
KABARJAWA — Di balik megahnya tembok Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, tak hanya budaya dan sejarah yang dijaga dengan ketat. Ada sekelompok orang yang bekerja senyap namun strategis menjaga aspek yang kerap terabaikan: lingkungan hidup.
Mereka adalah bagian dari Bebadan Pangreksa Loka (BPL), sebuah lembaga di dalam Keraton yang memiliki mandat khusus: menjaga kelestarian lingkungan di sekitar keraton serta memastikan sumber daya alam tetap terjaga untuk generasi mendatang.
Di bawah kepemimpinan RM Gusthilantika Marrel Suryokusumo, BPL Keraton Yogyakarta menunjukkan peran nyata dalam mengelola, merawat, dan melestarikan lanskap ekologis yang menjadi bagian dari ekosistem budaya keraton.
Dalam wawancara eksklusif, Gusthilantika memaparkan bahwa lembaga ini bukan sekadar pelengkap struktur kerajaan, tetapi merupakan organ vital dalam menjaga keseimbangan antara budaya dan alam.
“Keraton Yogyakarta berdiri bukan hanya sebagai pusat budaya, tetapi juga sebagai entitas ekologis yang terhubung dengan tanah, air, dan kehidupan sekitar. BPL hadir untuk memastikan bahwa koneksi ini tetap lestari,” ungkap Gusthilantika.
BPL secara aktif mengelola lahan pertanian tradisional yang berada di sekitar wilayah keraton. Mereka tidak hanya menanam, tetapi juga menjaga praktik bertani yang ramah lingkungan dan berbasis kearifan lokal.
Hal ini bertujuan untuk mempertahankan nilai-nilai agraris yang telah melekat dalam struktur sosial masyarakat Yogyakarta sejak zaman Mataram.
Selain itu, lembaga ini juga terlibat dalam konservasi air, sebuah isu yang makin krusial di tengah krisis iklim global.
BPL melakukan berbagai langkah konkret seperti penanaman pohon, pembuatan sumur resapan, hingga pengembangan sistem irigasi yang berkelanjutan. Semua dilakukan dengan pendekatan gotong royong dan partisipatif, melibatkan masyarakat sekitar.
“Kami sadar air bukan hanya kebutuhan, tapi juga warisan. Sejak dulu, keraton hidup berdampingan dengan sungai, mata air, dan ladang yang subur. Tugas kami adalah menjaganya agar tetap mengalir untuk anak cucu,” lanjut Gusthilantika.
Menjawab Tantangan Iklim dengan Program Hijau
BPL tidak tinggal diam melihat dampak perubahan iklim. Melalui program green economy, mereka mendorong penggunaan energi terbarukan dan memanfaatkan sumber daya seperti biomassa dari limbah pertanian.
Mereka juga mengembangkan tanaman pakan ternak yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga bernilai ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Kerja sama lintas sektor menjadi kunci keberhasilan BPL. Mereka menggandeng pegiat lingkungan, akademisi, seniman, dan komunitas untuk menciptakan sinergi dalam pelestarian ruang hidup.
Bahkan, beberapa proyek konservasi mereka melibatkan unsur seni sebagai media kampanye ekologi yang menyentuh.
Sinergi Budaya dan Ilmu Pengetahuan
Dalam pendekatannya, BPL menggabungkan nilai-nilai tradisional dengan ilmu pengetahuan modern. Upacara adat seperti labuhan atau wilujengan bumi tetap dijalankan sebagai bentuk penghormatan pada alam. Namun di sisi lain, mereka juga menyusun rencana konservasi berbasis data dan teknologi.
Kehadiran BPL menjadi contoh bahwa pelestarian lingkungan tidak selalu harus bertolak belakang dengan nilai budaya. Sebaliknya, budaya justru menjadi kendaraan paling ampuh untuk menyampaikan pesan-pesan ekologi secara mendalam dan menyentuh.
“Kalau kita bicara pelestarian, maka kita bicara tentang kesinambungan. Dan keraton, sebagai penjaga nilai-nilai, punya tanggung jawab moral untuk memastikan kesinambungan itu terjadi—di budaya, dan juga di alam,” tutup RM Gusthilantika.
Warisan Hijau untuk Masa Depan
Dengan semakin menguatnya kesadaran ekologis di kalangan masyarakat, peran BPL Keraton Yogyakarta menjadi makin relevan.
Di saat banyak wilayah menghadapi degradasi lingkungan, langkah-langkah kecil namun terukur dari lembaga ini memberi harapan bahwa harmoni antara manusia dan alam masih bisa dijaga—bahkan dari jantung kebudayaan itu sendiri.
BPL bukan hanya menjaga alam; mereka sedang menulis bab penting dari kisah pelestarian warisan hijau Yogyakarta, yang kelak akan dibaca oleh generasi masa depan sebagai warisan yang tak ternilai.***