
KabarJawa.com – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan intensitas aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih berada pada tingkat yang tinggi selama periode pengamatan 10 hingga 16 April 2026.
Berdasarkan data teknis, gunung api tersebut tercatat meluncurkan awan panas guguran serta mengalami fluktuasi pada volume kubah lava.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, mengonfirmasi bahwa status Gunung Merapi tetap dipertahankan pada Level III atau “Siaga”.
Secara visual, puncak Merapi sering kali tertutup kabut, namun saat cuaca cerah, teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal setinggi 550 meter di atas puncak.
Sepanjang pekan ini, tercatat terjadi tujuh kali awan panas guguran yang mengarah ke barat daya dengan jarak luncur maksimum dua kilometer.
Guguran lava juga terpantau intensif, terutama ke arah Kali Sat/Putih sebanyak 125 kali, Kali Krasak 85 kali, Kali Boyong 11 kali, dan Kali Bebeng 15 kali, seluruhnya dengan jarak luncur hingga dua kilometer.
Perubahan Struktur dan Suhu Kubah Lava
Hasil survei menggunakan drone pada 8 April 2026 menunjukkan adanya penyusutan volume pada Kubah Barat Daya sebesar 8.500 meter kubik, sehingga saat ini tercatat sebesar 4.046.900 meter kubik. Sebaliknya, volume Kubah Tengah terpantau stabil pada angka 2.368.800 meter kubik.
Meski volumenya stabil, analisis termal menunjukkan peningkatan suhu pada Kubah Tengah sebesar 23,2 derajat Celsius menjadi 199,2 derajat Celsius.
Sementara itu, suhu di Kubah Barat Daya relatif stabil pada angka 218,6 derajat Celsius. Dinamika suhu ini mengindikasikan adanya suplai panas yang konsisten dari dalam perut gunung.
Data Kegempaan dan Mitigasi Bencana
Dari sisi seismik, BPPTKG mencatat aktivitas kegempaan yang mencakup 7 gempa awan panas guguran, 13 gempa vulkanik dangkal, 571 gempa fase banyak, serta 951 gempa guguran.
Walaupun jumlah kegempaan ini secara statistik menurun dibandingkan periode sebelumnya, sistem magma dilaporkan masih aktif bergerak.
Ancaman lahar hujan juga tetap diwaspadai, mengingat curah hujan di Pos Kaliurang sempat mencapai 29,89 mm per jam pada 14 April 2026.
Hingga laporan ini disusun, belum ada laporan mengenai aliran lahar baru di sungai-sungai yang berhulu di Merapi, namun potensi tersebut tetap ada seiring meningkatnya intensitas hujan di area puncak.
Rekomendasi Jarak Aman
BPPTKG menegaskan bahwa erupsi Merapi saat ini masih bersifat efusif. Potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas diprediksi masih akan berfokus pada sektor selatan hingga barat daya, mencakup Sungai Boyong (5 km), serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (7 km).
Untuk sektor tenggara, kewaspadaan meliputi Sungai Woro (3 km) dan Sungai Gendol (5 km).
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di wilayah potensi bahaya tersebut.
Selain itu, warga di Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap ancaman abu vulkanik serta aliran lahar, terutama saat terjadi hujan di lereng gunung.