
KABARJAWA – Setiap Idul Adha, suasana kampung berubah. Suara takbir menggema sejak pagi, aroma daging kurban menyeruak di sudut-sudut rumah, dan warga berkumpul dalam semangat berbagi.
Namun, di balik momen sakral tersebut, ada kerja sunyi para petugas kesehatan hewan yang memastikan semua daging kurban benar-benar aman dikonsumsi.
Retno Widyaningsih, Kepala Bidang Kesehatan Hewan di Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul, mengawasi proses penting yang kerap luput dari perhatian: pemeriksaan antemortem dan postmortem pada hewan kurban.
Dengan mengenakan jas putih dan membawa peralatan medis, ia bersama tim turun langsung ke lokasi-lokasi penyembelihan.
“Setiap hewan kurban harus kami periksa sebelum disembelih. Kami cek suhu tubuhnya, denyut jantung, kondisi pencernaan, hingga feses dan selaput lendirnya,” ujar Retno dengan tegas.
Pemeriksaan ini dikenal sebagai pemeriksaan antemortem, yakni proses pengecekan menyeluruh untuk memastikan hewan dalam kondisi sehat dan layak menjadi kurban.
Setelah disembelih, timnya tak berhenti bekerja. Mereka langsung melanjutkan ke pemeriksaan postmortem, memeriksa organ-organ dalam seperti hati, limpa, dan jantung.
“Kami buka jeroannya satu per satu. Kalau hati ditemukan cacing, atau jantung ada larva Cysticercus, bagian itu harus kami afkir—tidak boleh dikonsumsi,” jelas Retno.
Namun, tidak semua organ yang terkena penyakit membuat seluruh daging hewan dibuang. Petugas hanya menyarankan pemotongan bagian yang terinfeksi, sedangkan bagian lain yang masih sehat tetap bisa dibagikan kepada masyarakat.
“Yang penting, daging yang dibagikan benar-benar aman. Kalau tidak, risikonya bisa berbahaya bagi penerima,” tambahnya.
Edukasi Kebersihan dan Imbauan Kurban Ramah Lingkungan
Selama beberapa tahun terakhir, Retno bersyukur belum ditemukan kasus penyakit serius pada hewan kurban di wilayahnya. Namun, ia menekankan pentingnya edukasi kepada panitia kurban, termasuk soal kebersihan dalam pengemasan dan distribusi daging.
“Kami ingatkan agar daging segera dikirim maksimal empat jam setelah penyembelihan. Ini penting untuk menjaga kesegarannya,” ujarnya.
Selain urusan kesehatan hewan, kesadaran lingkungan juga menjadi bagian dari ibadah kurban di Gunungkidul. Hary Sukmono, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengeluarkan surat edaran yang mengimbau panitia kurban untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
“Kami dorong masyarakat memakai pembungkus ramah lingkungan seperti daun pisang, daun jati, atau besek. Sudah waktunya kita mulai kurban yang lebih hijau,” kata Hary.
Ia juga mengingatkan agar warga tidak mencuci jeroan atau isi perut hewan di sumber air seperti telaga atau sungai. Menurutnya, hal itu bisa mencemari air bersih yang digunakan sehari-hari oleh warga sekitar.