
KabarJawa.com— Lonjakan wisatawan yang memadati jalur wisata Jogja–Wonosari pada musim libur Lebaran tahun ini ternyata tidak otomatis mendongkrak penjualan oleh-oleh khas daerah, khususnya walang goreng.
Para pedagang justru menghadapi kenyataan pahit. Ramainya arus kendaraan tidak sebanding dengan jumlah pembeli yang berhenti.
Penjualan Walang Goreng
Di satu sisi, kendaraan wisatawan terus mengalir tanpa henti menuju destinasi populer di Gunungkidul. Namun di sisi lain, lapak-lapak pedagang walang goreng di sepanjang jalur utama terlihat sepi transaksi.
Salah satu pedagang, Yati (52), secara langsung merasakan penurunan penjualan yang cukup signifikan daripada tahun sebelumnya. Ia mengungkapkan bahwa meskipun jumlah wisatawan meningkat, kebiasaan mereka berubah.
“Tahun ini tidak seperti tahun lalu. Wisatawan memang ramai, tapi banyak yang hanya lewat tanpa berhenti membeli,” ujarnya dengan nada kecewa.
Badarmiyati menilai ada beberapa faktor utama yang menyebabkan penurunan tersebut. Salah satunya adalah belum kembalinya rombongan bus wisata dalam jumlah besar. Padahal, rombongan semacam ini biasanya menjadi penyumbang utama pembelian dalam jumlah banyak.
Selain itu, ia juga menghadapi persaingan yang semakin ketat. Jumlah pedagang walang goreng kini meningkat pesat di sepanjang jalur wisata.
“Sekarang yang jualan tambah banyak sekali, hampir di setiap titik ada,” jelasnya.
Kondisi ini berdampak langsung pada angka penjualan. Jika pada akhir pekan di tahun-tahun sebelumnya ia mampu menjual lebih dari 50 toples walang goreng, kini target tersebut terasa sulit dicapai.
“Sekarang belum tentu sampai 50 toples,” ungkapnya.
Meski menghadapi tekanan dari sisi penjualan dan kenaikan harga bahan baku, Badarmiyati tetap mempertahankan harga jual.
Ia memilih tidak menaikkan harga yang saat ini dipatok Rp25 ribu per wadah, meskipun biaya produksi, termasuk minyak goreng, mengalami kenaikan.
“Saya tidak tega kalau harus menaikkan harga. Yang penting tetap ada yang beli, walaupun sedikit-sedikit,” katanya.
Dalam menjalankan usahanya, Yati memperoleh bahan baku walang dari pengepul di wilayah Playen. Ia kemudian mengolahnya sendiri menggunakan bumbu sederhana sebelum menjualnya kepada wisatawan.

Harapan Pedagang
Di tengah kondisi yang kurang menguntungkan ini, Badarmiyati dan para pedagang lainnya tetap menyimpan harapan.
Mereka berharap puncak arus mudik dan libur Lebaran akan membawa perubahan positif, terutama jika rombongan wisata mulai berdatangan dan lebih banyak kendaraan berhenti.
Harapan tersebut tidak sepenuhnya tanpa dasar. Minat terhadap walang goreng sebagai oleh-oleh khas daerah masih cukup tinggi, terutama di kalangan wisatawan luar daerah.
Salah seorang pembeli, Dika, mengaku tetap menjadikan walang goreng sebagai buah tangan favorit.
“Teman-teman di Jakarta suka, karena ini khas dan jarang ditemukan di tempat lain,” ujarnya.
Dika juga menilai harga yang ditawarkan pedagang masih tergolong terjangkau. Ia berharap harga tersebut tetap stabil agar daya tarik produk khas ini tidak berkurang.
Situasi ini menggambarkan dinamika unik sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Ramainya kunjungan wisata tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan pelaku usaha kecil.
Para pedagang seperti Yati kini hanya bisa bertahan sambil berharap arus wisata yang deras suatu saat benar-benar membawa berkah, bukan sekadar lalu lintas yang berlalu tanpa jejak. (ef linangkung)