
KabarJawa.com– Dalam periode 13–19 Maret 2026, gunung api paling aktif di Indonesia ini tidak hanya memuntahkan guguran lava, tetapi juga meluncurkan awan panas yang mengalir ke lereng barat daya.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menegaskan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Merapi meningkat, tapi masih berada pada level tinggi dengan status siaga.
Data terbaru menunjukkan suplai magma masih berlangsung dan berpotensi memicu awan panas guguran di zona berbahaya.
Aktivitas Gunung Merapi Meningkat
Selama sepekan, Gunung Merapi tercatat meluncurkan lima kali awan panas guguran. Awan panas tersebut meluncur sejauh maksimal 1.600 meter ke arah barat daya, menyusuri hulu Kali Boyong, Kali Krasak, dan Kali Sat/Putih.
Kemudian, tim pemantau mencatat 2 kali guguran ke Kali Boyong sejauh 2.000 meter, 94 kali ke Kali Krasak sejauh maksimal 2.000 meter, 26 kali ke Kali Bebeng sejauh maksimal 2.000 meter dan 91 kali ke Kali Sat/Putih sejauh maksimal 2.000 meter
Rentetan aktivitas ini menggambarkan aliran material pijar yang terus bergerak dari puncak, seolah Merapi sedang “bernapas” melalui lereng-lerengnya.
Survei udara menggunakan drone pada 16 Maret 2026 mengungkap perubahan signifikan pada morfologi puncak. Volume kubah lava di sektor barat daya berkurang sekitar 23.300 meter kubik, kini tersisa 4.020.600 meter kubik.
Sebaliknya, kubah tengah tidak mengalami perubahan volume, tetap berada di angka 2.368.800 meter kubik. Namun, suhu di bagian ini justru meningkat sebesar 3,9°C menjadi 151,7°C. Sementara suhu kubah barat daya relatif stabil di angka 218,5°C.
Perubahan ini menunjukkan dinamika internal yang kompleks, ketika satu bagian kehilangan material, bagian lain justru mengalami peningkatan energi panas.
Jaringan seismik mencatat total 1.565 kejadian gempa dalam sepekan, dengan rincian 5 gempa awan panas guguran, 8 gempa vulkanik dangkal, 604 gempa fase banyak, 936 gempa guguran, 2 gempa frekuensi rendah dan 910 gempa tektonik
Jumlah ini meningkat daripada minggu sebelumnya, menandakan intensitas aktivitas magma yang terus menguat di dalam tubuh gunung.
Zona Bahaya Meluas
Meski aktivitas Gunung Merapi meningkat, data deformasi tidak menunjukkan perubahan signifikan. Pengukuran menggunakan EDM dan GPS memperlihatkan kestabilan jarak dan posisi.
Hal tersebut berarti belum ada tekanan besar yang menyebabkan penggembungan signifikan pada tubuh gunung. Namun, stabilitas ini bukan berarti aman. Justru dalam kondisi seperti ini, potensi erupsi efusif, berupa aliran lava dan awan panas, tetap tinggi dan berbahaya.
Hujan sempat mengguyur kawasan Merapi, dengan intensitas tertinggi mencapai 20,48 mm/jam pada 15 Maret 2026 di Pos Babadan. Meski belum terjadi aliran lahar tambahan, ancaman tetap mengintai, terutama jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.
Material vulkanik yang menumpuk di lereng dapat sewaktu-waktu terseret air dan berubah menjadi aliran lahar yang mematikan.
BPPTKG menetapkan potensi bahaya saat ini meliputi sektor selatan–barat daya: Kali Boyong hingga 5 km, serta Kali Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 km.
Sektor tenggara: Kali Woro hingga 3 km dan Kali Gendol hingga 5 km. Radius 3 km dari puncak untuk potensi lontaran material eksplosif
Pemerintah daerah di Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten diminta meningkatkan mitigasi, termasuk kesiapan evakuasi dan edukasi masyarakat.
Masyarakat di sekitar lereng sebaiknya tidak beraktivitas di zona bahaya dan selalu mengikuti informasi resmi. Sebab di Merapi, setiap getaran kecil bisa menjadi awal dari peristiwa besar. (ef linangkung)