
KabarJawa.com – Gunung Merapi kembali mengeluarkan awan panas guguran pada Minggu petang. Peristiwa tersebut terjadi pada pukul 17.30 WIB dengan jarak luncur sekitar 1.000 meter ke arah barat daya menuju hulu Kali Krasak.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat awan panas tersebut memiliki amplitudo maksimum 9,6 milimeter dengan durasi 202,9 detik.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menyatakan bahwa kejadian tersebut masih berada dalam karakter aktivitas Gunung Merapi yang saat ini berstatus Siaga.
“Peristiwa ini masih dalam karakter aktivitas Merapi yang berstatus Siaga,” ujar Agus.
Peristiwa tersebut menambah catatan aktivitas vulkanik Merapi pada hari yang sama. Sebelumnya, pada pukul 15.51 WIB, awan panas guguran juga tercatat meluncur sejauh 1,5 kilometer ke arah barat daya menuju hulu Kali Sat dan Kali Putih. Awan panas tersebut memiliki amplitudo maksimum 17,2 milimeter dengan durasi 134,86 detik.
Awan Panas Terbentuk dari Runtuhan Kubah Lava
Pada Minggu sore, puncak Gunung Merapi sesekali terlihat dari pos pengamatan meskipun kabut tipis menyelimuti kawasan gunung.
Pengamat melaporkan bahwa aktivitas kawah pada awalnya terpantau relatif stabil. Asap kawah berwarna putih terlihat tipis dengan tekanan lemah dan ketinggian sekitar 25 meter di atas puncak.
Kondisi tersebut berubah ketika material panas dari kubah lava mengalami runtuhan. Runtuhan tersebut memicu terbentuknya awan panas guguran yang bergerak menuruni lereng gunung.
Awan panas guguran merupakan campuran material vulkanik, gas panas, dan abu yang bergerak dengan kecepatan tinggi mengikuti lembah sungai.
Dalam kejadian Minggu petang tersebut, aliran awan panas bergerak menuju sektor barat daya. Wilayah hulu Kali Krasak menjadi jalur aliran material panas dari puncak gunung.
Aktivitas Guguran Lava Masih Terpantau
BPPTKG juga mencatat aktivitas kegempaan Gunung Merapi pada periode pengamatan pukul 06.00 hingga 12.00 WIB menunjukkan intensitas yang cukup aktif.
Pengamat mencatat sebanyak 37 gempa guguran dengan amplitudo antara 2 hingga 27 milimeter dan durasi 64 hingga 179 detik.
Selain itu, tercatat pula 24 gempa hybrid atau gempa fase banyak dengan amplitudo mencapai 35 milimeter.
Selama periode yang sama, pengamat juga mencatat lima kali guguran lava yang mengalir menuju sektor barat daya melalui jalur Kali Sat dan Kali Putih.
Jarak luncur maksimum lava tersebut mencapai sekitar 1.800 meter dari puncak Gunung Merapi.
Kondisi cuaca saat pengamatan menunjukkan langit berawan dengan suhu udara berkisar antara 23 hingga 24,2 derajat Celsius. Tingkat kelembapan udara tercatat antara 76 hingga 80,9 persen, sementara angin bertiup tenang ke arah timur.
Status Gunung Merapi Masih Level Siaga
Saat ini Gunung Merapi masih berada pada Level III atau status Siaga yang telah ditetapkan sejak 5 November 2020.
Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), suplai magma dari dalam tubuh Merapi masih berlangsung sehingga potensi awan panas guguran dapat terjadi sewaktu-waktu akibat runtuhan kubah lava di puncak.
Potensi bahaya saat ini terutama berada di sektor selatan hingga barat daya. Beberapa jalur sungai yang perlu diwaspadai antara lain Sungai Boyong dengan potensi jangkauan hingga lima kilometer serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng dengan potensi jangkauan hingga tujuh kilometer.
Selain itu, sektor tenggara juga memiliki potensi bahaya pada Sungai Woro dengan jangkauan hingga tiga kilometer dan Sungai Gendol hingga lima kilometer.
Apabila terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik berpotensi mencapai radius hingga tiga kilometer dari puncak gunung.
Masyarakat Diminta Tetap Waspada
BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di kawasan potensi bahaya yang telah ditetapkan serta menjauhi alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
Warga juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas guguran dan aliran lahar, terutama saat terjadi hujan di kawasan lereng Merapi.
Material vulkanik yang terbawa air hujan dapat memicu lahar di aliran sungai yang berhulu di gunung tersebut. Selain itu, masyarakat juga diminta mengantisipasi kemungkinan gangguan akibat abu vulkanik apabila terjadi erupsi.
Para peneliti terus memantau aktivitas Gunung Merapi melalui berbagai instrumen pemantauan yang dipasang di sejumlah titik lereng gunung. Apabila terjadi peningkatan aktivitas secara signifikan, tingkat aktivitas gunung akan dievaluasi kembali.
Masyarakat dapat mengikuti perkembangan terbaru aktivitas Merapi melalui layanan pemantauan resmi yang disediakan oleh BPPTKG.