
KabarJawa.com— Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada kembali menorehkan sejarah dalam dunia akademik nasional.
Dekan Fisipol UGM, Dr. Wawan Mas’udi, resmi menjadi Ketua Forum Dekan Ilmu-Ilmu Sosial (FORDEKIIS) periode 2025–2027.
Pelantikan berlangsung di Auditorium Fisipol UGM dan dihadiri oleh 41 dekan dari berbagai universitas di Indonesia, mulai dari wilayah barat hingga timur Nusantara.
Pelantikan ini bukan sekadar seremoni pergantian kepemimpinan, melainkan momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi antar fakultas ilmu sosial di tingkat nasional.
Forum ini menjadi ruang penting dalam menegaskan posisi sentral ilmu sosial di tengah derasnya arus perubahan akibat disrupsi teknologi.
Wawan Mas’udi: Ilmu Sosial Harus Relevan dan Adaptif
Dalam sambutannya, Dr. Wawan Mas’udi mengucapkan terima kasih atas kepercayaan untuk memimpin FORDEKIIS.
Ia menegaskan tekadnya untuk memperkuat relevansi ilmu sosial di tengah percepatan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi yang kian kompleks.
“FORDEKIIS unik karena memiliki ikatan sosial dan kekeluargaan yang kuat. Kita akan terus mengambil inspirasi, saling mendukung, dan berkolaborasi untuk kemajuan fakultas ilmu sosial di seluruh Indonesia,” ujar Wawan.
Ia menekankan bahwa ilmu sosial harus menegaskan perannya dalam rezim ilmu pengetahuan nasional. Menurutnya, dimensi sosial sering kali belum mendapat tempat sentral dalam perkembangan ilmu pengetahuan, padahal teknologi dan inovasi sesungguhnya bertumpu pada faktor sosial dan perilaku manusia.
“Forum ini akan menjadi ruang berbagi pengalaman dalam pengembangan kurikulum dan riset. Kami ingin memperkuat kerja sama lintas fakultas untuk menghadirkan ilmu sosial yang lebih adaptif dan relevan terhadap perubahan zaman,” tambahnya.
Sementara itu, Prof. Armin Arsyad dari Universitas Hasanuddin, selaku Dewan Kehormatan FORDEKIIS, menegaskan pentingnya forum ini sebagai wadah strategis untuk memperkuat kontribusi ilmu sosial bagi bangsa.
“FORDEKIIS adalah organisasi yang unik dan kuat. Bila bersinergi, dampaknya akan luar biasa bagi pengembangan keilmuan sosial dan kebijakan publik di Indonesia,” tegasnya.
Ilmu Sosial Kritis sebagai Fondasi Perubahan
Setelah pelantikan, kegiatan berlanjut dengan lokakarya dan sesi pemikiran bersama yang menghadirkan Prof. Vedi Hadiz, akademisi terkemuka di bidang ilmu sosial dan politik.
Dalam sesi bertajuk Tantangan dan Peluang Ilmu Sosial Kritis di Indonesia, Vedi mengajak seluruh peserta merefleksikan urgensi dan arah baru bagi ilmu sosial kritis di tanah air.
“Ilmu sosial kritis adalah tradisi yang mempertanyakan realitas. Ia tidak menerima begitu saja keadaan yang ada sekarang. Di sinilah keberanian intelektual diuji,” ujar Prof. Vedi dalam paparannya.
Diskusi berlangsung dinamis. Para dekan aktif menyampaikan pandangan dan pertanyaan seputar pengelolaan kebijakan publik, penguatan peran aparatur sipil, serta masa depan riset sosial di era digital.
Prof. Vedi menutup sesi dengan penegasan bahwa ilmu sosial hanya akan kuat bila diperjuangkan melalui advokasi, penelitian kolaboratif, dan tindakan nyata.
Rangkaian acara berlanjut dengan Focus Group Discussion (FGD) per komisi. Forum ini memiliki enam komisi utama yang berperan sebagai motor penggerak program kerja FORDEKIIS.
Setiap komisi memaparkan rencana strategis untuk setahun mendatang.
- Kolaborasi riset sosial antar universitas
- Penguatan kurikulum berbasis isu kontemporer
- Pengembangan jejaring internasional
- Pemberdayaan dosen dan mahasiswa
- Inisiatif publikasi dan advokasi kebijakan berbasis riset
Fisipol UGM juga memaparkan berbagai inovasi akademik yang telah berjalan. Prof. Poppy S. Winanti dan Dr. Fina Itriyati, selaku Wakil Dekan, menampilkan berbagai model kerja sama riset dan kolaborasi internasional yang telah berhasil memperkuat reputasi Fisipol sebagai laboratorium sosial terbuka bagi kolaborasi lintas institusi.
Pratikno: Ilmu Sosial Harus Mengawal STEM
Sebagai penutup, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Prof. Pratikno turut hadir secara daring.
Dalam refleksinya, ia mengingatkan pentingnya konsep Social Science with Adjective, yakni ilmu sosial yang terus beradaptasi terhadap konteks baru masyarakat.
“Studi politik dan sosial tidak bisa berhenti pada objek konvensional seperti otonomi daerah atau DPR. Ilmu sosial harus berkembang mengikuti fenomena baru seperti lingkungan, digitalisasi, dan kecerdasan buatan,” ungkapnya.
Ia juga menekankan bahwa ilmu sosial harus hadir mengawal perkembangan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) agar kemajuan teknologi tetap berpihak pada manusia dan keadilan sosial.
“FORDEKIIS harus menjadi garda depan yang memastikan ilmu sosial tidak tertinggal di tengah derasnya arus teknologi. Forum ini harus menjaga agar inovasi tetap berpihak pada kemandirian, kedaulatan, dan kesejahteraan bangsa,” tandasnya.
Rapat kerja FORDEKIIS 2025 menandai semangat baru ilmu sosial Indonesia. Di bawah kepemimpinan Dr. Wawan Mas’udi, forum ini berkomitmen menghadirkan ilmu sosial yang reflektif, kritis, dan kontekstual terhadap tantangan zaman. (ef linangkung)