
KabarJawa.com – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan terjadinya peristiwa awan panas guguran (APG) di Gunung Merapi pada Senin (20/4/2026) dini hari.
Berdasarkan data pemantauan, awan panas tercatat keluar pada pukul 00.29 WIB dengan jarak luncur mencapai 1.800 meter ke arah hulu Kali Krasak.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menjelaskan bahwa peristiwa tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 53,50 mm dan durasi 174,84 detik.
Aktivitas vulkanik ini menandakan dinamika suplai magma di dalam tubuh Gunung Merapi masih terus berlangsung secara intensif.
Data Pemantauan dan Aktivitas Kegempaan
Menurut Agus, aktivitas magma yang masih aktif dapat memicu terjadinya awan panas guguran sewaktu-waktu, terutama pada sektor yang telah teridentifikasi sebagai zona bahaya.
Berdasarkan periode pengamatan sebelumnya pada Minggu (19/4/2026) pukul 00.00 hingga 24.00 WIB, tingkat kegempaan di gunung api tersebut memang menunjukkan angka yang cukup tinggi.
Dalam periode 24 jam tersebut, tercatat satu kali awan panas guguran dengan amplitudo 44 mm dan durasi 126,02 detik.
Selain itu, petugas mencatat terjadi 83 kali gempa guguran dengan amplitudo berkisar antara 2 hingga 20 mm serta durasi maksimal mencapai 195 detik.
Aktivitas internal juga menunjukkan pergerakan fluida magma melalui catatan 85 kali gempa hybrid atau fase banyak.
Lebih lanjut, BPPTKG melaporkan adanya 6 kali gempa vulkanik dangkal dan 5 kali gempa tektonik jauh. Secara visual, asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal setinggi 300 meter di atas puncak.
Guguran Lava Pijar dan Rekomendasi Sektor Bahaya
Selain awan panas, pemantauan visual menunjukkan terjadinya 16 kali guguran lava pijar yang mengarah ke Kali Krasak dan Kali Sat/Putih.
Jarak luncur maksimum guguran lava pijar tersebut dilaporkan mencapai 2.500 meter, yang memperkuat indikasi potensi bahaya di sektor selatan hingga barat daya.
Hingga saat ini, tingkat aktivitas Gunung Merapi masih ditetapkan pada Level III atau Siaga. BPPTKG mengeluarkan rekomendasi teknis mengenai area potensi bahaya yang harus dikosongkan dari aktivitas manusia, meliputi:
-
Sektor Selatan-Barat Daya: Sungai Boyong (hingga 5 km), Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (hingga 7 km).
-
Sektor Tenggara: Sungai Woro (hingga 3 km) dan Sungai Gendol (hingga 5 km).
Mitigasi Risiko dan Kewaspadaan Masyarakat
Agus Budi Santosa menegaskan agar masyarakat sepenuhnya menjauhi alur sungai yang berhulu di Merapi, terutama untuk mengantisipasi bahaya sekunder berupa lahar hujan.
Masyarakat juga diimbau bersiap menghadapi potensi gangguan abu vulkanik yang dapat berdampak pada kesehatan serta aktivitas luar ruangan.
BPPTKG bersama Badan Geologi terus melakukan pemantauan intensif selama 24 jam untuk mengevaluasi setiap perubahan aktivitas vulkanik secara signifikan.
Pemerintah meminta warga untuk hanya merujuk pada informasi resmi dari instansi terkait dan tidak terpengaruh oleh informasi yang tidak terverifikasi.