
KabarJawa.com– Di tengah perlambatan ekonomi global, industri jasa keuangan Indonesia terbukti tangguh. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) nasional masih terjaga hingga akhir Triwulan III 2025.
Dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Oktober 2025, OJK menilai ketahanan sistem keuangan Indonesia mampu menjadi penopang utama perekonomian nasional di tengah tekanan global yang tak kunjung reda.
Indonesia Tetap Solid
Perekonomian dunia terus menghadapi badai ketidakpastian. Di Amerika Serikat, pasar tenaga kerja mulai tertekan akibat government shutdown dan potensi default sejumlah korporasi besar.
Di Tiongkok, permintaan domestik melemah dan sektor properti masih terpuruk. Sementara di Eropa, gejolak politik di Prancis dan penurunan peringkat utang memperparah stagnasi ekonomi kawasan.
Namun, di tengah ketegangan itu, ekonomi Indonesia tetap kokoh. Data menunjukkan, pertumbuhan ekonomi nasional pada Triwulan III 2025 mencapai 5,04 persen (yoy). Indeks manufaktur (PMI) pun bertahan di zona ekspansi.
“Kita tetap optimistis karena fondasi ekonomi nasional cukup kuat, sementara sektor jasa keuangan terus berfungsi dengan baik dalam menyalurkan pembiayaan ke sektor riil,” ujar M. Ismail Riyadi, Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi OJK.
Kinerja pasar modal Indonesia sepanjang Oktober 2025 menunjukkan tren positif. IHSG menembus rekor tertinggi sepanjang masa di level 8.274,34 pada 23 Oktober, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp15.560 triliun.
Volume transaksi saham juga mencetak rekor baru dengan nilai rata-rata harian mencapai Rp25,06 triliun.
Jumlah investor domestik melonjak pesat. OJK mencatat penambahan 520 ribu investor baru hanya dalam sebulan, membuat total investor pasar modal mencapai 19,18 juta orang, tumbuh 29,01 persen secara tahunan.
“Lonjakan jumlah investor menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal dalam negeri,” kata Ismail Riyadi.
Sementara itu, Bursa Karbon Indonesia juga mencatat geliat baru. Hingga Oktober 2025, total volume transaksi karbon mencapai 1,6 juta tCO₂e dengan nilai akumulatif Rp78,5 miliar. Inisiatif ini mempertegas peran Indonesia dalam upaya transisi energi bersih.
Industri Jasa Keuangan
Sektor perbankan terus menunjukkan kinerja impresif. Hingga September 2025, kredit tumbuh 7,70 persen yoy menjadi Rp8.162,8 triliun. Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 11,81 persen yoy menjadi Rp9.695,4 triliun.
Rasio kredit bermasalah (NPL) masih terkendali di 2,24 persen (gross) dan 0,87 persen (net). Rasio kecukupan modal (CAR) juga tinggi di angka 26,15 persen, jauh di atas ambang batas aman.
“Kinerja perbankan Indonesia masih sangat sehat. Likuiditas terjaga, permodalan kuat, dan tingkat risiko tetap rendah,” tegas Ismail.
Tak hanya itu, OJK juga gencar menindak praktik keuangan ilegal. Hingga akhir Oktober, OJK memblokir lebih dari 29.900 rekening terkait judi daring hasil kerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital.
Sektor asuransi dan dana pensiun (PPDP) mencatat pertumbuhan moderat namun solid. Total aset industri asuransi mencapai Rp1.181 triliun, tumbuh 3,39 persen yoy, sementara aset dana pensiun meningkat 8,18 persen yoy menjadi Rp1.622 triliun.
Meskipun premi asuransi jiwa menurun tipis, asuransi umum dan reasuransi tetap tumbuh 3,38 persen.
Tingkat solvabilitas industri masih sangat kuat dengan RBC mencapai 481,94 persen untuk asuransi jiwa dan 326,38 persen untuk asuransi umum, jauh di atas batas minimum 120 persen.
OJK juga mencatat kemajuan luar biasa dalam sektor inovasi teknologi keuangan (ITSK) dan aset digital. Hingga Oktober 2025, tercatat 30 penyelenggara ITSK resmi terdaftar.
Sementara itu, nilai transaksi aset kripto melonjak 27,64 persen menjadi Rp49,28 triliun hanya dalam sebulan.
Total pengguna aset kripto kini mencapai 18,61 juta orang, menunjukkan meningkatnya minat publik terhadap aset digital yang diatur dengan lebih transparan. Pertumbuhan aset digital menjadi peluang sekaligus tantangan.
“OJK berkomitmen memastikan inovasi berjalan seimbang dengan pelindungan konsumen,” ujar Ismail Riyadi.
Literasi dan Inklusi Keuangan Meluas
Dalam aspek literasi dan pelindungan konsumen, OJK mencatat hasil spektakuler. Sepanjang 2025, telah digelar 4.768 kegiatan edukasi keuangan yang menjangkau lebih dari 8,3 juta peserta.
Melalui program GENCARKAN dan Bulan Inklusi Keuangan, OJK berhasil membuka jutaan akses keuangan baru, dari rekening perbankan hingga polis asuransi.
Selain itu, Satgas PASTI telah menindak 1.556 pinjol ilegal dan 285 investasi bodong sepanjang 2025, menyelamatkan masyarakat dari potensi kerugian besar.
Layanan aduan Kontak 157 kini beroperasi 24 jam, memperkuat perlindungan konsumen jasa keuangan.
Hingga Triwulan III 2025, OJK membuktikan bahwa industri jasa keuangan Indonesia tetap menjadi jangkar stabilitas di tengah ketidakpastian global.
Dengan pengawasan ketat, digitalisasi inklusif, dan penegakan hukum yang tegas, OJK memastikan setiap lini keuangan, dari bank hingga aset digital, berjalan sehat, transparan, dan berpihak pada masyarakat.
“Fondasi keuangan kita kokoh. Masyarakat harus terus optimistis, karena sektor jasa keuangan Indonesia tidak hanya stabil, tetapi juga terus tumbuh, berinovasi, dan berkontribusi nyata bagi ketahanan ekonomi nasional,” tutup M. Ismail Riyadi. (ef linangkung)