
KabarJawa.com – Menyelami samudra kearifan lokal Jawa seolah tidak pernah ada habisnya. Budaya ini mewariskan ribuan petuah bijak yang dirangkai dalam kalimat-kalimat singkat, namun memiliki daya ledak makna yang luar biasa.
Di antara sekian banyak nasihat leluhur yang masih sering terdengar hingga kini, ada satu ungkapan yang berfungsi sebagai rem sekaligus kompas moral bagi manusia. Ungkapan tersebut berbunyi “Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka”.
Kalimat ini bukan sekadar permainan rima kata, melainkan merupakan filosofi mendalam yang menjadi pegangan hidup agar kita selamat di dunia maupun akhirat.
Lantas, apa sebenarnya pesan tersembunyi di balik untaian kata tersebut? Mari kita kupas tuntas maknanya satu per satu.
Bahaya Merasa Paling Pintar
Bagian pertama dari filosofi ini, “Aja Kuminter Mundak Keblinger”, menyoroti sisi intelektual dan ego manusia. Dalam bahasa Jawa, ada perbedaan rasa bahasa yang tajam antara kata pinter (pintar) dan kuminter.
Jika pinter adalah sifat cerdas yang sesungguhnya, maka kuminter memiliki makna peyoratif, yaitu sikap “sok pintar”, menggurui, atau merasa dirinya paling tahu segalanya.
Berdasarkan laman resmi STAI Al Hidayah Bogor, diketahui bahwa ungkapan ini bermakna peringatan keras agar seseorang jangan merasa terlalu pandai. Mengapa? Karena sikap merasa paling tahu justru akan membawa seseorang pada kondisi keblinger.
Keblinger dapat diartikan sebagai tersesat, salah arah, atau kehilangan pegangan. Ibaratnya saat seseorang sudah merasa gelas ilmunya penuh, ia akan menutup diri dari saran, kritik, dan ilmu baru.
Akibatnya, ia justru akan tertinggal, salah mengambil keputusan, dan akhirnya tersesat oleh keangkuhannya sendiri. Filosofi ini mengajarkan kita untuk tidak mudah merendahkan orang lain dan selalu menghargai pendapat siapa pun, karena di atas langit masih ada langit.
Petaka Akibat Ketidakjujuran
Bagian kedua, “Aja Cidra Mundak Cilaka”, berbicara tentang integritas dan moralitas. Kata Cidra berarti ingkar janji, curang, berbohong, atau berkhianat. Sedangkan Cilaka berarti celaka, sengsara, atau menemui bencana.
Pesan ini sangat lugas yaitu jangan suka berbuat curang jika tidak ingin hidupmu celaka. Leluhur Jawa sangat percaya pada hukum sebab-akibat.
Siapa pun yang menanam ketidakjujuran, pasti akan menuai badai kesulitan di kemudian hari. Orang yang gemar mengambil jalan pintas dengan cara licik mungkin akan mendapatkan keuntungan sesaat, namun pada akhirnya, tindakan itu akan menjadi bumerang yang menghancurkan dirinya sendiri.
Relevansi sebagai Obat Penyakit Hati di Era Modern
Jika kita tarik ke konteks masa kini, filosofi ini terasa semakin relevan, bahkan mendesak untuk diterapkan kembali. Di era modern yang serba cepat ini, kecenderungan orang untuk bersikap kuminter dan berbuat cidra semakin tinggi.
Media sosial sering kali menjadi panggung bagi banyak orang untuk merasa paling benar, sementara persaingan hidup yang keras kerap menggoda orang untuk melakukan kecurangan demi materi.
Menerapkan nilai “Aja Kuminter” di zaman sekarang berarti kita harus memiliki kerendahan hati intelektual. Kita harus berani mengakui bahwa kita tidak tahu segalanya dan selalu terbuka untuk belajar hal baru. Sikap ini akan menyelamatkan kita dari kejumawaan yang memalukan.
Sementara itu, memegang teguh prinsip “Aja Cidra” berarti menjaga amanah dan kejujuran di tengah gempuran godaan korupsi atau manipulasi.
Dengan bersikap jujur, seseorang tidak hanya akan selamat dari jerat hukum atau sanksi sosial, tetapi juga akan menjadi “kaya raya” secara moral. Hati yang tenang tanpa rasa was-was adalah kekayaan yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Bukan Sekadar Pepatah
Jadi kesimpulannya, arti mendalam dari pepatah Jawa “Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka” adalah sebuah pengingat abadi tentang keseimbangan hidup.
Pepatah ini mengajarkan kerendahan hati agar kita tidak tersesat dalam kesombongan, serta mengajarkan integritas agar kita terhindar dari kehancuran akibat ketidakjujuran.
Inilah kebijaksanaan sejati yang patut dijadikan pedoman, agar hidup kita tidak hanya sukses secara materi, tetapi juga mulia secara budi pekerti.***