
KABARJAWA – Seorang pendaki kembali nekat menantang maut dengan mendaki hingga puncak Gunung Merapi, meskipun kawasan tersebut sudah ditutup total karena status aktivitas vulkanik berada pada level Siaga III.
Tindakan tersebut langsung mengundang reaksi keras dari netizen dan membuat Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) segera melakukan penyelidikan.
Pengelola TNGM sudah lama menutup jalur pendakian menuju puncak Gunung Merapi sejak peningkatan status aktivitas gunung tersebut. Namun, seorang pendaki pria yang belum diketahui identitasnya secara terang-terangan melanggar larangan tersebut. Aksi nekatnya terekam dalam sebuah video yang kemudian tersebar luas di media sosial.
Akun Instagram @pendaki pertama kali mengunggah video tersebut pada Minggu, 15 Juni 2025. Video itu menunjukkan dua orang pendaki yang berada di kawasan kawah Merapi.
Salah satu dari mereka tampak memegang ponsel untuk merekam aksi temannya yang mengenakan jaket hitam-putih, berambut gondrong, dan berpenutup kepala.
Pendaki gondrong tersebut tampak berjalan di tepi kawah aktif yang berada tidak jauh dari puncak Garuda. Sambil berjalan mendekati bibir kawah, ia menceritakan bahwa dasar kawah tidak terlihat jelas dan menyebutkan bahwa jalur pendakian sudah ditutup lebih dari satu tahun akibat peningkatan aktivitas vulkanik.
Pendaki itu bahkan mengakhiri video dengan pernyataan menyesatkan yang menyiratkan bahwa pendakian tetap dapat dilakukan, meskipun status gunung berada di tingkat siaga. Narasi dalam video tersebut berbunyi: “NGEYEL! Pendaki ini Memaksa Muncak ke Merapi yang Berstatus Siaga III Tak Ditindak Tegas”.
TNGM Bertindak dan Netizen Bereaksi Keras
Dalam keterangan unggahan, admin akun tersebut menuliskan kekhawatiran akan tindakan nekat tersebut. Ia menegaskan bahwa pendaki tersebut melakukan aksinya secara ilegal, tanpa izin dari pihak berwenang.
Ia juga mengingatkan bahwa pembiaran terhadap aksi seperti ini berpotensi memicu tren serupa, bahkan bisa berakhir dengan tragedi.
Admin akun @pendaki menulis, “Ketiadaan tindakan tegas terhadap pelanggaran seperti ini dikhawatirkan akan menormalisasi pendakian ilegal, bahkan mendorong orang lain untuk meniru. Padahal, saat berhadapan dengan alam, satu kesalahan kecil bisa berakhir fatal. JANGAN DITIRU GAIS!!!”
Video tersebut langsung memantik reaksi keras dari netizen. Ribuan komentar membanjiri unggahan tersebut, mayoritas mengutuk dan menyayangkan aksi berbahaya tersebut.
Pengguna bernama @adiprakosa menuliskan, “Dia kira dia keren.”
Akun @dimasstern menyindir dengan kalimat sarkastik, “Pantes sore tadi gelap di puncak, ternyata ada aura Magrib di sana.”
Sementara @bektiiman bertanya heran, “Kok bisa lolos naik..?”
Pengguna lain @apexz07 mengomentari, “Padahal nek ra haus validasi aman, ngopo si kudu di-share, pamerke neng sosmed, 335 emang kowe tok sing iso tekan kono.”
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi, M. Wahyudi, mengaku sudah mendapatkan laporan tentang video viral tersebut. Ia langsung memerintahkan timnya untuk menelusuri dan mengidentifikasi siapa pelaku dalam video tersebut.
“Saya baru dapat laporan, Mas. Saya masih minta kawan-kawan melakukan pengecekan dulu ya,” kata Wahyudi saat dikonfirmasi pada Minggu, 15 Juni 2025 malam.
Wahyudi menegaskan bahwa pihaknya akan menindaklanjuti temuan tersebut secara serius. Ia juga mengimbau masyarakat dan pendaki untuk mematuhi aturan yang berlaku demi keselamatan bersama.
TNGM terus mengingatkan bahwa pendakian ke Gunung Merapi masih tertutup dan tidak ada toleransi bagi siapa pun yang mencoba menerobosnya. Gunung Merapi masih sangat aktif dan berpotensi mengeluarkan awan panas, guguran lava, serta gas beracun yang mematikan.
Pelanggaran terhadap aturan konservasi kawasan Taman Nasional, menurut perundangan yang berlaku, dapat dikenakan sanksi administratif hingga pidana. TNGM juga berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan relawan untuk memperketat pengawasan jalur pendakian ilegal.
Kasus ini menambah daftar panjang pelanggaran yang terjadi selama penutupan Gunung Merapi. Sebelumnya, beberapa pendaki juga tercatat nekat masuk ke zona bahaya, meskipun sudah berulang kali diperingatkan.
TNGM berharap, masyarakat tidak menjadikan media sosial sebagai ajang pembuktian ego dan adu nyali di tengah bencana alam yang mengintai. Edukasi, kepatuhan, dan kesadaran akan pentingnya keselamatan harus menjadi prioritas utama bagi seluruh pendaki.
Dengan situasi ini, TNGM kembali menegaskan larangan pendakian ke Gunung Merapi dan menyerukan kerja sama semua pihak untuk menjaga keselamatan dan kelestarian alam.