
KabarJawa.com — Memasuki musim kemarau, para petani di Kabupaten Gunungkidul tidak hanya pusing memikirkan ancaman kekeringan lahan.
Ancaman laten lain kini datang dari kawanan monyet ekor panjang (MEP) yang dilaporkan bergerak semakin agresif keluar dari area hutan.
Satwa liar ini menjarah lahan pertanian, merusak pekarangan, hingga nekat menyusup ke permukiman padat untuk mencari makan.
Di area pesisir selatan, timur, hingga wilayah utara Gunungkidul, ketegangan antara warga dan kawanan primata ini terus meningkat.
Beberapa warga di wilayah Tepus bahkan mengaku sering dikagetkan oleh suara gaduh dari atas genting rumah mereka pada siang hari, yang ternyata berasal dari gerombolan monyet yang sedang mengincar buah-buahan atau jemuran pangan.
Ladang Singkong Rusak dan Kamar Tidur Diacak-acak
Lurah Purwodadi, Kapanewon Tepus, Sagiyanto, mengonfirmasi bahwa intensitas serangan MEP melonjak tajam seiring menipisnya cadangan makanan dan air di habitat asli mereka.
Akibatnya, tanaman ketela dan singkong yang sedianya siap panen kini hancur dijarah.
Serangan ini terjadi merata di sepanjang jalur pesisir dari Purwosari hingga Girisubo. Menurut Sagiyanto, kawanan monyet kini tidak lagi takut dengan keberadaan manusia dan mulai berani mendekati area dapur.
“Kalau permukiman yang dekat hutan atau ladang, monyet sampai masuk ke pekarangan. Mereka mengambil buah-buahan yang ada, bahkan mengambil telur dan berusaha masuk ke dalam rumah,” ungkap Sagiyanto, Jumat, 26 Juni 2026.
Setiap hari, para petani terpaksa membagi waktu luang mereka hanya untuk berjaga di ladang. Berbagai trik tradisional seperti memukul kaleng bekas, memasang jaring pengaman, hingga berteriak-teriak secara bergantian sudah dicoba.
Namun, taktik ini hanya efektif sesaat; begitu ladang sepi ditinggal pulang, kawanan monyet akan kembali turun dan melahap sisa tanaman hortikultura yang ada.
Dari Semin hingga Tepus: Pemerintah Siapkan Skema Sterilisasi
Kondisi serupa juga dilaporkan dari wilayah utara, tepatnya di Kalurahan Karangsari, Kapanewon Semin.
Lurah Karangsari, Supriyana, menyebutkan bahwa dari 13 padukuhan di wilayahnya, hampir seluruh lahan pertanian terdampak.
Titik terparah saat ini dilaporkan berada di Padukuhan Kweni, di mana petani harus adu cepat menyelamatkan sisa panen jagung mereka.
“Sekarang yang diserang di Padukuhan Kweni. Harus ada solusi agar serangan berkurang dan lahan tetap bisa berproduksi untuk pertanian,” ujarnya.
Kepala Bidang Konservasi dan Kerusakan Lahan Dinas Lingkungan Hidup Gunungkidul, Hana Kadaton Adinoto mengatakan, konflik antara masyarakat dan monyet ekor panjang masih menjadi tantangan besar karena wilayah Gunungkidul memiliki habitat alami satwa tersebut yang cukup luas.
Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan langkah penanganan jangka pendek, menengah hingga jangka panjang.
Untuk jangka pendek, pemerintah menjalankan program pemberian pakan selama 10 bulan melalui proyek percontohan di Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus.
Program ini diharapkan mampu mengurangi pergerakan kawanan monyet menuju lahan pertanian warga.
Selanjutnya, pada tahap jangka menengah pemerintah mulai melakukan penanaman berbagai jenis tanaman buah yang menjadi makanan alami monyet ekor panjang.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan program pengendalian populasi melalui sterilisasi agar jumlah satwa dapat lebih terkendali tanpa merusak keseimbangan ekosistem.
Sementara itu, strategi jangka panjang diarahkan pada pemulihan habitat alami satwa liar. Pemerintah mulai menanam berbagai jenis pohon berkanopi lebar dan tanaman buah yang dapat menjadi sumber pakan alami di kawasan hutan.
Beberapa jenis tanaman yang dikembangkan antara lain kepel, bintaro, loh, serta berbagai tanaman perindang lainnya.
Melalui langkah tersebut, pemerintah berharap habitat monyet ekor panjang kembali mampu menyediakan kebutuhan pakan sehingga satwa tidak lagi turun ke kawasan pertanian maupun permukiman warga.
Selain penanganan di lapangan, Dinas Lingkungan Hidup juga terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai cara menghadapi konflik dengan monyet ekor panjang agar penanganan berlangsung lebih efektif dan tetap memperhatikan aspek konservasi.