Sejarah Jenang Abang Putih yang Selalu Hadir dalam Tradisi Jawa, Asal-usul dan Maknanya

Bagikan :
Sejarah jenang abang putih dalam tradisi Jawa, asal-usul, makna filosofis, serta perannya dalam selametan dan ritual adat. (Gemini AI)
Sejarah jenang abang putih dalam tradisi Jawa, asal-usul, makna filosofis, serta perannya dalam selametan dan ritual adat. (Gemini AI)

KabarJawa.com – Jenang abang putih merupakan salah satu sajian tradisional yang hampir tidak pernah absen dalam berbagai ritual masyarakat Jawa.

Hidangan berupa bubur merah dan putih ini bukan sekadar makanan, melainkan simbol yang sarat makna tentang asal-usul kehidupan, doa keselamatan, hingga penghormatan kepada orang tua.

Dalam berbagai upacara adat seperti mitoni, wilujengan lairan, brokohan, wetonan, hingga sejumlah tradisi tolak bala, jenang abang putih selalu hadir sebagai bagian dari sesaji maupun hidangan selametan. Keberadaannya mencerminkan kekayaan filosofi budaya Jawa yang diwariskan lintas generasi.

Baca juga  Filosofi Pohon Sawo Kecik di Halaman Rumah Orang Jawa: Simbol Kebaikan dan Jejak Perjuangan Diponegoro

Sejarah Jenang Abang Putih dalam Tradisi Jawa

Tidak terdapat catatan sejarah yang secara pasti menjelaskan kapan jenang abang putih pertama kali dibuat.

Namun, berbagai penelitian budaya menyebut tradisi tersebut telah berkembang sejak lama sebagai bagian dari budaya selametan masyarakat Jawa.

Tradisi selametan sendiri merupakan hasil perkembangan kebudayaan yang mengalami proses akulturasi dari berbagai unsur kepercayaan lokal, Hindu-Buddha, hingga Islam.

Ketika Islam berkembang di Pulau Jawa, tradisi menyajikan jenang tidak ditinggalkan, melainkan dipertahankan dengan penyesuaian pada doa-doa dan tata cara pelaksanaannya.

Penelitian Imam Baehaqie yang diterbitkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjelaskan bahwa jenang abang putih termasuk salah satu jenis jenang yang memiliki makna semiotik paling penting dalam tradisi wilujengan lairan bayi atau selamatan kelahiran masyarakat Jawa.

Dengan demikian, jenang abang putih bukan sekadar kuliner tradisional, tetapi bagian dari sistem simbol dalam ritual kehidupan (life cycle rituals) masyarakat Jawa.

Makna Filosofis Jenang Abang Putih

Warna merah dan putih pada jenang bukan dipilih tanpa alasan. Dalam kajian etnolinguistik yang dilakukan Imam Baehaqie, kedua warna tersebut melambangkan proses awal kehidupan manusia.

Baca juga  Peringati Hari Kartini di Gunungkidul: Bupati hingga Panewu Ikut Peragaan Busana Adat Dan Flashmob Tari Tradisional

Jenang putih melambangkan benih ayah (sperma), jenang merah melambangkan benih ibu (ovum) dan jenajng yang disajikan dalam satu wadah Simbol bersatunya kedua benih hingga tercipta kehidupan baru.

Penyatuan kedua warna tersebut menggambarkan bahwa setiap manusia berasal dari perpaduan kasih sayang ayah dan ibu.

Oleh sebab itu, jenang abang putih juga mengandung pesan moral agar seorang anak senantiasa menghormati dan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Selain melambangkan asal-usul kehidupan manusia, jenang abang putih memiliki sejumlah nilai filosofis yang masih dijaga dalam masyarakat Jawa hingga saat ini. Di antaranya:

1. Simbol Rasa Syukur

Jenang disajikan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas keselamatan, kesehatan, dan kehidupan yang diberikan.

2. Doa Keselamatan

Dalam tradisi selametan, jenang menjadi media simbolik untuk memohon perlindungan, keselamatan, serta keberkahan bagi keluarga maupun masyarakat.

3. Lambang Keseimbangan Hidup

Perpaduan warna merah dan putih menggambarkan keseimbangan dua unsur berbeda yang saling melengkapi. Filosofi ini mengajarkan pentingnya harmoni dalam menjalani kehidupan.

Baca juga  Gua Siluman, Tempat Bersejarah di Jogja yang Kini Dikenal sebagai Pesanggrahan

4. Pengingat Asal-usul Manusia

Jenang abang putih mengingatkan bahwa setiap manusia lahir melalui peran ayah dan ibu sehingga memiliki kewajiban untuk menghormati keduanya.

Hingga kini, jenang abang putih masih menjadi bagian penting dalam berbagai ritual adat Jawa. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Mitoni (Tingkeban), yakni upacara tujuh bulan kehamilan.
  • Wilujengan lairan bayi, yaitu selamatan setelah kelahiran bayi.
  • Brokohan, sebagai ungkapan syukur atas kelahiran anak.
  • Wetonan, peringatan hari kelahiran menurut kalender Jawa.
  • Selametan keluarga, seperti pindah rumah atau hajatan tertentu.
  • Ritual tolak bala, termasuk variasi jenang sengkala di sejumlah daerah.

Meskipun tata cara penyajiannya dapat berbeda di setiap wilayah, makna utamanya tetap berkaitan dengan doa, keselamatan, dan harapan akan kehidupan yang baik.***

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Kesalahan Penulisan Aksara Jawa di Kantor Disdikbud Jateng Jadi Sorotan, Begini Fakta dan Evaluasinya
Mengenal Aksara Swara (A, I, U, E, O): Pengertian, Ciri-ciri dan Fungsinya
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya