
KabarJawa.com— Laporan aktivitas vulkanik Gunung Merapi periode 21–27 November 2025 kembali menunjukkan dinamika.
Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mengamati adanya sedikit perubahan morfologi pada kubah barat daya.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menegaskan bahwa aktivitas Merapi masih berada pada fase erupsi efusif dengan status Siaga (Level III).
Petugas pengamatan Gunung Merapi melaporkan bahwa cuaca di sekitar puncak gunung cenderung cerah pada pagi dan malam hari, sementara siang hingga sore hari kabut tebal menutupi lereng.
“Dalam periode ini, Merapi tampak mengeluarkan asap putih bertekanan lemah dengan ketinggian bervariasi, mulai dari 75 hingga 600 meter,” ujarnya.
Selain itu, aktivitas guguran dan awan panas meningkat cukup signifikan. BPPTKG mencatat lima kali awan panas guguran yang meluncur maksimum 2.000 meter ke arah barat daya, tepatnya menuju hulu Kali Krasak dan Bebeng.
Aktivitas guguran lava juga terlihat jelas: 42 kali mengarah ke Kali Krasak, 30 kali mengarah ke Kali Bebeng, dan 12 kali menuju Kali Sat/Putih, semuanya dengan jarak luncur maksimal 2.000 meter.
Perubahan Morfologi Kubah Barat Daya Gunung Merapi
Analisis foto udara dan kamera pengamatan di Stasiun Ngepos serta Babadan2 mempertegas bahwa kubah barat daya mengalami sedikit perubahan morfologi.
Perubahan ini terjadi akibat penambahan volume kubah serta intensitas guguran lava yang berlangsung sepanjang pekan.
Sementara itu, kubah tengah tidak menunjukkan perubahan morfologi, yang menandakan stabilitas pada sektor tersebut.
Berdasarkan foto udara tanggal 30 Oktober 2025, BPPTKG mencatat volume kubah barat daya sebesar 4.308.700 m³, sedangkan Kubah Tengah mencapai 2.368.800 m³.
Jaringan seismik yang terpasang di sekitar Merapi merekam aktivitas kegempaan yang lebih tinggi dibanding pekan sebelumnya.
Dalam sepekan, tercatat 5 gempa Awan Panas Guguran (APG), 2 gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 426 gempa Fase Banyak (MP), 1 gempa Low Frequency (LF), 636 gempa Guguran (RF) dab 10 gempa Tektonik (TT)
“Pola kegempaan tiga bulan terakhir memperlihatkan tren suplai magma yang masih aktif dan berpotensi memicu awan panas guguran dalam wilayah potensi bahaya, ” tuturnya.
Instrumen pemantauan deformasi berupa EDM dan GPS menunjukkan kondisi relatif stabil. Jarak tunjam EDM dari titik BAB0 menuju reflektor RB2 tercatat pada kisaran 3.840,444 – 3.840,446 meter, sementara baseline GPS Labuhan–Jrakah berada pada rentang 7.108,13 – 7.108,14 meter.
Pada minggu ini, hujan turun di beberapa pos pengamatan. Intensitas tertinggi tercatat pada 23 November 2025 di Pos Babadan, yakni 14,92 mm/jam selama 142 menit. Meski demikian, tidak ada laporan terkait aliran lahar di sungai-sungai berhulu Merapi.
Status Gunung Merapi
BPPTKG menyimpulkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi berupa erupsi efusif, sehingga status Siaga (Level III) tetap berlaku.
Suplai magma masih berlangsung, sehingga potensi awan panas guguran tetap tinggi.
Potensi bahaya berada pada wilayah berikut.
- Sungai Boyong: maksimal 5 km
- Sungai Bedog, Krasak, Bebeng: maksimal 7 km
- Sungai Woro: maksimal 3 km
- Sungai Gendol: maksimal 5 km
Jika terjadi letusan eksplosif, material lontaran dapat mencapai radius 3 km dari puncak.
BPPTKG mengeluarkan rekomendasi penting kepada seluruh pemangku kepentingan pemerintah Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten untuk meningkatkan mitigasi, termasuk penguatan kapasitas warga dan kesiapan sarana evakuasi.
“Jika terjadi perubahan signifikan dalam aktivitas gunung, BPPTKG akan segera memperbarui status dan informasi resmi,” ungkapnya. (ef linangkung)