
KabarJawa.com – Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik dengan meluncurkan empat kali awan panas guguran dalam rentang waktu kurang dari lima jam, mulai Jumat (3/7/2026) malam hingga Sabtu (4/7/2026) dini hari. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) memastikan seluruh awan panas mengarah ke sektor barat daya, kawasan yang selama ini menjadi jalur utama potensi bahaya.
Awan panas pertama terjadi pada Jumat pukul 23.07 WIB dengan jarak luncur mencapai 2.000 meter ke arah hulu Kali Sat/Putih. BPPTKG mencatat amplitudo maksimum 42,26 milimeter dengan durasi 202,75 detik.
Aktivitas Merapi berlanjut pada Sabtu dini hari. Awan panas kedua meluncur pada pukul 01.32 WIB sejauh 1.800 meter menuju hulu Kali Boyong dan Kali Krasak. Selanjutnya, awan panas ketiga terjadi pukul 01.39 WIB dengan jarak luncur 1.600 meter ke arah yang sama. Merapi kembali memuntahkan awan panas pada pukul 03.51 WIB dengan jarak luncur sekitar 1.700 meter ke sektor barat daya.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, mengatakan rangkaian awan panas guguran tersebut menunjukkan suplai magma di dalam tubuh Merapi masih berlangsung sehingga aktivitas vulkanik tetap tinggi.
“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung dan kondisi tersebut masih dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam kawasan potensi bahaya,” kata Agus.
Selain empat kali awan panas guguran tersebut, BPPTKG juga mencatat aktivitas guguran lava yang masih sangat intens. Berdasarkan laporan pengamatan periode Jumat, 3 Juli 2026, petugas mengamati sebanyak 124 kali guguran, dengan 29 di antaranya meluncur ke arah Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, Kali Krasak, dan Kali Boyong. Jarak luncur maksimum guguran lava mencapai 2.000 meter.
Secara visual, asap kawah tampak berwarna putih dengan intensitas tipis setinggi 25 hingga 50 meter di atas puncak. Sementara itu, kegempaan Merapi masih didominasi gempa guguran dan gempa hybrid yang menandakan aktivitas magma di bawah permukaan masih aktif. Meski aktivitas Merapi kembali meningkat, BPPTKG masih mempertahankan status Gunung Merapi pada Level III atau Siaga.
Agus mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di kawasan potensi bahaya. Potensi guguran lava dan awan panas saat ini mengancam sektor selatan-barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal lima kilometer serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal tujuh kilometer. Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh tiga kilometer dan Sungai Gendol sejauh lima kilometer.
BPPTKG juga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman lahar, terutama saat hujan turun di kawasan puncak Merapi. Selain itu, warga diminta mengantisipasi kemungkinan hujan abu vulkanik apabila terjadi erupsi.
“Masyarakat diharapkan mematuhi seluruh rekomendasi yang telah ditetapkan dan tidak beraktivitas di daerah potensi bahaya demi keselamatan bersama,” ujar Agus.(ef linangkung)