
KabarJawa.com– Kabupaten Gunungkidul menghadapi tantangan baru dalam menjaga kualitas infrastruktur wilayah. Sejumlah jembatan mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan kondisi.
Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul mencatat sebanyak 38 jembatan mengalami kerusakan ringan hingga sedang.
Meski demikian, pemerintah memastikan seluruh jembatan tersebut masih aman bagi kendaraan maupun masyarakat.
Kondisi Jembatan di Gunungkidul
Kepala Bidang Bina Marga DPUPRKP Gunungkidul, Wadiyana, menjelaskan bahwa kondisi jembatan di Gunungkidul secara umum masih tergolong aman.
Dari total ratusan jembatan yang tersebar di berbagai kapanewon, sebanyak 96 jembatan tercatat dalam kondisi baik.
Ia mengatakan penilaian kondisi jembatan menggunakan skala 1 hingga 5. Skala lima menunjukkan kondisi rubuh total, sedangkan skala empat masuk kategori rusak berat. Hingga saat ini, tidak ada jembatan di Gunungkidul yang masuk dalam dua kategori tersebut.
“Skala penilaian jembatan adalah 1-5. Untuk skala lima rubuh total dan empat rusak berat, tapi di Gunungkidul tidak ada yang dalam kondisi ini. Adanya di skala 1-3 dengan jumlah 38 jembatan,” kata Wadiyana.
Meski belum memasuki tahap kritis, pemerintah daerah tidak ingin mengambil risiko. Penurunan kualitas struktur yang mulai tampak menjadi sinyal penting agar segera ada langkah penanganan.
Wadiyana menegaskan sebagian jembatan memang mulai mengalami penurunan kondisi akibat usia bangunan dan tingginya intensitas penggunaan. Namun, fungsi utama jembatan sebagai penghubung antarkawasan masih berjalan normal.
“Masih aman dilalui, tapi memang dari kondisi mulai ada penurunan, meski belum sampai di tingkat yang rusak berat,” ujarnya.
Di balik data kerusakan itu, ada denyut kehidupan masyarakat yang sangat bergantung pada keberadaan jembatan.
Jalur distribusi hasil pertanian, akses pendidikan, hingga konektivitas menuju kawasan wisata bertumpu pada infrastruktur tersebut.
Pada tahun 2026, Pemkab Gunungkidul menyiapkan anggaran sekitar Rp1,5 miliar untuk mendukung perbaikan jalan dan jembatan di berbagai wilayah.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang menjaga kualitas infrastruktur sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Jembatan Jonge jadi Prioritas Perbaikan
Salah satu proyek yang kini menjadi perhatian utama ialah rehabilitasi Jembatan Jonge di Kalurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu.
Jembatan ini memiliki peran strategis karena menjadi akses utama menuju sejumlah destinasi wisata unggulan di Gunungkidul.
“Salah satu contoh perbaikan jembatan dilakukan di Jonge di Kalurahan Pacarejo, Semanu,” ujar Wadiyana.
Setiap hari, kendaraan warga dan wisatawan melintasi jembatan tersebut untuk menuju kawasan wisata alam yang terkenal di wilayah selatan Gunungkidul.
Aktivitas itu membuat kondisi jembatan terus mengalami tekanan, sementara usia bangunan sudah tidak lagi muda.
Kepala DPUPRKP Gunungkidul, Rakhmadian Wijayanto, mengatakan pemerintah memprioritaskan rehabilitasi Jembatan Jonge karena posisinya sangat vital bagi mobilitas masyarakat dan pengembangan sektor pariwisata.
Jembatan tersebut menjadi jalur utama menuju destinasi wisata populer seperti Telaga Jonge dan Cave Tubing Kali Suci. Dua objek wisata itu selama ini menjadi magnet kunjungan wisatawan domestik maupun luar daerah.
Menurut Rakhmadian, perbaikan infrastruktur bukan hanya soal memperbaiki bangunan fisik, tetapi juga menjaga keberlanjutan ekonomi masyarakat yang hidup dari sektor wisata.
Pemerintah menargetkan proyek rehabilitasi Jembatan Jonge selesai pada Juni 2026. Proyek tersebut menelan anggaran sekitar Rp180 juta.
Dalam proses rehabilitasi, DPUPRKP tidak hanya mengganti struktur lama yang mulai menua, tetapi juga meningkatkan kapasitas jembatan agar lebih nyaman.
“Struktur jembatan sudah tua, makanya diganti dengan yang baru. Selain itu, kami juga menambah lebar jembatan dari empat meter menjadi lima meter,” kata Rakhmadian.
Penambahan lebar jembatan akan mengurangi risiko kemacetan dan meningkatkan keamanan pengguna jalan, terutama saat musim liburan ketika arus kendaraan wisata meningkat tajam.
Saat ini, progres pembangunan Jembatan Jonge telah mencapai sekitar 55 persen. Pekerjaan memasuki tahap pemasangan rangka sebagai persiapan pengecoran badan jembatan.
“Ini sudah mulai dipasang rangka untuk pengecoran jembatan. Nantinya juga akan diaspal, tapi menunggu pengecoran selesai terlebih dahulu,” ujarnya.
Di lokasi proyek, aktivitas pekerja terus berlangsung demi mengejar target penyelesaian. Suara mesin dan proses konstruksi menjadi penanda bahwa pemerintah berupaya memastikan akses masyarakat tetap terjaga.
Infrastruktur jadi Penopang Ekonomi dan Pariwisata
Bagi Gunungkidul, jembatan bukan sekadar penghubung jalan. Infrastruktur tersebut menjadi penggerak aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus penopang industri pariwisata yang terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
Wilayah-wilayah wisata di Gunungkidul sebagian besar berada di kawasan perbukitan dan pedesaan yang membutuhkan akses jalan memadai.
Oleh karena itu, keberadaan jembatan yang aman dan layak menjadi kebutuhan utama agar distribusi wisatawan dan aktivitas ekonomi berjalan lancar.
Pemerintah daerah pun memilih melakukan pemeliharaan rutin dan rehabilitasi bertahap untuk mencegah kerusakan lebih besar di masa mendatang. Langkah preventif ini lebih efektif daipasa menunggu infrastruktur mengalami kerusakan berat.
Dengan perbaikan yang terus berjalan, Pemkab Gunungkidul berharap kualitas infrastruktur tetap terjaga dan mampu mendukung mobilitas masyarakat secara optimal.
Di sisi lain, pembangunan jembatan juga akan memperkuat daya tarik wisata serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan. (ef linangkung)