
KabarJawa.com – Gunung Merapi menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan dengan meluncurkan dua kali awan panas guguran dalam rentang waktu kurang dari 12 jam.
Peristiwa ini mempertegas kondisi Merapi yang masih berada pada fase erupsi efusif dengan suplai magma yang aktif dari dalam perut bumi.
Berdasarkan data Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), rentetan awan panas ini terjadi pada Sabtu malam dan Minggu pagi, dengan fokus luncuran mengarah ke sektor barat daya.
Rincian Kejadian Awan Panas Guguran
- Sabtu, 11 April 2026 (Pukul 21.52 WIB): Awan panas guguran pertama tercatat memiliki amplitudo maksimum 22,68 mm dengan durasi 166,48 detik. Jarak luncur mencapai 1.500 meter (1,5 km) ke arah hulu Kali Boyong.
- Minggu, 12 April 2026 (Pukul 05.45 WIB): Insiden kedua tercatat dengan energi lebih besar, yakni amplitudo 47,9 mm dan durasi 166,16 detik. Arah luncuran tetap konsisten menuju hulu Kali Boyong.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menyatakan bahwa secara visual asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal setinggi 500 meter di atas puncak.
Selain awan panas, terpantau puluhan guguran lava dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter ke arah barat daya.
Potensi Bahaya dan Status Siaga
Hingga saat ini, status Gunung Merapi masih dipertahankan pada Level III (Siaga). BPPTKG mengingatkan adanya potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan hingga barat daya yang meliputi:
- Kali Boyong: Sejauh maksimal 5 km.
- Kali Bedog, Krasak, Bebeng: Sejauh maksimal 7 km.
- Sektor Tenggara (Kali Woro & Gendol): Sejauh maksimal 3–5 km.
“Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apa pun di daerah potensi bahaya. Selain itu, perlu diwaspadai bahaya lahar dingin di alur sungai yang berhulu di Merapi, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi,” ujar Agus Budi Santosa dalam laporan resminya, Minggu (12/4/2026).
Mitigasi dan Gangguan Abu Vulkanik
Selain ancaman material primer, masyarakat juga diminta mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik yang dapat menyebar mengikuti arah angin.
Penggunaan masker dan pelindung mata sangat disarankan jika terjadi hujan abu guna meminimalisir dampak kesehatan.
Pemerintah daerah melalui BPBD di wilayah terdampak (Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten) terus melakukan koordinasi untuk memastikan kesiapsiagaan jalur evakuasi dan posko darurat tetap terjaga di tengah fluktuasi aktivitas gunung paling aktif di Indonesia ini.