
KabarJawa.com – Masyarakat Jawa memang dikenal memiliki banyak tradisi yang sarat makna. Salah satunya adalah kebiasaan yang sering terlihat usai bersalaman, yaitu meletakkan tangan di dada.
Sekilas, gestur ini nampak sederhana. Namun, di balik itu, tersimpan nilai budaya dan filosofi yang mendalam.
Gerakan tangan ini juga tak hanya berlaku di momen tertentu saja, tetapi masih bisa ditemui dalam berbagai acara, baik di desa maupun di kota.
Mulai dari hajatan, pertemuan resmi, hingga silaturahmi sehari-hari. Lantas, apa sebenarnya arti dari kebiasaan ini?
Alasan Orang Jawa Meletakkan Tangan di Dada Usai Jabat Tangan
Meletakkan tangan di dada setelah salaman merupakan simbol penghormatan sekaligus pengakuan terhadap keberadaan jiwa atau roh dalam diri setiap individu.
Dalam pandangan masyarakat Jawa, setiap orang tidak hanya dihormati secara fisik, tetapi juga secara batiniah.
Tradisi ini berakar dari nilai budaya dan kepercayaan masyarakat Jawa yang mengutamakan sopan santun dalam setiap interaksi.
Selain itu, meletakkan tangan di dada juga dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur dan penghargaan yang mendalam atas pertemuan yang terjadi.
Berdasarkan laman Unuha, diketahui bahwa jabat tangan memang menjadi wujud komunikasi nonverbal yang menyimpan nilai-nilai budaya.
Dengan demikian, dapat diartikan pula bahwa gerakan yang dilakukan itu bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah bentuk penghormatan yang tulus.
Hubungan dengan Unggah-Ungguh Jawa
Dalam budaya Jawa, ada konsep unggah-ungguh, yaitu aturan tata krama dan sopan santun yang harus dijunjung tinggi dalam pergaulan.
Unggah-ungguh mencakup cara berbicara, bersikap, hingga gerak tubuh, sesuai dengan usia, kedudukan, maupun hubungan sosial seseorang.
Meletakkan tangan di dada setelah bersalaman bisa dianggap sebagai salah satu bentuk nyata dari unggah-ungguh tersebut.
Melalui gestur ini, masyarakat Jawa ingin menunjukkan bahwa interaksi sosial harus disertai dengan rasa hormat dan ketulusan hati.
Kebiasaan yang Masih Bertahan di Era Modern
Walaupun zaman terus berubah dan arus modernisasi kian kuat, kebiasaan ini masih bisa ditemui di banyak tempat.
Di desa-desa, terutama saat acara besar seperti hajatan, perayaan, atau kegiatan keagamaan, masyarakat masih kerap melakukannya.
Bahkan di perkotaan, meski lebih jarang, gestur meletakkan tangan di dada usai bersalaman tetap muncul dalam momen-momen tertentu.
Hal inilah yangkemudian membuktikan bahwa nilai budaya yang diwariskan leluhur tetap terjaga dan tidak mudah terkikis oleh perkembangan zaman.
Sarat Makna Filosofi
Jadi kesimpulannya, jawaban dari pertanyaan mengapa orang Jawa meletakkan tangan di dada setelah salaman adalah karena tradisi ini sarat makna filosofi.
Tak hanya simbol sopan santun, melainkan juga penghormatan, pengakuan terhadap jiwa sesama, dan wujud ketulusan dalam menjalin hubungan sosial.
Gestur ini kemudian menjadi bukti bahwa budaya Jawa memandang interaksi manusia bukan hanya dari sisi lahiriah, tetapi juga batiniah. Inilah alasan mengapa kebiasaan ini tetap bertahan hingga kini, seolah tidak lekang oleh waktu.***