
KabarJawa.com– Hangatnya suasana Idulfitri 1447 Hijriah terasa di Taman Budaya Gunungkidul, Rabu (8/4/2026). Di tengah balutan kebersamaan, Sri Sultan Hamengkubuwono X hadir bersama Paku Alam X untuk menyapa masyarakat dan jajaran Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.
Momentum ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi titik awal untuk meneguhkan kembali nilai kejujuran, keadilan, dan kehormatan dalam kehidupan bermasyarakat.
Pidato Sri Sultan HB X dalam Silaturahmi Idulfitri di Gunungkidul
Sejak langkah pertama memasuki lokasi acara, Sultan langsung menegaskan arah moral yang ingin ia tanamkan.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memaknai Idulfitri sebagai proses kembali ke fitrah, bukan hanya secara spiritual, melainkan juga dalam tindakan nyata sehari-hari. Ia menempatkan kejujuran sebagai fondasi utama dalam membangun masa depan yang bermartabat.
Dalam pidatonya yang disampaikan dengan penuh ketegasan, Sultan mengarahkan perhatian kepada para pemuka agama dan pendidik.
Ia meminta mereka menjadikan masjid dan lembaga pendidikan sebagai pusat pembentukan karakter bangsa. Bahkan, ia memberikan pesan konkret, setiap khotbah dan pengajaran harus menyisipkan nilai cinta tanah air.
“Setidaknya lima menit, sisipkan pesan tentang cinta bangsa,” tegasnya, menekankan pentingnya integrasi antara nilai keagamaan dan kebangsaan.
Sultan juga mengangkat filosofi Islam sejati yang menempatkan dialog dan musyawarah sebagai jalan utama dalam menyelesaikan persoalan.
Ia menolak pendekatan konfrontatif yang kerap memicu perpecahan. Menurutnya, masyarakat harus menghidupkan kembali tradisi berdialog untuk menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman.
Di tengah derasnya arus informasi, Sultan tidak menutup mata terhadap ancaman disinformasi. Ia secara khusus menyoroti pentingnya prinsip tabayun, yakni memeriksa kebenaran sebelum mempercayai dan menyebarkan informasi.
Ia mengingatkan bahwa teknologi informasi telah membuka ruang luas bagi penyebaran ujaran kebencian. Jika masyarakat tidak berhati-hati, kondisi ini dapat menggerus kualitas berpikir bangsa.
“Penyebaran ujaran kebencian yang terus direproduksi bisa menjadikan kita bangsa yang pendek akal,” ujarnya dengan nada serius.
Pernyataan tersebut menjadi peringatan keras sekaligus refleksi. Sultan mengajak masyarakat untuk tidak sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi juga penjaga kualitas kebenaran.
Ia menegaskan bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana amanat konstitusi, harus dimulai dari kesadaran individu dalam menyaring informasi.
Sinergi Pembangunan untuk Kesejahteraan Rakyat
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menyambut kehadiran Gubernur DIY dengan penuh apresiasi. Endah Subekti Kuntariningsih menyampaikan terima kasih atas dukungan nyata dari Pemerintah Provinsi DIY yang selama ini mengalir ke berbagai sektor pembangunan.
Ia menegaskan bahwa dukungan tersebut menjadi energi penting untuk mempercepat peningkatan layanan publik dan pembangunan infrastruktur.
Dalam pidatonya, ia juga mengaitkan komitmen pemerintah daerah dengan visi besar Soekarno dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat.
“Kami terus berkomitmen memperbaiki nasib rakyat, terutama dalam pemenuhan kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, papan, pendidikan, dan kebudayaan,” ujarnya penuh optimisme.
Saat ini, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul memfokuskan pembangunan pada penguatan ekonomi kerakyatan. Mereka mendorong sektor pariwisata berbasis masyarakat agar mampu memberikan dampak langsung bagi warga.
Selain itu, pemerintah juga menggenjot pembangunan infrastruktur dengan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat setempat.
Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga pada pemerataan dan keberlanjutan.
Acara silaturahmi ini tidak sekadar menjadi seremoni tahunan. Para pemimpin daerah dan masyarakat memanfaatkannya sebagai ruang untuk menyatukan visi dan memperkuat koordinasi.
Mereka menyadari bahwa tantangan ke depan semakin kompleks, mulai dari disrupsi digital hingga kebutuhan pembangunan yang semakin meningkat.
Melalui momentum Idulfitri, seluruh pihak berkomitmen untuk memperkuat sinergi antara pemerintah provinsi dan kabupaten. Mereka ingin memastikan bahwa setiap kebijakan mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata. (ef linangkung)