
KabarJawa.com – Aktivitas Gunung Merapi masih terpantau tinggi sepanjang 8 hingga 14 Mei 2026. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat terjadinya awan panas guguran, guguran lava, hingga 1.264 gempa vulkanik dalam sepekan terakhir.
Meski intensitas kegempaan disebut sedikit menurun dibanding pekan sebelumnya, BPPTKG memastikan suplai magma di tubuh Merapi masih berlangsung dan berpotensi memicu erupsi susulan.
Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso mengatakan status Gunung Merapi hingga Jumat (15/5/2026) masih berada pada level “Siaga”.
“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya,” ujar Agus Budi Santoso dalam laporan resmi BPPTKG di Yogyakarta.
Awan Panas dan Lava Pijar Masih Dominan
Selama sepekan terakhir, asap putih terpantau keluar dari puncak Merapi dengan intensitas tipis hingga tebal. Tinggi kolom asap berkisar antara 50 meter hingga 500 meter dari puncak gunung.
Pada pagi hari saat cuaca cerah, aktivitas visual gunung terlihat cukup jelas dari sejumlah pos pengamatan. Namun menjelang siang hingga sore, kabut tebal kerap menutupi area puncak.
Di balik kepulan asap tersebut, aktivitas guguran material vulkanik terus terjadi.
BPPTKG mencatat tiga kali awan panas guguran meluncur ke arah hulu Kali Krasak dengan jarak luncur maksimal mencapai 2 kilometer. Aktivitas guguran lava bahkan lebih dominan.
Petugas merekam lima kali guguran lava ke arah Kali Boyong sejauh maksimal 2 kilometer. Sementara di sektor Kali Krasak terjadi 67 kali guguran lava. Aktivitas serupa juga tercatat sebanyak 16 kali menuju Kali Bebeng dan 58 kali ke arah Kali Sat/Putih.
Pada malam hari, pijaran lava masih beberapa kali terlihat dari lereng atas Merapi, terutama saat cuaca cerah dan angin tidak terlalu tebal membawa kabut.
Volume Kubah Lava Berubah
BPPTKG juga melakukan pemantauan menggunakan drone pada 7 Mei 2026 untuk melihat perkembangan kubah lava Merapi dari udara.
Hasil analisis menunjukkan volume Kubah Barat Daya berkurang sekitar 10.800 meter kubik menjadi 4.026.700 meter kubik akibat aktivitas guguran material lava.
Sementara volume Kubah Tengah tercatat relatif stabil di angka 2.368.800 meter kubik. Selain perubahan volume, suhu permukaan kawah juga mengalami dinamika.
Analisis termal memperlihatkan suhu Kubah Barat Daya meningkat menjadi 243 derajat Celsius atau naik sekitar 24,4 derajat Celsius dibanding pengukuran sebelumnya. Sebaliknya, suhu Kubah Tengah turun menjadi 213,7 derajat Celsius.
Perubahan suhu tersebut menjadi salah satu indikator penting untuk memantau pergerakan magma di bawah permukaan Merapi.
Ribuan Gempa Vulkanik Masih Terjadi
Dalam periode pengamatan 8–14 Mei 2026, jaringan seismik BPPTKG merekam total 1.264 gempa yang terdiri dari:
- 3 gempa awan panas guguran
- 43 gempa vulkanik dangkal
- 441 gempa fase banyak
- 768 gempa guguran
- 9 gempa tektonik
“Intensitas kegempaan pada periode pengamatan ini lebih rendah dibandingkan dengan intensitas kegempaan pada minggu sebelumnya,” tulis BPPTKG.
Meski demikian, aktivitas tersebut menunjukkan tekanan magma di tubuh gunung belum sepenuhnya mereda.
Warga Diminta Jauhi Zona Bahaya
BPPTKG meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas di wilayah potensi bahaya yang sudah ditetapkan. Ancaman guguran lava dan awan panas masih berpotensi terjadi di sektor selatan dan barat daya Merapi.
Wilayah yang masuk potensi bahaya meliputi:
| Wilayah Sungai | Potensi Bahaya |
|---|---|
| Kali Boyong | Maksimal 5 km |
| Kali Bedog | Maksimal 7 km |
| Kali Krasak | Maksimal 7 km |
| Kali Bebeng | Maksimal 7 km |
| Kali Woro | Maksimal 3 km |
| Kali Gendol | Maksimal 5 km |
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, meminta pemerintah daerah di sekitar Merapi terus memperkuat langkah mitigasi bencana. Pemerintah Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten diminta meningkatkan kapasitas masyarakat serta menyiapkan sarana dan prasarana evakuasi.
BPPTKG juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apa pun di wilayah potensi bahaya yang telah ditetapkan.
Selain ancaman awan panas guguran dan lava pijar, warga juga diminta mengantisipasi gangguan abu vulkanik yang sewaktu-waktu dapat terjadi akibat erupsi Merapi.
“Jika terjadi perubahan aktivitas Gunung Merapi yang signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali,” kata Agus Budi Santoso.