
KABARJAWA – Gunung Merapi terus menunjukkan gejolak vulkaniknya. Dalam periode pemantauan dari 27 Juni hingga 3 Juli 2025, aktivitas erupsi efusif masih terjadi dengan intensitas tinggi.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan adanya perubahan kecil pada morfologi kubah lava di sisi barat daya. Perubahan ini diakibatkan oleh guguran material dan penambahan volume lava yang terus berlangsung.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menegaskan bahwa Gunung Merapi masih berada pada status Siaga. “Guguran-guguran itu menunjukkan suplai magma dari dalam perut bumi masih terus berlangsung,” ujarnya, Senin, 7 Juli 2025.
Selama sepekan pemantauan terakhir, BPPTKG mencatat kemunculan asap putih tebal dari puncak Merapi, dengan tekanan lemah dan ketinggian bervariasi antara 15 hingga 350 meter.
Selain itu, aktivitas guguran lava terpantau cukup aktif: 5 kali ke hulu Kali Krasak sejauh 1.500 meter, 8 kali ke Kali Bebeng sejauh 2.000 meter, dan 56 kali ke arah Kali Sat/Putih dengan jarak mencapai 2.000 meter.
Perubahan Volume Kubah dan Aktivitas Seismik
Hasil pemantauan menggunakan foto udara pada 25 Juni 2025 menunjukkan bahwa volume kubah lava barat daya saat ini telah mencapai 4.077.700 meter kubik, sementara kubah tengah sebesar 2.367.300 meter kubik.
Meski tidak terdeteksi adanya perubahan signifikan pada kubah tengah, kubah barat daya tetap menunjukkan perkembangan morfologi akibat aktivitas guguran lava.
Dari sisi kegempaan, aktivitas seismik Merapi juga masih tergolong tinggi. Dalam periode pemantauan tersebut, BPPTKG mencatat:
- 2 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB)
- 803 gempa Fase Banyak (MP)
- 617 gempa Guguran (RF)
- 3 gempa Low-Frequency (LF)
- 10 gempa Tektonik (TT)
Menurut Agus, intensitas ini relatif stabil dibandingkan pekan sebelumnya.
Hasil Pengamatan Deformasi dan Curah Hujan
Pengukuran deformasi menggunakan Electronic Distance Measurement (EDM) di sektor barat laut juga menunjukkan kestabilan. Jarak antara stasiun BAB0 dan reflektor RB2 tercatat stabil di kisaran 3.840,657 hingga 3.840,662 meter, sedangkan ke RB3 berada di kisaran 3.414,063 hingga 3.414,067 meter.
Data GPS dari jalur Labuhan – Jrakah turut memperkuat bahwa tidak ada perubahan signifikan pada deformasi tubuh Gunung Merapi.
Sementara itu, curah hujan tertinggi tercatat di Pos Babadan pada 2 Juli 2025, yakni sebesar 5,8 mm/jam selama 63 menit.
Meski demikian, intensitas hujan tersebut belum cukup kuat untuk memicu lahar hujan maupun aliran material di sungai-sungai yang berhulu di lereng Merapi.
Potensi Bahaya Masih Tinggi
Menurut BPPTKG, Gunung Merapi masih berada dalam fase erupsi efusif. Potensi bahaya utama saat ini berupa guguran lava dan awan panas, terutama ke arah selatan dan barat daya. Ancaman tersebut dapat menjangkau:
- Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km
- Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 km
- Sungai Woro (tenggara) sejauh 3 km
- Sungai Gendol sejauh 5 km
Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat mencapai radius 3 km dari puncak.
Agus mengingatkan masyarakat untuk tidak beraktivitas di zona rawan bahaya dan selalu waspada terhadap kemungkinan lahar hujan dan awan panas guguran, terutama saat turun hujan.
Ia juga menekankan pentingnya antisipasi terhadap sebaran abu vulkanik yang berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat di sekitar gunung.
Rekomendasi Mitigasi dan Kesiapsiagaan
BPPTKG turut merekomendasikan kepada pemerintah daerah di Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten untuk memperkuat mitigasi bencana, termasuk peningkatan kapasitas masyarakat serta penyediaan sarana evakuasi yang memadai.
“Jika aktivitas Gunung Merapi mengalami perubahan signifikan, maka kami akan meninjau kembali tingkat status aktivitas,” tegas Agus.
Dengan aktivitas vulkanik yang masih aktif dan potensi bahaya yang nyata, masyarakat di sekitar lereng Merapi diimbau untuk tetap tenang namun siaga, serta terus mengikuti arahan resmi dari BPPTKG dan pemerintah daerah.