
KabarJawa.com – Peristiwa amblesan tanah yang terjadi di SMP Negeri 3 Semanu, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, dipastikan tidak disebabkan oleh runtuhan vertikal mendadak.
BPPTKG menyatakan kejadian tersebut merupakan dampak dari sistem rongga saluran air alami yang menghubungkan luweng di sisi selatan dengan danau karst di kawasan sekitar sekolah.
Kepala BPPTKG Agus Budi Santosa menjelaskan, kesimpulan tersebut diperoleh setelah tim melakukan survei terpadu menggunakan pemetaan drone dan pengukuran geolistrik.
Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan penyebab amblesan yang muncul usai hujan berintensitas tinggi pada Desember 2025.
Hujan Ekstrem dan Munculnya Pusaran Air
Peristiwa bermula ketika hujan lebat mengguyur wilayah Gunungkidul dan sekitarnya pada Desember 2025. Curah hujan tinggi menyebabkan genangan air merendam lingkungan SMPN 3 Semanu dengan ketinggian sekitar 1,5 meter.
Saat genangan mulai surut, warga dan pihak sekolah mengamati adanya pusaran air di salah satu titik area sekolah. Pada waktu yang hampir bersamaan, bagian belakang gedung kelas menunjukkan deformasi tanah dan amblesan.
“Struktur bangunan terlihat tertarik ke arah selatan atau menuju pagar belakang sekolah,” kata Agus Budi Santosa.
BPPTKG menjelaskan air mulai memasuki area sekolah setelah luweng alami yang berada sekitar 100 meter di sisi selatan pagar sekolah terisi penuh. Ketika kapasitas tampung luweng terlampaui, air mengalir melalui bawah pagar beton dan muncul seperti mata air sementara di dalam lingkungan sekolah.
“Kondisi tersebut memunculkan dugaan awal adanya sinkhole di titik pusaran air,” ujarnya.
Karakter Dinamis Kawasan Karst Gunungsewu
BPPTKG menegaskan wilayah Semanu merupakan bagian dari bentang alam karst Gunungsewu yang mendominasi kawasan selatan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kawasan ini tersusun atas batuan karbonat atau batugamping yang telah mengalami proses pelarutan intensif selama ribuan tahun.
Proses tersebut membentuk berbagai fitur karst seperti luweng, dolina atau danau karst, rekahan, serta jaringan rongga dan saluran bawah tanah. Sistem drainase di kawasan karst tidak selalu mengikuti aliran permukaan karena air hujan kerap masuk ke dalam tanah melalui rekahan dan lubang pelarutan.
Di sisi utara sekolah terdapat dolina atau danau karst, sementara di sisi selatan terdapat luweng aktif. Keberadaan dua fitur tersebut menunjukkan bahwa SMPN 3 Semanu berada di atas sistem karst yang masih aktif dan dinamis.
Hasil survei drone juga mengidentifikasi keberadaan luweng berjarak sekitar 200 meter di selatan sekolah. Luweng tersebut memiliki diameter sekitar 40 meter dengan kedalaman sekitar 10 meter berdasarkan data LiDAR.
Survei Geolistrik dan Mekanisme Piping
BPPTKG melakukan pengukuran geolistrik resistivitas di sekitar titik pusaran air, bangunan yang mengalami deformasi, serta sepanjang pagar sisi selatan sekolah. Pengukuran dilakukan pada dua lintasan utama, yakni utara–selatan dan timur–barat.
“Hasil interpretasi menunjukkan adanya zona resistivitas rendah yang dominan di dekat pagar sisi selatan sekolah,” ujar Agus.
Zona resistivitas rendah tersebut mengindikasikan keberadaan material jenuh air yang bercampur lempung dan tanah pelapukan. BPPTKG menginterpretasikan zona ini sebagai jalur rongga atau saluran bawah permukaan dalam sistem karst.
BPPTKG menjelaskan kejadian ini tidak menunjukkan karakter sinkhole runtuhan vertikal. Mekanisme yang teridentifikasi adalah erosi internal atau piping yang berkembang secara bertahap dan lateral.
Proses diawali hujan lebat yang mengisi penuh luweng di sisi selatan sekolah hingga meluap. Air kemudian mencari jalur alternatif melalui rongga dan rekahan bawah permukaan, lalu mengalir secara lateral menuju area sekolah yang memiliki elevasi lebih rendah.
Setelah hujan berhenti, muka air turun dengan cepat. Aliran balik berkecepatan tinggi menggerus material halus pengisi rongga, sehingga rongga melebar dan kehilangan material penyangga.
“Akibatnya tanah dan bangunan di atasnya bergerak ke arah selatan mengikuti perkembangan rongga,” jelas Agus.
BPPTKG menegaskan pusaran air yang terlihat di permukaan bukan merupakan lokasi sinkhole utama, melainkan indikator adanya konektivitas hidrolik antara permukaan dan sistem rongga bawah tanah.
Kesimpulan dan Tindak Lanjut
Berdasarkan hasil survei drone, kajian geologi, dan interpretasi geolistrik, BPPTKG menyimpulkan bahwa pusaran air di area sekolah bukan disebabkan oleh sinkhole runtuhan vertikal.
Penyebab utama berasal dari rongga jenuh air di dekat pagar sisi selatan sekolah yang menjadi jalur aliran air dari sistem karst selatan.
Proses surutnya air memicu erosi internal yang menggerus material pengisi rongga dan menyebabkan deformasi serta amblesan pada bangunan kelas bagian belakang ke arah selatan.
BPPTKG mendorong dilakukannya kajian lanjutan serta langkah penguatan struktur dan pengelolaan sistem drainase.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mitigasi bencana di kawasan karst Gunungkidul dan mencegah kejadian serupa di masa mendatang.