
KabarJawa.com— Di tengah riuh langkah wisatawan dan tawar-menawar yang bersahut-sahutan, Purbaya Yudhi Sadewa melangkah mantap menyusuri Teras Malioboro 1. Sri Sultan Hamengku Buwono X mendampingi langsung, bersama Hasto Wardoyo dan jajaran pejabat daerah.
Kunjungan pada Selasa (17/3/2026) itu bukan sekadar agenda seremonial. Purbaya membawa misi penting: melihat langsung denyut ekonomi rakyat sekaligus menjawab keraguan publik tentang kondisi pasar tradisional.
Kunjungan Menteri Purbaya
Langkah Purbaya berhenti di salah satu tenant pakaian tradisional. Ia memegang selembar kain lurik, memperhatikan motifnya, lalu memutuskan untuk mencoba. Momen hangat pun tercipta.
Sri Sultan tidak segan turun tangan. Ia membantu merapikan pakaian lurik yang dikenakan sang menteri. Interaksi itu memancing senyum pedagang dan pengunjung yang menyaksikan. Suasana terasa akrab, jauh dari kesan formal.
Purbaya kemudian membeli kaus khas Jogja dan beberapa pakaian lurik. Ia menyapa pedagang satu per satu, menanyakan harga, sekaligus memastikan aktivitas jual beli berjalan normal.
Rombongan bergerak menuju Pasar Beringharjo, ikon perdagangan tradisional di jantung kota Yogyakarta. Di dalam pasar, suasana semakin ramai. Aroma kain baru bercampur dengan hiruk-pikuk transaksi yang tak pernah benar-benar berhenti.
Di sini, Purbaya kembali berbelanja. Ia memilih beberapa baju untuk istrinya dan lima lembar kain batik tulis berwarna cokelat dan hitam. Sambil tersenyum, ia melontarkan candaan yang langsung mengundang tawa.
“Saya beli batiknya warna cokelat-hitam. Biasanya saya biru. Nanti netizen bilang batik saya cuma biru saja,” ujarnya ringan.
Canda itu mencairkan suasana. Namun di baliknya, tersimpan pesan kuat, aktivitas ekonomi rakyat tetap bergerak.
Kunjungan ini menjadi panggung pembuktian. Purbaya secara tegas menolak anggapan bahwa pasar tradisional kehilangan daya hidup.
Ia melihat langsung keramaian pengunjung dan tingginya perputaran uang di pasar. Ia bahkan menyebut angka perputaran yang mencapai triliunan rupiah sebagai indikator kuatnya aktivitas ekonomi.
“Kita mau lihat apakah benar pasar mati. Ternyata di sini masih ramai. Omzetnya tinggi, perputarannya bisa sampai Rp2 triliun,” tegasnya.
Ia juga membandingkan kondisi di berbagai daerah. Ia menyebut Tanah Abang dan pusat perdagangan di Bandung yang juga menunjukkan geliat serupa. Menurutnya, pasar-pasar tersebut tetap hidup dan aktif.
Harga Terjangkau, Daya Tarik Jogja
Selain memantau aktivitas, Purbaya juga menyoroti harga barang di Yogyakarta yang relatif lebih terjangkau dibandingkan kota besar lain.
Ia mengaku mendapatkan kain batik berkualitas dengan harga ratusan ribu rupiah, jauh lebih murah daripada harga di Jakarta. Faktor harga ini, menurutnya, menjadi daya tarik tersendiri yang menjaga perputaran ekonomi lokal tetap stabil.
Purbaya tidak hanya berbicara tentang pasar. Ia juga menegaskan kondisi ekonomi nasional secara keseluruhan.
Ia memastikan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Ia menyebut Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berada dalam kondisi sehat dan mampu menopang pertumbuhan.
“Siapa yang bilang ekonomi kurang baik? Ekonomi masih baik. Semuanya kencang, lari, ekspansi,” ujarnya tegas.
Ia mengakui bahwa pemulihan pasca perlambatan belum merata. Namun ia optimistis kondisi akan terus membaik seiring waktu.
Kunjungan Menteri Purbaya ke Teras Malioboro 1 dan Pasar Beringharjo memperlihatkan satu hal yang jelas. Ekonomi Indonesia tidak hanya hidup di angka statistik, tetapi juga di lorong-lorong pasar dan interaksi antara penjual dan pembeli. (ef linangkung)