
KabarJawa.com — Gunung Merapi kembali meluncurkan awan panas guguran pada Senin (8/6/2026) siang. Peristiwa yang terjadi pukul 14.36 WIB itu menjadi pengingat bahwa aktivitas vulkanik Merapi masih tinggi meski kondisi visual puncak tertutup kabut saat kejadian berlangsung.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat awan panas tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 49,4 milimeter dan durasi 136,73 detik.
Karena puncak gunung tertutup awan, petugas belum dapat mengamati secara langsung arah maupun jarak luncur awan panas yang terjadi.
Hingga Senin sore, status Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga.
Kondisi ini membuat petugas pemantauan terus meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya guguran lava maupun awan panas susulan.
Aktivitas Seismik Masih Tinggi
Data pengamatan BPPTKG pada periode pukul 06.00 hingga 12.00 WIB menunjukkan aktivitas Merapi masih cukup intens.
Sedikitnya 35 kali gempa guguran tercatat selama enam jam pengamatan. Gempa tersebut memiliki amplitudo antara 2 hingga 471 milimeter dengan durasi 31,85 hingga 152,46 detik.
Petugas juga merekam tujuh kali gempa hybrid atau fase banyak yang umumnya berkaitan dengan pergerakan magma di dalam tubuh gunung.
Selain itu, dua gempa tektonik jauh turut terekam oleh jaringan seismograf yang memantau aktivitas Merapi.
Di tengah kondisi tersebut, guguran lava pijar masih terus terjadi.
Sebanyak 17 kali guguran lava teramati meluncur ke arah barat daya melalui alur Kali Sat, Kali Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum mencapai dua kilometer.
Aktivitas tersebut menunjukkan suplai magma dari dalam gunung masih berlangsung.
Awan Panas Masih Menjadi Ancaman Utama
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, meminta masyarakat tetap mematuhi seluruh rekomendasi yang telah ditetapkan.
“Aktivitas Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat harus menjauhi daerah potensi bahaya dan tidak melakukan aktivitas di kawasan yang berisiko terdampak guguran lava maupun awan panas,” ujarnya.
Awan panas guguran merupakan salah satu ancaman paling berbahaya dari Gunung Merapi.
Fenomena ini terjadi ketika material yang menumpuk di kubah lava kehilangan kestabilan lalu runtuh dan meluncur menuruni lereng dengan kecepatan tinggi.
Material yang terbawa tidak hanya berupa batuan dan pasir vulkanik, tetapi juga gas panas bersuhu tinggi yang dapat membahayakan siapa pun yang berada di jalurnya.
Zona Potensi Bahaya Merapi
| Wilayah | Potensi Jangkauan |
|---|---|
| Sungai Boyong | Maksimal 5 km |
| Sungai Bedog | Maksimal 7 km |
| Sungai Krasak | Maksimal 7 km |
| Sungai Bebeng | Maksimal 7 km |
| Sungai Woro | Maksimal 3 km |
| Sungai Gendol | Maksimal 5 km |
BPPTKG juga mengingatkan bahwa material vulkanik dari letusan eksplosif berpotensi terlontar hingga radius tiga kilometer dari puncak.
Warga Diminta Hindari Zona Rawan
Pemerintah bersama BPPTKG kembali mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apa pun di kawasan yang telah ditetapkan sebagai daerah potensi bahaya.
Selain ancaman awan panas, warga yang tinggal di sekitar alur sungai berhulu di Merapi juga diminta mewaspadai lahar hujan.
Risiko tersebut dapat meningkat ketika hujan turun di kawasan puncak karena material vulkanik yang menumpuk berpotensi terbawa aliran air menuju wilayah hilir.
Abu vulkanik juga tetap menjadi ancaman yang harus diantisipasi apabila terjadi peningkatan aktivitas erupsi dalam waktu dekat.
Pemantauan intensif dilakukan selama 24 jam seahri oleh BPPTKG bersama Badan Geologi dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Meski aktivitas masyarakat di sebagian lereng Merapi masih berjalan normal, kemunculan awan panas pada siang hari menunjukkan gunung api yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah itu belum sepenuhnya tenang.
Karena itu, kewaspadaan masyarakat serta kepatuhan terhadap rekomendasi resmi menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko bencana apabila aktivitas Merapi kembali meningkat.