
KabarJawa.com – Imogiri selama ini dikenal sebagai tempat pemakaman raja-raja Mataram. Di sinilah para raja keturunan Sultan Agung dimakamkan dengan khidmat bak simbol keagungan dan kesinambungan dinasti Mataram Islam.
Namun, di balik catatan sejarah yang panjang itu, ternyata ada dua raja besar Mataram yang tidak dimakamkan di Imogiri. Lalu, mengapa hal ini bisa terjadi?
Jawabannya ternyata berhubungan erat dengan perjalanan sejarah yang penuh dinamika hingga peristiwa besar yang mewarnai masa pemerintahan keduanya.
Siapa Saja Dua Raja yang Tidak Dimakamkan di Imogiri?
Dua raja tersebut adalah Sunan Amangkurat I dan Sri Sultan Hamengku Buwana II. Keduanya merupakan sosok penting dalam sejarah Mataram yang kehidupannya sarat akan gejolak politik serta peperangan.
Berdasarkan catatan dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, kedua raja ini dimakamkan di tempat berbeda karena kondisi wafat mereka terjadi di luar Imogiri dan dipengaruhi oleh situasi besar pada masa itu.
Sunan Amangkurat I, misalnya, wafat dalam perjalanan menuju Batavia. Dalam perjalanan, tepatnya di daerah Wanayasa, Banyumas Utara, ia meninggal dunia.
Jenazahnya kemudian dimakamkan di Tegalarum, dekat Tegal. Karena wafatnya terjadi jauh dari pusat kekuasaan dan pada situasi genting, maka pemakamannya pun dilakukan di luar Imogiri.
Sementara itu, Sri Sultan Hamengku Buwana II wafat ketika Perang Diponegoro tengah berkecamuk. Karena kondisi perang serta keamanan yang tidak memungkinkan, jenazah Sang Raja tidak dibawa ke Imogiri.
Sri Sultan Hamengku Buwana II akhirnya dimakamkan di Pasarean Hastana Kitha Ageng, sebuah tempat yang kini dikenal sebagai kompleks pemakaman Kotagede.
Kisah Singkat Sunan Amangkurat I
Amangkurat I adalah raja keempat Kesultanan Mataram yang memerintah antara tahun 1646 hingga 1677. Ia merupakan putra dari Sultan Agung dan Raden Ayu Wetan.
Sejak kecil, Amangkurat I yang bernama asli Raden Mas Sayidin tumbuh dalam lingkungan istana yang kuat pengaruhnya dengan nilai-nilai kepemimpinan dan politik.
Setelah naik takhta pada tahun 1646, ia bergelar Susuhunan Amangkurat Senopati ing Alaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama, namun lebih dikenal dengan nama Amangkurat I. Masa pemerintahannya pun dikenal cukup kontroversial.
Biografi Sri Sultan Hamengku Buwana II
Sri Sultan Hamengku Buwana II lahir di lereng Gunung Sindoro pada 7 Maret 1750. Ia merupakan putra dari Sri Sultan Hamengku Buwono I dan Gusti Kanjeng Ratu Kadipaten, permaisuri kedua.
Masa kecilnya diwarnai oleh suasana peperangan melawan VOC, sehingga ia tumbuh menjadi pribadi yang tegas dan berkarakter kuat.
Ketika keluarga kerajaan akhirnya menetap di Keraton Yogyakarta setelah Perjanjian Giyanti, Raden Mas Sundoro, nama kecilnya, mulai hidup di dalam lingkungan keraton.
Ia menunjukkan kemampuan dan keberanian yang membuat ayahandanya mempercayainya untuk menjadi penerus tahta.
Pada tahun 1758, setelah dikhitan, ia resmi diangkat menjadi putra mahkota, dan pada tahun 1792, ia naik takhta menggantikan ayahnya.
Dalam berbagai catatan sejarah, Sri Sultan Hamengku Buwana II dikenal sebagai sosok yang pantang tunduk, bahkan ketika menghadapi tekanan kolonial.
Mengapa Mereka Tidak Dimakamkan di Imogiri?
Dari kisah di atas, dapat dipahami bahwa alasan kedua raja Mataram tersebut tidak dimakamkan di Imogiri karena kondisi sejarah dan keadaan saat mereka wafat.
Amangkurat I meninggal jauh dari istana, dalam perjalanan pelarian yang penuh tekanan. Sementara Hamengku Buwana II wafat ketika perang besar sedang berkecamuk.
Kedua peristiwa itu menjadi cerminan betapa dinamisnya perjalanan sejarah Mataram. Di samping itu, kini makam mereka tetap menjadi bagian penting dari sejarah hingga pengingat bahwa perjuangan, kekuasaan, dan pengorbanan selalu memiliki sisi manusiawi di baliknya.***