
KABARJAWA – Suasana Malioboro yang biasanya riuh oleh aktivitas wisata dan transaksi pedagang mendadak hening. Deretan kios di Teras Malioboro menutup pintu rapat-rapat.
Para pedagang memilih mengosongkan lapaknya. Semua itu terjadi karena adanya demonstrasi besar bertajuk Jogja Memanggil yang digelar tepat di sekitar Gedung DPRD DIY, Senin, 1 September 2025.
Kepala BLUT Dinas Koperasi dan UMKM Kota Yogyakarta, Veronica Ambar Ismuwardani, menjelaskan bahwa penutupan sementara dilakukan untuk menjaga keamanan dan ketertiban.
Ia menegaskan bahwa keputusan itu bukan tanpa alasan. Pihaknya meminta seluruh tenant di Teras Malioboro 1, Teras Malioboro 2, dan Teras Malioboro Ketandan menutup lapak pada tanggal 1 September 2025.
“Langkah ini kami ambil demi keselamatan bersama,” katanya.
Pihak pengelola tidak hanya menginstruksikan penutupan, tetapi juga meminta setiap pedagang mengamankan barang dagangan dan peralatan. Veronica mengingatkan agar para tenant memastikan kios tetap rapi sebelum ditinggalkan.
“Kami mengimbau para pedagang menyimpan barang dagangan dengan aman, jangan ada yang tercecer, agar saat dibuka kembali tidak menimbulkan kerugian,” ujarnya.
Instruksi itu menciptakan kesibukan tersendiri. Para pedagang tampak sibuk mengemas dagangan sejak pagi. Kursi, meja, hingga hiasan etalase mereka rapikan. Sejumlah pedagang bahkan rela berjaga di depan pintu masuk, sesuai permintaan pengelola, untuk ikut mengawal keamanan.
Aksi Massa Jogja Memanggil
Demonstrasi Jogja Memanggil digelar tepat di jantung kota. Diperkirakan massa bergerak menuju Gedung DPRD DIY dengan membawa berbagai tuntutan. Arus kendaraan di kawasan Malioboro ikut terpengaruh.
Pengelola Teras Malioboro memilih bertindak cepat. Mereka tidak ingin risiko kericuhan berdampak pada pedagang kecil. Pihaknya meminta setidaknya dua orang laki-laki di setiap lantai berjaga secara sukarela.
“Kami ingin semua pihak ikut mendukung ketertiban,” terang Veronica.
Veronica berharap kondisi segera kondusif. Ia menegaskan bahwa penutupan hanya berlangsung sehari. Setelah situasi benar-benar aman, para pedagang dipersilakan membuka kembali lapak mereka. Dia percaya bahwa Yogyakarta akan tetap aman.
“Penutupan ini hanya bentuk kewaspadaan. Kalau situasi terkendali, lapak bisa dibuka lagi,” tegasnya.
Dalam surat edaran resminya, BLUT Dinas Koperasi dan UMKM menegaskan agar seluruh tenant tidak terprovokasi. Mereka mengajak pedagang tetap menjaga ketenangan, tidak terlibat dalam kerumunan, dan fokus menjaga dagangan.
“Kami minta semua pihak kondusif. Jika ada hal mendesak, pedagang bisa langsung menghubungi pengelola,” tulis edaran tersebut.