
Aktivitas Gunung Merapi 27 Maret–2 April 2026/Foto: Istimewa
KabarJawa.com– Gunung Merapi kembali menunjukkan denyut kehidupannya. Dalam sepekan terakhir, periode 27 Maret hingga 2 April 2026, aktivitas vulkanik gunung api paling aktif di Indonesia ini terus bergerak dinamis.
Data Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mengungkapkan satu hal yang tak terbantahkan: Merapi masih menyimpan energi yang sewaktu-waktu dapat dilepaskan.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menegaskan bahwa aktivitas erupsi efusif masih mendominasi. Namun, di balik pola yang tampak stabil, tersimpan potensi bahaya yang terus mengintai.
Aktivitas Gunung Merapi 27 Maret–2 April 2026
Pagi di lereng Merapi masih menghadirkan langit cerah yang menenangkan. Namun, menjelang siang hingga sore, kabut turun perlahan, menutup puncak dan menyembunyikan aktivitas yang terus berlangsung di atas sana.
Sepanjang periode pengamatan, Gunung Merapi secara konsisten mengeluarkan asap putih. Ketebalan asap bervariasi, dari tipis hingga tebal, dengan tekanan lemah sampai sedang.
Kolom asap itu membumbung setinggi 25 meter hingga 500 meter dari puncak—sebuah tanda bahwa aktivitas degassing masih aktif terjadi.
Lalu, tercatat empat kali kejadian awan panas dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.400 meter ke arah barat daya, tepatnya menuju hulu Kali Boyong dan Kali Krasak.
Aktivitas guguran lava mendominasi wajah Merapi pekan ini. Lava pijar meluncur berulang kali dari puncak, mengikuti alur-alur sungai yang menjadi jalur alaminya.
Dalam kurun tujuh hari, tercatat 8 kali guguran ke arah Kali Boyong sejauh hingga 2.000 meter, 77 kali ke arah Kali Krasak dengan jarak maksimal 2.000 meter, 21 kali menuju Kali Bebeng sejauh 2.000 meter dan 54 kali ke arah Kali Sat/Putih dengan jarak yang sama
Perubahan signifikan terjadi pada morfologi puncak Merapi. Hasil survei drone pada 27 Maret 2026 memperlihatkan pertumbuhan kubah lava yang terus berlangsung.
Kubah Barat Daya mengalami penambahan volume sekitar 34.600 meter kubik. Kini, volumenya mencapai 4.055.300 meter kubik. Sementara itu, Kubah Tengah tidak menunjukkan perubahan volume, tetap berada di angka 2.368.800 meter kubik.
Meski volumenya stabil, Kubah Tengah justru menunjukkan kenaikan suhu yang cukup signifikan. Suhu terukur meningkat sebesar 24,3 derajat Celsius menjadi 176 derajat Celsius. Di sisi lain, suhu Kubah Barat Daya relatif stabil di angka 218,6 derajat Celsius.
Kondisi ini mengindikasikan adanya dinamika suplai magma di dalam tubuh gunung, yang terus memberi tekanan dari bawah.
Dalam periode ini, jaringan seismik mencatat 4 gempa awan panas guguran (APG), 19 gempa vulkanik dangkal (VTB), 602 gempa fase banyak (MP), 977 gempa guguran (RF) dan 16 gempa tektonik (TT)
Meski jumlah gempa menurun dibandingkan minggu sebelumnya, aktivitas ini tetap menunjukkan bahwa sistem magma Merapi masih aktif. Penurunan intensitas bisa menjadi fase akumulasi energi.
Deformasi: Tubuh Gunung Terus Bergerak
Pengukuran deformasi menunjukkan adanya pemendekan jarak tunjam sebesar 0,76 cm per hari. Data ini menjadi indikator penting bahwa tekanan dari dalam gunung masih berlangsung.
Pergerakan ini mencerminkan dorongan magma yang terus mengisi ruang di bawah permukaan, memperbesar potensi terjadinya guguran atau bahkan letusan lebih besar jika tekanan tidak terlepas secara bertahap.
Hujan sempat mengguyur kawasan Merapi selama periode ini. Intensitas tertinggi tercatat pada 29 Maret 2026 di pos Labuhan, mencapai 35,45 mm per jam selama 100 menit.
Meski belum ada laporan lahar, kondisi ini tetap perlu diwaspadai. Material vulkanik yang menumpuk di lereng dapat sewaktu-waktu terbawa aliran air dan berubah menjadi lahar yang berbahaya.
BPPTKG menetapkan status Gunung Merapi tetap berada pada level siaga. Artinya, aktivitas vulkanik masih tinggi dan berpotensi membahayakan wilayah sekitar.
Potensi bahaya saat ini meliputi Guguran lava dan awan panas di sektor selatan–barat daya hingga 5–7 km, meliputi Kali Boyong, Bedog, Krasak, dan Bebeng.
Sektor tenggara mencakup Kali Woro sejauh 3 km dan Kali Gendol hingga 5 km dan lontaran material vulkanik dapat mencapai radius 3 km dari puncak jika terjadi letusan eksplosif
BPPTKG menegaskan sejumlah rekomendasi penting. Pemerintah daerah di Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten perlu meningkatkan kesiapsiagaan, termasuk memperkuat kapasitas masyarakat dan sarana evakuasi.
Masyarakat sebaiknya tidak melakukan aktivitas di zona bahaya. Selain itu, warga juga harus mewaspadai potensi awan panas dan lahar, terutama saat hujan turun.
Abu vulkanik juga menjadi ancaman lain yang perlu diantisipasi, karena dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari.
Gunung Merapi hanya berganti ritme. Pekan ini, ritme itu mungkin tampak lebih pelan daripada sebelumnya. Namun, di balik penurunan gempa dan kabut yang menutupi puncak, tekanan terus terakumulasi. (ef linangkung)