
KabarJawa.com– Meski status Merapi masih berada pada level Siaga (Level III), para ahli mencatat peningkatan aktivitas yang perlu mendapat perhatian serius.
Aktivitas tersebut menjadi pengingat bahwa proses vulkanik di dalam tubuh Merapi masih berlangsung dan berpotensi memicu bahaya di kawasan sekitar puncak.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santoso, menegaskan bahwa aktivitas vulkanik Merapi masih cukup tinggi dengan karakter erupsi efusif yang terus berlangsung.
“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya,” kata Agus Budi Santoso dalam laporan aktivitas Gunung Merapi periode 29 Mei hingga 4 Juni 2026.
Aktivitas Gunung Merapi Meningkat
Selama periode pengamatan, cuaca di sekitar Gunung Merapi umumnya cerah pada pagi dan malam hari. Namun, kabut kerap menyelimuti kawasan puncak pada siang hingga sore hari.
Asap putih tampak keluar dari kawah dengan intensitas tipis hingga tebal. Kolom asap itu membumbung setinggi 25 hingga 150 meter dari puncak gunung dengan tekanan lemah.
Pemandangan tersebut menjadi tanda bahwa aktivitas degassing atau pelepasan gas vulkanik masih berlangsung secara aktif. Fenomena ini merupakan bagian dari proses alami gunung api yang sedang mengalami aktivitas erupsi efusif.
Dalam satu pekan, BPPTKG mencatat sebanyak lima kali awan panas guguran atau APG. Material panas tersebut meluncur hingga sejauh 1.000 meter ke arah hulu Kali Krasak.
Awan panas guguran merupakan salah satu ancaman utama Merapi. Campuran gas vulkanik, abu, batuan, dan material panas itu dapat bergerak dengan kecepatan tinggi mengikuti lembah sungai yang berhulu di puncak gunung.
Meski seluruh kejadian masih berada di dalam zona bahaya yang telah ditetapkan, kemunculan lima awan panas guguran dalam waktu singkat menunjukkan bahwa proses ketidakstabilan material di kubah lava masih berlangsung.
Selama periode pengamatan, petugas mencatat dua kali guguran lava ke arah hulu Kali Boyong dengan jarak luncur hingga 1.800 meter. Guguran lava juga terjadi sebanyak 36 kali ke arah hulu Kali Krasak dengan jarak maksimum 1.800 meter.
Tidak hanya itu, enam kali guguran lava mengarah ke hulu Kali Bebeng sejauh maksimal 1.800 meter. Aktivitas paling banyak terjadi ke arah hulu Kali Sat atau Kali Putih yang mencatat 33 kali guguran lava dengan jarak luncur mencapai 2.000 meter.
Rangkaian guguran tersebut memperlihatkan bahwa material vulkanik di puncak masih terus bergerak dan meluruh akibat dorongan suplai magma dari dalam tubuh gunung.
Kubah Lava Barat Daya Mengalami Perubahan
Hasil analisis morfologi dari kamera pemantauan BPPTKG menunjukkan adanya perubahan pada Kubah Lava Barat Daya Merapi.
Perubahan tersebut terjadi akibat dinamika volume kubah serta aktivitas guguran lava yang berlangsung terus-menerus. Sementara itu, Kubah Tengah tidak menunjukkan perubahan morfologi yang signifikan.
Berdasarkan hasil analisis foto udara pada 7 Mei 2026, volume Kubah Barat Daya tercatat mencapai sekitar 4,02 juta meter kubik. Adapun volume Kubah Tengah mencapai sekitar 2,36 juta meter kubik.
Besarnya volume kubah lava tersebut menunjukkan bahwa material vulkanik masih tersimpan dalam jumlah sangat besar di kawasan puncak. Kondisi itu membuat potensi guguran maupun awan panas guguran tetap harus diwaspadai.
Di balik aktivitas visual yang tampak dari permukaan, instrumen seismik merekam gejolak yang jauh lebih intens di dalam tubuh Merapi.
Selama periode 29 Mei hingga 4 Juni 2026, jaringan pemantauan mencatat:
- 5 kali gempa Awan Panas Guguran (APG);
- 67 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB);
- 496 kali gempa Fase Banyak (MP);
- 749 kali gempa Guguran (RF); dan
- 6 kali gempa Tektonik (TT).
Peningkatan aktivitas seismik tersebut mengindikasikan bahwa proses pergerakan magma dan material vulkanik di dalam tubuh gunung masih berlangsung aktif.
Kondisi itu menjadi salah satu indikator penting yang terus dipantau oleh para vulkanolog untuk mendeteksi perubahan aktivitas Merapi.
Deformasi Gunung Relatif Stabil
Pengukuran menggunakan Electronic Distance Measurement (EDM) maupun sistem Global Positioning System (GPS) tidak menunjukkan perubahan signifikan selama periode pengamatan.
Kondisi ini menandakan bahwa belum terjadi perubahan besar pada tubuh gunung yang mengarah pada peningkatan tekanan secara drastis. Namun demikian, para ahli tetap melakukan pemantauan intensif mengingat suplai magma masih berlangsung.
Di tengah aktivitas vulkanik yang terus berlangsung, hujan beberapa kali mengguyur kawasan Merapi.
Curah hujan tertinggi tercatat pada 2 Juni 2026 di Pos Jrakah dengan intensitas mencapai 1,5 milimeter per jam selama dua menit.
Hingga akhir periode laporan, petugas belum menerima laporan mengenai aliran lahar maupun penambahan material di sungai-sungai yang berhulu di Merapi.
Meski demikian, BPPTKG mengingatkan masyarakat agar tetap mewaspadai ancaman lahar hujan. Material vulkanik yang menumpuk di lereng gunung dapat sewaktu-waktu terbawa aliran air ketika hujan dengan intensitas tinggi terjadi.
Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental, BPPTKG menetapkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih berada pada tingkat Siaga.
Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan hingga barat daya yang meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal lima kilometer. Ancaman serupa juga berpotensi menjangkau Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga tujuh kilometer.
Pada sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh tiga kilometer dan Sungai Gendol hingga lima kilometer.
Selain itu, apabila terjadi letusan eksplosif, material vulkanik berpotensi terlontar hingga radius tiga kilometer dari puncak.
Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso meminta seluruh pihak untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas Merapi.
BPPTKG merekomendasikan pemerintah daerah di Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten agar memperkuat langkah mitigasi bencana. Upaya tersebut meliputi peningkatan kapasitas masyarakat serta penyiapan sarana dan prasarana evakuasi. (ef linangkung)