
KabarJawa.com– Pada Sabtu (3/4/2026) dini hari, Gunung Merapi paling aktif di Indonesia ini meluncurkan dua kali awan panas guguran yang mengarah ke sektor barat daya.
Peristiwa ini menambah ketegangan warga yang tinggal di sekitar lereng, sekaligus menegaskan bahwa Merapi masih berada dalam fase berbahaya.
Awan Panas Sabtu Dini Hari
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi, Agus Budi Santosa, menyampaikan bahwa awan panas pertama terjadi tepat pukul 00.06 WIB.
Material panas meluncur hingga jarak sekitar 2.000 meter dengan amplitudo maksimum 80 mm dan durasi mencapai 146,3 detik.
Guguran tersebut mengarah ke hulu Kali Sat dan Kali Putih, dua jalur yang selama ini menjadi langganan aliran material vulkanik.
Pada pukul 04.23 WIB, awan panas kedua meluncur sejauh 1.200 meter dengan amplitudo 27,04 mm dan durasi 126,79 detik. Kali ini, aliran mengarah ke hulu Kali Krasak, memperluas potensi ancaman di wilayah barat daya.
Suara gemuruh yang mengiringi luncuran awan panas itu terdengar hingga beberapa kilometer dari puncak. Warga yang sudah terbiasa dengan karakter Merapi tetap memilih meningkatkan kewaspadaan.
Sepanjang hari pengamatan, aktivitas Merapi tidak hanya berhenti pada awan panas. Petugas mencatat 155 kali guguran lava dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter.
Selain itu, terjadi pula 80 gempa hybrid atau fase banyak, yang menjadi indikasi pergerakan magma di dalam tubuh gunung masih berlangsung aktif.
Secara visual, puncak Merapi tampak jelas dengan kepulan asap kawah berwarna putih yang membumbung setinggi 425 meter. Cuaca yang bervariasi, mulai dari cerah hingga mendung, tidak menghalangi pengamatan intensif petugas.
Status Merapi
Berdasarkan laporan resmi dari Badan Geologi melalui sistem MAGMA, status aktivitas Merapi masih berada pada Level III atau Siaga.
Status ini menandakan adanya potensi erupsi yang dapat terjadi sewaktu-waktu, terutama dalam bentuk awan panas guguran.
Zona bahaya pun telah dipetakan secara rinci. Pada sektor selatan hingga barat daya, ancaman mencakup Sungai Boyong hingga 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer.
Sementara itu, sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.
Pihak berwenang menegaskan bahwa suplai magma ke permukaan masih berlangsung. Kondisi ini membuka peluang terjadinya awan panas susulan, terutama di area yang sudah teridentifikasi sebagai jalur aliran material vulkanik.
Masyarakat sebaiknya menjauhi seluruh daerah potensi bahaya, termasuk alur sungai yang berhulu di Merapi. Aktivitas di kawasan rawan harus dihentikan demi keselamatan. Selain itu, warga juga harus mewaspadai potensi lahar, terutama saat hujan turun di sekitar puncak.***(ef linangkung)