
KabarJawa.com — Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan aktivitas Gunung Merapi selama sepekan terakhir masih tinggi.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menyebut erupsi efusif masih berlangsung, dengan pertumbuhan kubah lava sektor barat daya yang semakin dominan dan berpotensi runtuh.
Data pemantauan menunjukkan kubah lava barat daya terus membesar dan kini jauh lebih besar dibanding kubah tengah. Kondisi tersebut meningkatkan potensi guguran lava dan awan panas guguran (APG).
Kondisi Visual: Asap Putih Teramati Konsisten
Berdasarkan pengamatan visual dari sejumlah pos pemantauan, cuaca di sekitar Gunung Merapi umumnya cerah pada pagi dan malam hari, sementara siang hingga sore cenderung berkabut. Sepanjang periode pengamatan, Merapi teramati mengeluarkan asap putih dengan ketebalan bervariasi dari tipis hingga tebal.
Asap teramati bergerak lemah dengan ketinggian berkisar antara 10 meter hingga 400 meter dari puncak.
“Situasi ini menunjukkan aktivitas permukaan yang konsisten, menandai suplai energi dari dalam tubuh gunung api yang belum mereda,” terangnya.
Awan Panas dan Guguran Lava Dominan ke Barat Daya
Selama sepekan terakhir, BPPTKG mencatat satu kali kejadian awan panas guguran dengan jarak luncur maksimal 1.500 meter ke arah barat daya, tepatnya menuju hulu Kali Boyong.
Selain itu, aktivitas guguran lava teramati cukup intens dengan rincian sebagai berikut:
- 2 kali ke arah hulu Kali Boyong dengan jarak luncur maksimal 1.500 meter
- 52 kali ke arah Kali Krasak dengan jarak luncur maksimal 2.000 meter
- 15 kali ke arah Kali Bebeng dengan jarak luncur maksimal 2.000 meter
- 29 kali ke arah Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimal 2.000 meter
“Banyaknya guguran lava ini memperlihatkan suplai magma baru yang terus naik ke permukaan,” ungkapnya.
Kubah Lava Barat Daya Terus Membesar dan Dominan
Hasil analisis foto udara pada 30 Oktober 2025 menunjukkan volume kubah lava barat daya mencapai 4.308.700 meter kubik, sementara volume kubah tengah tercatat sebesar 2.368.800 meter kubik.
Perbedaan volume tersebut menegaskan kubah barat daya kini menjadi sektor dominan sekaligus paling rawan runtuh.
BPPTKG juga mengamati perubahan morfologi kecil pada kubah barat daya akibat pertumbuhan volume dan guguran lava, sedangkan kubah tengah relatif stabil tanpa perubahan signifikan.
“Dengan ukuran kubah yang terus membengkak, risiko runtuhan besar yang dapat memicu awan panas kini berada pada tingkat yang lebih mengkhawatirkan,” ujarnya.
Kegempaan Didominasi Gempa Guguran
Dalam periode pemantauan sepekan terakhir, aktivitas kegempaan Gunung Merapi tercatat sebagai berikut:
- 1 kali gempa Awan Panas Guguran (APG)
- 7 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB)
- 413 kali gempa Fase Banyak (MP)
- 1 kali gempa Low Frequency (LF)
- 657 kali gempa Guguran (RF)
- 5 kali gempa Tektonik (TT)
Secara umum, kegempaan relatif stabil dibandingkan pekan sebelumnya. Dominasi gempa guguran menunjukkan aktivitas pelepasan material dari kubah lava yang terus tumbuh.
Deformasi Stabil, Suplai Magma Masih Berlangsung
Hasil pengukuran deformasi menggunakan metode EDM dan GPS menunjukkan kondisi relatif stabil. Jarak EDM BAB0–RB2 tercatat berada pada rentang 3.840,435–3.840,441 meter, sementara baseline GPS Labuhan–Jarakah berada pada kisaran 7.108,13–7.108,14 meter.
Meski tidak terdeteksi perubahan signifikan pada deformasi tubuh gunung, BPPTKG menegaskan suplai magma masih berlangsung, sebagaimana ditunjukkan oleh data visual dan kegempaan.
Hujan Meningkat, Ancaman Lahar Tetap Diwaspadai
Curah hujan tertinggi tercatat pada 6 Desember 2025 di Pos Kaliurang sebesar 18,75 milimeter per jam dengan durasi 148 menit.
Hingga saat ini belum teramati kejadian lahar, namun intensitas hujan tersebut berpotensi memobilisasi material vulkanik di sungai-sungai berhulu Merapi.
Status Tetap Siaga, Warga Diminta Patuhi Rekomendasi
Berdasarkan evaluasi menyeluruh, BPPTKG menyimpulkan aktivitas Gunung Merapi masih tinggi dengan erupsi efusif yang berlanjut. Status Gunung Merapi tetap berada pada Level III atau Siaga.
Potensi bahaya meliputi guguran lava dan awan panas guguran di sektor selatan–barat daya melalui Sungai Boyong hingga 5 kilometer, Sungai Bedog–Krasak–Bebeng hingga 7 kilometer, sektor tenggara melalui Sungai Woro hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer, serta lontaran material vulkanik dalam radius 3 kilometer dari puncak.
BPPTKG merekomendasikan pemerintah daerah dan masyarakat di wilayah Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan memastikan sarana evakuasi siap digunakan. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di kawasan rawan bencana.
“Warga juga harus mengantisipasi abu vulkanik yang dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas harian,” tuturnya.
Dengan kondisi kubah lava barat daya yang terus membesar dan intensitas guguran yang masih tinggi, BPPTKG mengingatkan potensi bahaya dapat terjadi sewaktu-waktu.