
KabarJawa.com— Gunung Merapi, raksasa api di perbatasan DIY dan Jawa Tengah, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menegaskan bahwa aktivitas ini merupakan bagian dari dinamika alami Merapi yang saat ini masih berada pada Level III atau Siaga.
Awan Panas Guguran
“Awan panas guguran terjadi dengan jarak luncur sekitar 1,3 kilometer ke arah barat daya. Aktivitas vulkanik masih terpantau fluktuatif, sehingga masyarakat harus tetap waspada,” ujar Agus dalam keterangannya di Yogyakarta.
Gunung ini meluncurkan awan panas guguran sejauh 1.300 meter ke arah barat daya, tepatnya ke hulu Kali Krasak, pada Selasa (11/11/2025) pukul 16.29 WIB.
Data resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat, awan panas tersebut memiliki amplitudo maksimal 32 mm dan durasi 106,51 detik.
Dalam laporan periode pengamatan pukul 06.00–12.00 WIB, cuaca di sekitar puncak Merapi tampak berawan hingga mendung dengan angin bertiup ke arah barat.
Suhu udara berkisar antara 23–25,1°C, kelembapan mencapai 82 persen, dan tekanan udara berada di kisaran 872–916 mmHg.
Secara visual, petugas mengamati asap kawah bertekanan lemah dengan warna putih. Lalu, intensitas sedang, dan tinggi mencapai 15 meter di atas puncak kawah. Fenomena ini menandakan bahwa aktivitas gas vulkanik di permukaan masih berlangsung.
Gempa yang Terjadi
Data seismik mencatat 18 kali gempa guguran, dengan amplitudo 2–19 mm dan durasi 58–154 detik. Selain itu, terdapat 11 kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 3–25 mm dan durasi hingga hampir satu menit.
BPPTKG juga melaporkan 1 kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 27 mm dan durasi 9,42 detik.
Selain awan panas, petugas juga mengamati 1 kali guguran lava pijar ke arah Barat Daya (Kali Bebeng) dengan jarak luncur maksimum 1.400 meter.
Data ini mengonfirmasi bahwa suplai magma dari dalam tubuh gunung masih aktif dan mendorong keluarnya material pijar ke permukaan.
“Suplai magma masih berlangsung. Aktivitas ini bisa memicu awan panas guguran kapan saja di dalam zona potensi bahaya,” tegas Agus Budi Santosa.
BPPTKG memperingatkan bahwa potensi bahaya utama saat ini berupa guguran lava dan awan panas guguran (APG) pada sektor selatan–barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh 7 km.
Sementara itu, pada sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh 3 km dan Sungai Gendol sejauh 5 km.
Lontaran material vulkanik dari letusan eksplosif juga bisa menjangkau radius 3 km dari puncak. Oleh karena itu, BPPTKG menegaskan agar masyarakat tidak beraktivitas di area rawan bencana tersebut.
“Kami meminta masyarakat tetap mematuhi seluruh rekomendasi dan menjauhi zona bahaya. Saat hujan turun, potensi lahar dingin dan awan panas sekunder juga meningkat,” imbuhnya.
Selain awan panas, BPPTKG juga mengingatkan warga di sekitar Kali Krasak, Kali Boyong, dan Kali Bebeng untuk mewaspadai potensi lahar dingin yang bisa terjadi ketika hujan deras.
Abu vulkanik hasil erupsi ringan juga dapat terbawa angin dan mengganggu aktivitas masyarakat di wilayah Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten.
Petugas menegaskan, jika terjadi perubahan signifikan dalam aktivitas vulkanik, tingkat status Gunung Merapi akan segera dievaluasi.
Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Merapi tetap pada Level III (Siaga). Masyarakat sebaiknya mengacu pada informasi resmi dari BPPTKG, PVMBG, dan Badan Geologi Kementerian ESDM. (ef linangkung)