
KABARJAWa – Kemantren Mantrijeron kembali menegaskan kekuatannya sebagai kawasan unggulan Kota Yogyakarta melalui gelaran Nyawiji Fiesta ke-5.
Acara tersebut berlangsung meriah di Pendopo Wisma KRT Wiryo Sumitro, Kampung Kumendaman, Sabtu (12/7/2025).
Warga Mantrijeron sejak pagi menyiapkan panggung kehormatan bagi budaya, seni, kuliner, dan kekuatan komunitas yang hidup di wilayah mereka.
Pelaksanaan Nyawiji Fiesta ke-5
Hawa kebersamaan memenuhi Pendopo Wisma KRT Wiryo Sumitro saat satu per satu tamu undangan hadir dan warga mulai memadati lokasi dengan pakaian adat, batik, dan busana khas keroncong yang elegan.
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, berdiri di atas panggung sambil menatap antusiasme warga. Ia membuka sambutan dengan penuh kebanggaan.
Ia menegaskan Mantrijeron layak menjadi miniatur Kota Yogyakarta karena memiliki potensi lengkap mulai dari wisata religi, kuliner, seni, budaya, hingga kekuatan komunitas yang solid.
“Mantrijeron itu lengkap. Saya juga tinggal di sini dan saya tahu betul kekuatannya. Di sini ada wisata religi yang luar biasa, tokoh seni terus bermunculan, dan masyarakatnya juga aktif. Saya harap, Mantrijeron menjadi miniatur Kota Yogya yang sesungguhnya,” tegas Wawan, disambut tepuk tangan hadirin.
Ia menatap ke arah Kampung Kumendaman, kampung yang menjadi kebanggaan warga karena memiliki komunitas keroncong aktif satu-satunya di Kota Yogyakarta.
Ia menegaskan agar seni keroncong Kumendaman terus hidup, bahkan mengusulkan adanya pelatihan keroncong secara berkelanjutan untuk melahirkan generasi baru pecinta keroncong.
“Keroncong harus terus hidup di Kumendaman. Bila perlu, ada pelatihan berkelanjutan agar lahir banyak tokoh keroncong dari sini,” serunya.
Pemberdayaan Masyarakat
Wawan tidak hanya menyoroti potensi seni. Ia juga menekankan pentingnya memberdayakan ibu-ibu dalam kerajinan dan mendorong kegiatan seni untuk anak-anak.
Ia menilai pemberdayaan tersebut menjadi bagian dari pengembangan masyarakat berbasis kampung, sehingga potensi terus tumbuh dari bawah.
Ia menjelaskan Pemerintah Kota Yogyakarta memiliki program Sambang Kampung yang rutin dilakukan setiap hari Jumat.
Program tersebut, kata dia, menjadi langkah konkret menjaring potensi seni, budaya, wisata, dan UMKM di 14 Kemantren, termasuk Mantrijeron.
“Kami akan terus hadir bersama warga. Program Sambang Kampung itu wujud komitmen kami,” tegasnya.
Plt. Mantri Kemantren Mantrijeron, Eni Purwati, menambahkan Nyawiji Fiesta ke-5 berlangsung berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Ia menjelaskan selama tiga tahun terakhir, Nyawiji Fiesta terpusat di Lapangan Minggiran, namun tahun ini kegiatan digilir ke kampung-kampung agar penggalian potensi lebih fokus dan mendalam.
“Kita hidupkan lagi kesenian berbasis kampung. Kegiatan ini juga menjadi dukungan terhadap keberadaan Sumbu Filosofi Yogyakarta, dengan memunculkan potensi yang hidup dari masyarakatnya sendiri,” kata Eni dengan wajah semangat.
Sekretaris Kelurahan Suryodiningratan, Danang Dwi Wahyujati, menegaskan kegiatan ini mendapat dukungan penuh warga.
Ia mengaku bangga karena Nyawiji Fiesta menampilkan 12 UMKM lokal sejak sore hari, memberikan ruang kepada pelaku usaha kecil menengah untuk mempromosikan produk mereka.
Ia menyebut warga dan pengunjung menikmati pentas Jathilan Kuma Jati (Kumendaman Jathilan), kelompok seni yang berdiri sejak 2010.
Ia menjelaskan pengunjung juga terpukau dengan penampilan Tari Angujiwat dan Tari Wulang Ring yang menambah kekayaan nuansa budaya malam itu.
“Mantrijeron menjadi simbol hidup budaya dan semangat kebersamaan Kota Yogyakarta. Kami akan terus mengembangkan potensi yang ada secara berkelanjutan,” ujar Danang. (ef linangkung)