
KabarJawa.com– Suasana pagi di Pasar Argosari Wonosari lebih sibuk dari biasanya. Deretan lapak sembako dipadati pembeli yang mulai bersiap menyambut Ramadan.
Di sela aktivitas tawar-menawar, rombongan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyusuri lorong pasar, menyapa pedagang satu per satu, dan mencatat pergerakan harga bahan pokok.
Tim Pengendali Inflasi Daerah DIY bersama Bupati Gunungkidul melakukan pemantauan intensif di Pasar Argosari Wonosari pada Selasa (24/2/2026) dan melanjutkan inspeksi ke Pasar Semin pada Rabu (25/2/2026).
Langkah ini mereka ambil untuk memastikan stabilitas pasokan serta mengukur dampak kenaikan harga terhadap masyarakat menjelang Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 2026.
Dalam kunjungan tersebut, TPID DIY menggandeng perwakilan Bank Indonesia, Dinas Perdagangan, Dinas Pertanian, serta Badan Intelijen Negara Daerah DIY.
Kolaborasi lintas sektor ini mereka perkuat demi menjaga inflasi tetap terkendali dan distribusi pangan berjalan lancar.
Harga Telur dan Cabai Naik
Hasil pantauan langsung menunjukkan adanya kenaikan harga pada sejumlah komoditas utama. Telur ayam, cabai, gula, dan minyak goreng mengalami peningkatan harga dalam beberapa pekan terakhir.
Kenaikan ini memicu kekhawatiran pedagang dan pembeli, meskipun lonjakan tersebut masih dalam kategori wajar menjelang Lebaran.
Kepala Biro Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) DIY, Eling Priswanto, menegaskan bahwa fluktuasi harga menjelang hari besar keagamaan memang kerap terjadi.
Ia memastikan pemerintah terus memperkuat koordinasi bersama Satgas Pangan dan pemerintah kabupaten/kota untuk menjaga kelancaran distribusi.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, langsung berdialog dengan para pedagang sembako. Ia mencatat harga telur dan cabai yang merangkak naik, namun tetap memastikan stok ayam, beras, dan daging masih aman setidaknya hingga satu minggu awal Ramadan.
“Kami sudah menjadwalkan kembali Operasi Pasar untuk menstabilkan harga. Sebelumnya kami juga melakukan intervensi untuk komoditas gula, minyak goreng, dan beras,” tegas Endah.
Pemerintah daerah juga mengusulkan penambahan pasokan barang dalam program stabilisasi harga di sejumlah pasar agar lebih banyak masyarakat dapat merasakan manfaatnya.
Endah menekankan bahwa pemerintah memikul tanggung jawab memastikan seluruh kebutuhan pokok masyarakat tersedia dalam jumlah cukup dan harga yang terjangkau.
Keluhan Pedagang Pakaian di Ramadan 2026
Namun, pemantauan kali ini tidak hanya menyoroti harga sembako. Di sudut lain pasar, para pedagang pakaian menyampaikan kisah berbeda. Ramadan yang dulu identik dengan lonjakan pembeli kini justru berbeda.
Arum, salah satu pedagang pakaian di Pasar Argosari, mengaku hanya mampu menjual satu potong pakaian dalam sehari.
“Sehari laku satu potong saja sekarang sudah alhamdulillah,” ujarnya.
Ia merasakan penurunan omzet secara bertahap sejak maraknya penjualan daring dan menjamurnya pasar modern.
Kini, ia menyaksikan banyak kios di sekitarnya memilih menutup pintu lebih awal, bahkan ada yang gulung tikar karena tidak mampu menutup biaya operasional.
Pantauan TPID DIY mencatat penurunan omzet pedagang pakaian hingga 50 persen. Persaingan dengan platform daring, perubahan perilaku konsumen, serta faktor regulasi memperberat langkah para pelaku usaha kecil di pasar tradisional.
Bupati Endah menyatakan akan melaporkan kondisi tersebut kepada pemerintah pusat sebagai bahan evaluasi.
Ia menegaskan bahwa pedagang pasar tradisional merupakan tulang punggung perekonomian masyarakat lokal yang harus mendapat perhatian serius.
“Kondisi ini akan kami laporkan ke pemerintah pusat. Kami ingin ada solusi konkret agar pedagang pasar tetap bertahan dan berkembang,” ujarnya.
Meski stok bahan pangan terpantau aman, pemerintah tetap mewaspadai potensi penurunan daya beli masyarakat apabila harga terus naik. Kenaikan harga yang tidak diimbangi peningkatan pendapatan dapat memicu perlambatan ekonomi di tingkat akar rumput.
Sinergi antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, TPID, dan Satgas Pangan akan terus diperkuat menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2026.
Pemerintah berkomitmen menjaga keseimbangan antara stabilitas harga, ketersediaan pasokan, dan keberlangsungan usaha pedagang kecil.
Para pedagang sembako berharap harga kembali stabil. Lalu, para pedagang pakaian menanti pembeli datang seperti tahun-tahun sebelumnya.
Ramadan bukan sekadar soal lonjakan konsumsi. Ramadan menjadi momentum ujian ketahanan ekonomi sekaligus solidaritas sosial.
Di Pasar Argosari dan Semin, kisah tentang harga sembako dan sepinya pembeli menjadi simbol harapan agar kesejahteraan tetap terjaga di tengah dinamika zaman. (ef linangkung)a34