
KABARJAWA – Pemerintah Kota Yogyakarta resmi meluncurkan Sekolah Lansia Sembada Pagi bagi kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) RW 08 di Kelurahan Suryodiningratan, Kemantren Mantrijeron.
Acara peluncuran digelar di Royal Brongto Hotel pada Senin, 21 April 2025 dan diresmikan langsung oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo.
Dalam sambutannya, Hasto menekankan pentingnya peran lansia dalam kehidupan sosial masyarakat. Ia berharap, melalui program sekolah lansia ini, para warga usia lanjut dapat menjadi lebih mandiri, sejahtera, dan bahagia, sehingga tidak menjadi beban bagi keluarga maupun lingkungan sekitar.
Berdasarkan data, jumlah lansia di Yogyakarta mencapai sekitar 60.000 orang, dan 1.068 di antaranya tergolong tidak bisa beraktivitas secara mandiri.
“Lansia jangan sampai menjadi beban. Jika tidak diberi ilmu, mereka akan kesulitan mandiri,” tegas Hasto.
Ia juga mengungkapkan rencana Pemkot untuk mendorong pembentukan koperasi lansia, sebagai sarana pemberdayaan ekonomi dan produktivitas bagi warga usia lanjut.
Pemerintah akan terus memberikan dukungan sesuai dengan kemampuan daerah, dengan harapan koperasi ini dapat memberi manfaat yang signifikan.
Harapan Besar untuk Pemberdayaan Lansia
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk serta Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Yogyakarta, Retnoningtyas, menyampaikan bahwa usia harapan hidup warga Yogyakarta tergolong tinggi di tingkat nasional, yaitu mencapai rata-rata 75 tahun.
Fakta ini menunjukkan bahwa kelompok lansia masih memiliki potensi besar untuk tetap aktif dan produktif.
“Karena itu, pemerintah membentuk Sekolah Lansia agar mereka tidak menjadi beban, tetapi justru bisa menggali potensi yang dimiliki,” ujar Retnoningtyas.
Ia menambahkan bahwa kelompok BKL RW 08 Suryodiningratan dipilih karena merupakan salah satu kelompok terbaik di Kota Yogyakarta.
Pada tahun 2024, mereka meraih peringkat pertama dalam Lomba Bangga Kencana kategori Stratifikasi Paripurna Unggul tingkat kota. Oleh karena itu, pada tahun 2025 kelompok ini ditetapkan sebagai pilot project Sekolah Lansia Standar 1.
Pelaksanaan sekolah lansia ini menjadi langkah awal untuk menciptakan ruang belajar yang ramah dan bermakna bagi warga senior.
Kepala Sekolah Lansia, Siti Wahyuni, menyampaikan bahwa pertemuan kelas akan diadakan satu kali setiap bulan, tepatnya setiap hari Selasa pada minggu kedua, selama delapan kali dalam setahun.
“Semua kegiatan dibiayai dari APBD. Hari ini materi perdana adalah cara menghadapi lansia. Kami ingin seluruh peserta merasa bahagia mengikuti sekolah ini,” ujarnya.
Sebanyak 50 lansia telah terdaftar sebagai peserta angkatan pertama. Usia peserta termuda adalah 61 tahun, sementara yang tertua mencapai 85 tahun.Siti berharap, seluruh peserta dapat menjadi lebih mandiri dan tidak terlalu bergantung pada bantuan orang lain.
“Tujuan utama kami adalah agar para lansia bisa memperhatikan diri sendiri, menjadi pribadi yang kuat dan berdaya di usia senja,” pungkasnya.***