kanggo dipangan dapat dipahami sebagai ajakan untuk merawat alam dengan jujur dan bertanggung jawab.
Filosofi ini juga menekankan pentingnya menggunakan daya dan upaya sendiri untuk bertahan hidup, terutama di tengah situasi sulit.
Relevansi Lumbung Mataraman di Masa Kini
Di tengah tantangan ketahanan pangan global, nilai-nilai yang terkandung dalam Lumbung Mataraman tetap relevan untuk dijalankan.
Program ini mengajarkan bahwa dengan memaksimalkan potensi lokal dan mengelola sumber daya secara bijaksana, masyarakat bisa menjaga ketersediaan pangan yang adil serta berkelanjutan.
Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan kekayaan budaya dan keragaman hayati yang dimilikinya, menjadi salah satu wilayah yang mampu menunjukkan bagaimana konsep kearifan lokal dapat menjadi solusi nyata dalam mewujudkan kemandirian pangan.
Tak Sekadar Istilah
Jadi kesimpulannya, Lumbung Mataraman bukan sekadar istilah, melainkan sebuah gerakan berbasis masyarakat yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu.
Program ini tidak hanya berfokus pada pemanfaatan pekarangan untuk budidaya, tetapi juga sarat dengan nilai filosofi Jawa yang mendalam. Filosofi “nandur opo sing dipangan, mangan opo sing ditandur” menjadi pedoman hidup yang mengajarkan pentingnya kemandirian, pemanfaatan sumber daya, dan gotong royong dalam menjaga ketahanan pangan.
Dengan berbagai manfaatnya, maka Lumbung Mataraman juga berfungsi untuk memperkuat kemandirian, perekonomian serta melestarikan nilai-nilai budaya di masyarakat.
Dan hingga kini, konsep ini tetap hidup serta menjadi salah satu warisan penting bagi masyarakat Yogyakarta maupun bangsa Indonesia secara umum.***