
KabarJawa.com – Gunung Merapi kembali menunjukkan denyut aktivitas vulkaniknya yang belum mereda.
Dalam sepekan terakhir, gunung itu masih memuntahkan guguran lava pijar dan memicu awan panas guguran hingga dua kilometer dari puncak.
Meski intensitas kegempaan tercatat menurun, para ahli memastikan suplai magma dari dalam perut bumi masih terus berlangsung.
Kondisi tersebut membuat status Gunung Merapi tetap berada pada Level III atau Siaga.
Awan Panas Guguran Merapi Juni
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, mengatakan aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi dan didominasi erupsi efusif atau keluarnya magma secara perlahan ke permukaan.
“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya,” ujarnya dalam laporan aktivitas Gunung Merapi periode 12 hingga 18 Juni 2026.
Selama periode pengamatan, cuaca di sekitar Gunung Merapi umumnya cerah pada pagi dan malam hari.
Namun, memasuki siang hingga sore, kabut kerap menyelimuti kawasan puncak sehingga membatasi pengamatan visual.
Meski demikian, petugas masih dapat mengamati aktivitas vulkanik yang terjadi.
Sepanjang pekan ini, Merapi tampak terus mengeluarkan asap putih dengan intensitas tipis hingga tebal. Tinggi kolom asap bervariasi antara 25 meter hingga 425 meter dari puncak.
Yang menjadi perhatian, BPPTKG mencatat empat kali awan panas guguran. Material panas itu meluncur hingga sejauh dua kilometer ke arah hulu Kali Krasak dan Kali Sat/Putih.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tumpukan material vulkanik di puncak masih mengalami ketidakstabilan.
Ketika sebagian kubah lava runtuh, material panas langsung meluncur mengikuti lereng dan alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
Tidak hanya awan panas guguran, aktivitas guguran lava juga masih berlangsung intensif. Petugas mencatat lima kali guguran lava ke arah hulu Kali Boyong dengan jarak luncur maksimal dua kilometer.
Selain itu, terjadi 57 kali guguran ke arah Kali Krasak dengan jarak luncur hingga dua kilometer.
Aktivitas serupa juga terjadi di Kali Bebeng sebanyak 16 kali dengan jarak luncur maksimal 1,9 kilometer.
Sementara itu, guguran terbanyak mengarah ke Kali Sat/Putih yang mencapai 88 kali dengan jarak luncur maksimum 2,5 kilometer.
Deretan angka tersebut memperlihatkan bahwa Merapi masih terus melepaskan material vulkanik dari puncaknya hampir setiap hari.
Kubah Lava Barat Daya Menyusut
BPPTKG juga melakukan survei menggunakan drone pada 11 Juni 2026. Tim memanfaatkan foto udara dan foto termal untuk memotret perkembangan terbaru kubah lava yang menjadi indikator penting aktivitas Merapi.
Hasil analisis menunjukkan volume Kubah Barat Daya mengalami pengurangan sekitar 10.300 meter kubik. Saat ini volume kubah tersebut tercatat sebesar 4.016.400 meter kubik.
Penyusutan volume kubah umumnya terjadi akibat proses guguran material yang terus berlangsung dari bagian puncak.
Sementara itu, Kubah Tengah tidak menunjukkan perubahan signifikan. Volume kubah ini tetap berada pada angka 2.368.800 meter kubik.
Meski volumenya stabil, suhu Kubah Tengah justru mengalami peningkatan.
Data termal menunjukkan suhu Kubah Barat Daya berada pada kisaran 243 derajat Celsius atau relatif sama dibandingkan pengukuran sebelumnya.
Namun, suhu Kubah Tengah meningkat sekitar 20 derajat Celsius menjadi 233,7 derajat Celsius.
Kenaikan suhu tersebut menunjukkan bahwa aktivitas panas di dalam tubuh gunung masih berlangsung dan menjadi salah satu indikator adanya suplai magma yang terus bergerak menuju permukaan. (ef linangkung)