
KabarJawa.com– Pemerintah Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat, menyatakan ketertarikannya pada dua program unggulan Pemkot Yogyakarta, yakni penataan kawasan Malioboro dan sistem kabel fiber optik bawah tanah.
Kunjungan kerja Pemerintah Kota Padang berlangsung penuh antusias pada Jumat (16/10) di Ruang Yudhistira, Balai Kota Yogyakarta.
Rombongan dipimpin langsung oleh Wakil Wali Kota Padang, H. Maigus Nasir. Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, bersama Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian (Diskominfosan) Kota Yogyakarta, Ignatius Tri Hastono, menyambut dengan hangat.
Kunjungan Pemkot Padang
Suasana pertemuan berlangsung akrab namun sarat makna. Dari wajah para tamu terlihat jelas rasa kagum terhadap keberhasilan Kota Yogyakarta mengubah wajah Malioboro menjadi lebih tertib, bersih, dan ramah bagi wisatawan.
Dalam sambutannya, Wawan Harmawan menjelaskan, penataan kawasan Malioboro tidak lahir secara instan. Prosesnya panjang dan membutuhkan pendekatan sosial yang kuat, terutama kepada para pelaku UMKM.
Pemerintah tidak hanya memindahkan mereka ke Teras Malioboro 1 dan 2, tetapi juga mengubah pola pikir agar mereka mendukung penataan.
“Mengubah mindset pedagang itu butuh waktu dan kesabaran. Kami terus melakukan sosialisasi agar mereka memahami bahwa penataan ini justru untuk meningkatkan kenyamanan dan nilai ekonomi kawasan,” ujar Wawan tegas.
Kini, wajah Malioboro berubah total. Jalur pedestrian menjadi lebih lega, deretan kios tampil seragam, dan kawasan terlihat lebih hidup tanpa semrawut.
Pemerintah juga memberikan insentif kepada para pedagang yang direlokasi. Selama hampir tiga tahun pertama, mereka bebas dari biaya sewa.
“Kami ingin mereka beradaptasi tanpa beban. Setelah itu, barulah kawasan ini tumbuh dengan sendirinya. Sekarang Teras Malioboro jadi destinasi baru, bahkan banyak wisatawan datang bukan hanya untuk belanja, tapi juga menikmati suasananya,” tambahnya.
Penataan Kabel Bawah Tanah
Sementara itu, Ignatius Tri Hastono, Kepala Diskominfosan Kota Yogyakarta, menuturkan bahwa salah satu kunci utama estetika Malioboro dan kawasan kota lain adalah penataan jaringan kabel fiber optik dan listrik ke bawah tanah.
“Kami bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk menata infrastruktur ini. Hasilnya, kini hampir seluruh kawasan kota bebas dari kabel bergelantungan yang merusak pemandangan,” jelasnya.
Ia menambahkan, penataan kabel bawah tanah tidak hanya memperindah tata kota, tetapi juga mendukung transformasi Yogyakarta menuju smart city. Infrastruktur telekomunikasi kini lebih tertib, aman, dan efisien dalam perawatan.
“Menata kabel fiber optik jauh lebih mudah dan murah dibandingkan kabel listrik bawah tanah. Tapi efeknya besar. Wajah kota langsung berubah, dan masyarakat lebih nyaman,” ujarnya
Inspirasi bagi Daerah Lain
Mendengar paparan itu, Wakil Wali Kota Padang, H. Maigus Nasir, tak kuasa menyembunyikan kekagumannya.
Ia menyebut keberhasilan Kota Yogyakarta sebagai inspirasi bagi daerah lain yang tengah menata kawasan perkotaan.
“Kami sangat terkesan. Penataan kawasan Malioboro benar-benar memberi pelajaran berharga bagi kami. Kami ingin Padang juga punya Malioboro-nya sendiri, ikon kota yang membanggakan dan menjadi daya tarik wisata baru,” ungkapnya.
Maigus Nasir mengungkapkan, Pemkot Padang tengah menyiapkan proyek besar revitalisasi kawasan pasar dan wisata kota, termasuk penataan kabel bawah tanah dan jalur pedestrian utama.
“Kami sudah belajar dari Yogyakarta. Jika semua berjalan sesuai rencana, pembangunan dimulai Januari tahun depan dan kami targetkan rampung pada 2027,” tuturnya.
Ia juga menyampaikan harapan agar Pemkot Yogyakarta berkenan berkunjung ke Padang ketika proyek tersebut rampung. Pihaknya ingin menunjukkan hasilnya dan berterima kasih karena Yogyakarta telah memberi inspirasi.
“Kolaborasi antar daerah seperti ini penting untuk kemajuan bersama,” pungkasnya.
Langkah-langkah inovatif Pemkot Yogyakarta memang layak menjadi contoh nasional. Program penataan kawasan Malioboro dan penataan kabel bawah tanah menjadi bukti bahwa keindahan kota tidak harus bertentangan dengan kemajuan teknologi.
Kini, Yogyakarta bukan sekadar kota wisata budaya, tetapi juga kota modern yang berwawasan estetika dan keberlanjutan. Setiap sudutnya menjadi saksi perubahan yang lahir dari keberanian untuk berinovasi.
Dengan semangat berbagi pengetahuan dan pengalaman, Kota Yogyakarta membuktikan diri sebagai laboratorium perkotaan berkelas nasional, tempat di mana tradisi dan modernitas berpadu harmonis.
Dari sinilah, inspirasi bagi kota-kota lain, termasuk Padang, terus lahir untuk Indonesia yang lebih tertata, maju, dan indah. (ef linangkung)