
KabarJawa.com– Ketua Dewan Pimpinan Daerah Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (DPD PUTRI), GKR Bendara, menegaskan bahwa pengelolaan taman rekreasi di era pariwisata modern harus mengalami transformasi mendasar.
Ia menekankan bahwa pengelola tidak lagi dapat mengandalkan keindahan fisik destinasi semata, melainkan harus memahami secara menyeluruh perilaku pengunjung atau customer behavior sepanjang perjalanan wisata mereka.
GKR Bendara menyampaikan bahwa wisatawan saat ini telah berubah secara signifikan. Wisatawan semakin sadar nilai, semakin selektif dalam memilih destinasi, serta semakin menuntut pengalaman yang personal, bermakna, dan konsisten sejak tahap prakunjungan hingga pascakunjungan.
Kondisi tersebut, menurutnya, memaksa pelaku usaha taman rekreasi untuk menggeser paradigma pengelolaan dari sekadar pengelolaan aset fisik menuju pengelolaan pengalaman atau customer experience (CX).
“Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat atau menikmati wahana, tetapi untuk merasakan pengalaman utuh yang membekas secara emosional,” tegas GKR Bendara.
Konsep Pengelolaan Taman Rekreasi Saat Ini
- Customer Journey jadi Fondasi Pengelolaan Taman Rekreasi
GKR Bendara menjelaskan bahwa konsep customer journey menjadi fondasi utama dalam pengelolaan taman rekreasi masa kini.
Ia memaparkan bahwa customer journey mencakup seluruh tahapan interaksi pengunjung dengan destinasi, mulai dari pencarian informasi secara digital, proses perencanaan perjalanan, kemudahan aksesibilitas, pengalaman saat berada di lokasi, hingga fase evaluasi dan berbagi pengalaman melalui media sosial.
Menurutnya, setiap titik sentuh atau touchpoint dalam perjalanan wisata tersebut memiliki peran krusial dalam membentuk persepsi pengunjung.
Pengelola taman rekreasi harus mengelola seluruh touchpoint tersebut secara terintegrasi, konsisten, dan berorientasi pada kepuasan pengunjung. Jadi, taman akan menciptakan pengalaman positif yang berkelanjutan.
“Ketika satu titik sentuh gagal, maka keseluruhan pengalaman bisa runtuh. Sebaliknya, ketika semua titik sentuh dikelola dengan baik, pengunjung akan menjadi duta destinasi secara sukarela,” ujarnya.
- Pendekatan Empati, Data, dan Konteks Lokal jadi Kunci
Lebih lanjut, GKR Bendara menyoroti pentingnya adaptasi customer experience melalui pendekatan berbasis empati, data, dan konteks lokal.
Ia menilai bahwa pendekatan tersebut memungkinkan pengelola memahami kebutuhan, harapan, serta emosi pengunjung secara lebih mendalam.
Di Yogyakarta, menurut GKR Bendara, pendekatan CX berkembang dengan mengintegrasikan nilai edukasi, budaya, serta keramahan khas daerah.
Integrasi tersebut menjadikan taman rekreasi tidak sekadar ruang hiburan, tetapi juga ruang pembelajaran dan interaksi budaya yang membangun keterikatan emosional antara pengunjung dan destinasi.
“Taman rekreasi harus mampu berbicara dengan karakter daerahnya. Yogyakarta memiliki kekuatan budaya dan edukasi yang tidak dimiliki daerah lain,” ungkapnya.
Taman Pintar Yogyakarta: Contoh Adaptasi CX
GKR Bendara menyebut Taman Pintar Yogyakarta sebagai contoh konkret keberhasilan penerapan customer experience berbasis konteks lokal.
Taman Pintar mampu beradaptasi dengan kebutuhan keluarga, pelajar, dan wisatawan umum melalui desain pengalaman yang inklusif dan berorientasi pada pembelajaran.
Pengelola Taman Pintar, menurutnya, secara aktif merancang pengalaman edukatif yang interaktif, mudah dipahami, serta relevan dengan perkembangan zaman.
Pendekatan tersebut membuat pengunjung tidak hanya memperoleh hiburan, tetapi juga mendapatkan pengetahuan dan pengalaman belajar yang menyenangkan.
“Taman rekreasi edukatif seperti Taman Pintar menunjukkan bahwa pengalaman yang dirancang dengan baik akan menciptakan nilai jangka panjang bagi destinasi,” katanya.
Dalam konteks perubahan perilaku wisatawan, GKR Bendara juga menegaskan bahwa pelaku usaha taman rekreasi harus semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Ia menilai bahwa pola komunikasi digital, sistem informasi daring, serta layanan berbasis teknologi menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa adaptasi digital tidak boleh menghilangkan sentuhan humanis. Interaksi langsung antara pengelola dan pengunjung tetap menjadi kekuatan utama pariwisata, terutama di daerah yang menjunjung tinggi nilai budaya dan keramahan seperti Yogyakarta.
“Teknologi harus memperkuat pengalaman, bukan menggantikannya. Sentuhan manusia tetap menjadi jiwa dari pariwisata,” tegas GKR Bendara.
Ia menegaskan bahwa masa depan pengelolaan taman rekreasi bergantung pada kemampuan pelaku usaha dalam memahami dan merespons perubahan perilaku wisatawan.
Pengelola harus berani berinovasi, memanfaatkan data, mengasah empati, serta mengakar pada nilai lokal. Jadi, ia mampu menciptakan pengalaman wisata yang relevan dan berkelanjutan.
Menurutnya, taman rekreasi yang mampu menghadirkan pengalaman bermakna akan tetap bertahan dan berkembang di tengah persaingan industri pariwisata yang semakin ketat.
“Pengalaman adalah kunci. Ketika pengunjung merasa dihargai, dipahami, dan terhubung secara emosional, maka destinasi akan hidup lebih lama,” pungkasnya. (ef linangkung)