
KabarJawa.com – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi mengalami peningkatan dalam sepekan terakhir. BPPTKG mencatat ratusan gempa serta intensitas guguran lava yang meningkat selama periode 17–23 April 2026, dengan status gunung tetap berada pada level Siaga.
Selama periode pengamatan, Gunung Merapi teramati mengeluarkan asap putih dengan intensitas sedang hingga tebal. Ketinggian kolom asap berkisar antara 20 hingga 600 meter dari puncak, terutama terlihat jelas saat kondisi cuaca cerah pada pagi dan malam hari.
Petugas juga mencatat dua kejadian awan panas guguran yang meluncur hingga 1.800 meter ke arah barat daya, tepatnya menuju hulu Kali Krasak dan Kali Sat/Putih.
Selain itu, aktivitas guguran lava terjadi di beberapa sektor dengan rincian 10 kali ke arah Kali Boyong sejauh 2.000 meter, 57 kali ke arah Kali Krasak sejauh 2.000 meter, 25 kali ke arah Kali Bebeng sejauh 2.000 meter, dan 108 kali ke arah Kali Sat/Putih sejauh 2.500 meter. Data ini menunjukkan peningkatan dibandingkan periode sebelumnya.
Perubahan Kubah Lava dan Suhu
Hasil survei udara menggunakan drone pada 16 April 2026 menunjukkan perubahan morfologi di puncak. Volume Kubah Barat Daya tercatat menyusut sekitar 9.300 meter kubik menjadi 4.037.600 meter kubik.
Sementara itu, Kubah Tengah tidak mengalami perubahan volume dan tetap berada pada angka 2.368.800 meter kubik. Namun, suhu di Kubah Tengah meningkat sebesar 19,4 derajat Celsius hingga mencapai 218,6°C.
Kondisi ini mengindikasikan masih adanya suplai magma aktif dari dalam tubuh gunung.
BPPTKG mencatat peningkatan signifikan pada aktivitas kegempaan selama periode pengamatan. Tercatat 2 gempa Awan Panas Guguran (APG), 72 gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 557 gempa Fase Banyak (MP), 954 gempa Guguran (RF), serta 19 gempa Tektonik (TT).
Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan pekan sebelumnya dan menunjukkan tekanan magma di dalam gunung masih relatif tinggi.
Deformasi dan Potensi Bahaya
Pengukuran deformasi menggunakan metode EDM dan GPS menunjukkan pemendekan jarak sebesar 0,6 cm per hari. Nilai ini meningkat dibandingkan periode sebelumnya, menandakan adanya tekanan dari dalam tubuh gunung akibat pergerakan magma.
Fenomena ini sering digunakan sebagai indikator peningkatan aktivitas vulkanik.
Hujan dengan intensitas tinggi tercatat terjadi pada 21 April 2026, dengan curah mencapai 46,26 mm/jam selama 26 menit di Stasiun Labuhan.
Hingga kini belum dilaporkan adanya aliran lahar, namun kondisi tersebut meningkatkan potensi bahaya sekunder di sungai-sungai yang berhulu di Merapi.
Status dan Rekomendasi
Berdasarkan data visual dan instrumental, BPPTKG menetapkan status Gunung Merapi tetap pada level Siaga dengan karakter erupsi efusif.
Potensi bahaya meliputi guguran lava dan awan panas di sektor selatan–barat daya hingga 7 km, meliputi Kali Boyong, Bedog, Krasak, dan Bebeng. Sektor tenggara berpotensi terdampak hingga 5 km di Kali Gendol, serta 3 km di Kali Woro. Selain itu, lontaran material vulkanik dapat terjadi dalam radius 3 km dari puncak jika terjadi letusan eksplosif.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menyampaikan bahwa pemerintah daerah di wilayah Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten perlu memperkuat langkah mitigasi serta menyiapkan jalur evakuasi.
Masyarakat juga diminta untuk tidak beraktivitas di zona bahaya, mewaspadai awan panas, serta mengantisipasi potensi lahar saat terjadi hujan.
Evaluasi terhadap status aktivitas akan dilakukan apabila terjadi perubahan signifikan.
Peningkatan aktivitas Gunung Merapi dalam sepekan terakhir menunjukkan dinamika vulkanik yang masih tinggi. BPPTKG terus melakukan pemantauan intensif untuk memastikan informasi perkembangan dapat disampaikan secara berkala kepada pemerintah dan masyarakat.