
KabarJawa.com– Revitalisasi Pasar Terban akhirnya mencapai garis akhir. Pemerintah Kota Yogyakarta menuntaskan pembangunan pasar tradisional yang selama puluhan tahun menjadi nadi perekonomian warga tersebut.
Pasar Terban dijadwalkan mulai beroperasi secara resmi pada 10 Januari 2026, sekaligus menandai babak baru kehidupan para pedagang kecil yang menggantungkan hidupnya di sana.
Rampungnya revitalisasi Pasar Terban langsung memantik antusiasme para pedagang.
Sejak awal Januari, mereka mulai berdatangan untuk melihat langsung kondisi kios, memastikan fasilitas, serta menyusun rencana pemindahan barang dagangan.
Pasar yang kini berdiri dengan wajah baru itu tampil lebih modern, bersih, dan tertata, menghadirkan optimisme baru bagi pelaku usaha kecil di Kota Yogyakarta.
Pedagang Pasar Terban Baru
Pantauan di lokasi pada Selasa (6/1/2026) menunjukkan aktivitas pedagang yang semakin intens. Sejumlah pedagang tampak membuka kios, membersihkan area jualan, dan mencocokkan nomor kios masing-masing.
Mereka memanfaatkan waktu menjelang pembukaan untuk mempersiapkan segala kebutuhan agar bisa langsung berjualan saat pasar resmi dibuka.
Bangunan Pasar Terban kini menghadirkan suasana berbeda. Tata ruang yang rapi, sirkulasi udara yang lebih baik, serta fasilitas pendukung yang memadai menciptakan kenyamanan, baik bagi pedagang maupun calon pembeli.
Para pedagang berharap wajah baru pasar ini mampu menghidupkan kembali denyut ekonomi yang sempat melemah selama proses revitalisasi berlangsung.
Salah satu pedagang yang menyambut penuh harapan adalah Nanik, warga Kampung Pingit, Jetis.
Nanik menyatakan kegembiraannya saat melihat kios barunya di Pasar Terban. Ia menaruh harapan besar terhadap pasar yang telah menemaninya mencari nafkah selama hampir dua dekade.
“Harapannya tentu bisa jadi sumber rezeki baru. Pasarnya sekarang lebih bagus, lebih modern, dan bersih,” ujar Nanik.
Nanik telah berjualan di Pasar Terban selama hampir 20 tahun. Ia menjajakan berbagai kebutuhan pakan ternak, khususnya pakan ayam, mulai dari jagung, D1, D2, bekatul, hingga beragam jenis pakan lain.
Selama bertahun-tahun, Pasar Terban tidak hanya menjadi tempat berjualan, tetapi juga bagian dari perjalanan hidupnya.
Saat proses revitalisasi berlangsung, Nanik harus memindahkan lapaknya ke shelter sementara di kawasan Jalan Babaran.
Ia mengakui kondisi tersebut berdampak signifikan terhadap pendapatannya. Lokasi sementara yang kurang strategis membuat jumlah pembeli menurun, sehingga omzet penjualan ikut tergerus.
Harapan Para Pedagang
Kini, setelah revitalisasi selesai, Nanik kembali menaruh harapan besar. Ia berharap operasional Pasar Terban yang dijadwalkan pada 10 Januari 2026 mampu mengembalikan bahkan meningkatkan pendapatannya.
Untuk itu, ia merencanakan pemindahan seluruh barang dagangannya pada Rabu dan Kamis (7–8/1/2026).
“Saya pilih besok dan lusa supaya tidak tergesa-gesa, jadi lebih santai saat memindahkan barang-barang,” ungkapnya.
Di Pasar Terban yang baru, Nanik akan menempati kios nomor 134 di lantai satu. Ia menilai kios tersebut jauh lebih nyaman dibandingkan lapaknya terdahulu.
Kondisi kios yang bersih dan tertata membuatnya semakin percaya diri untuk kembali berjualan.
“Kiosnya lebih bersih, rapi, dan enak buat jualan,” katanya.
Antusiasme serupa juga datang dari Tutik, pedagang jajanan pasar yang telah lama berjualan di Pasar Terban.
Pada hari yang sama, Tutik turut mengecek kios barunya sekaligus memastikan kesiapan menjelang pembukaan pasar.
Di pasar ini, Tutik akan menempati kios nomor 350 di lantai dua. Ia mengaku terkesan dengan perubahan besar yang terjadi di Pasar Terban.
“Sekarang pasarnya bagus dan megah,” ujar Tutik.
Tutik merencanakan pemindahan barang dagangannya pada Jumat, 9 Januari 2026. Ia memilih memindahkan barang secara bersamaan dengan pedagang lainnya agar proses berjalan lebih mudah dan terkoordinasi.
“Rencananya hari Jumat bareng-bareng pedagang lain,” katanya.
Seperti Nanik, Tutik juga menaruh harapan besar terhadap Pasar Terban dengan wajah barunya. Ia meyakini kondisi pasar yang lebih nyaman dan modern akan menarik lebih banyak pengunjung.
Dengan meningkatnya jumlah pembeli, ia optimistis roda perekonomian pedagang kecil akan kembali berputar lebih kencang.
“Semoga dengan pasar yang baru ini, pembeli makin banyak dan omzet ikut meningkat,” harapnya.
Dengan kesiapan para pedagang yang mulai menata kios, Pasar Terban bersiap membuka lembaran baru sebagai pusat ekonomi rakyat yang lebih modern, nyaman, dan berdaya saing di jantung Kota Yogyakarta. (ef linangkung)