Sejarah dan Asal-usul Halal Bihalal, Tradisi Lebaran yang Mengakar di Indonesia

Bagikan :
Ilustrasi sejarah dan asal-usul Halal Bihalal di Indonesia (AI // Kabar Jawa)

KabarJawa.com – Tak bisa dipungkiri lagi, “Halal Bihalal” merupakan salah satu tradisi yang sangat melekat dan mengakar kuat di tengah masyarakat Indonesia setiap kali perayaan Hari Raya Idul Fitri tiba.

Seperti diketahui, tradisi ini identik dengan kegiatan saling bermaaf-maafan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Halal Bihalal sering kali dilakukan di berbagai lingkungan, mulai dari keluarga besar, lingkungan sekolah, instansi pemerintahan, hingga perusahaan swasta.

Kegiatan ini juga biasanya dikemas dalam acara silaturahmi yang menghadirkan banyak orang untuk saling bersalaman dan memohon maaf satu sama lain.

Menariknya, meskipun istilah Halal Bihalal terdengar seperti berasal dari bahasa Arab, tradisi ini disebut-sebut lahir dari budaya Indonesia.

Istilah tersebut tidak ditemukan dalam praktik budaya masyarakat Arab dan justru berkembang sebagai tradisi khas Nusantara yang terus diwariskan hingga sekarang.

Untuk itu, berdasarkan informasi yang dihimpun KabarJawa.com, berikut adalah penjelasan lengkap mengenai asal-usul tradisi Halal Bihalal serta sejarah panjang yang menyertainya.

Makna dan Pengertian Halal Bihalal

Merujuk pada laman resmi Kementerian Kemenko PMK, istilah Halal Bihalal memang memiliki nuansa bahasa Arab.

Secara linguistik, istilah tersebut terbentuk dari kata serapan “halal” yang disandingkan dengan kata “bi” yang dalam bahasa Arab berarti “dengan”.

Walaupun menggunakan kosakata serapan, istilah Halal Bihalal tidak dikenal dalam tradisi masyarakat di negara-negara Arab. Istilah ini sepenuhnya merupakan hasil kreativitas budaya masyarakat Indonesia.

Baca juga  Apa yang Dimaksud Lebaran Ketupat? Ini Sejarah dan Maknanya

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Halal Bihalal diartikan sebagai kegiatan saling memaafkan setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Biasanya kegiatan tersebut diselenggarakan di suatu tempat seperti auditorium atau aula dan dihadiri oleh sekelompok orang sebagai sarana mempererat tali silaturahmi.

Pengertian ini menggambarkan bahwa Halal Bihalal bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan momen khusus yang menjadi simbol rekonsiliasi serta upaya memperbaiki hubungan antarindividu setelah bulan Ramadhan.

Versi Sejarah Pertama – Diplomasi Politik Tahun 1948

Salah satu versi sejarah yang cukup dikenal mengenai lahirnya istilah Halal Bihalal berkaitan dengan kondisi politik Indonesia pada tahun 1948.

Berdasarkan catatan dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, disebutkan bahwa istilah tersebut diperkenalkan dalam konteks kenegaraan oleh KH. Wahab Chasbullah.

Pada masa itu, Indonesia yang baru merdeka menghadapi berbagai tantangan besar. Situasi politik di tingkat elite sedang memanas karena konflik dan perselisihan antar tokoh.

Di sisi lain, sejumlah pemberontakan juga terjadi di beberapa wilayah, seperti peristiwa DI/TII dan PKI Madiun.

Menjelang pertengahan Ramadhan, Presiden Soekarno memanggil KH. Wahab Chasbullah ke Istana untuk meminta pandangan mengenai cara menyatukan para tokoh politik yang sedang berselisih.

Dalam pertemuan tersebut, Kyai Wahab memberikan usulan agar diadakan sebuah pertemuan silaturahmi saat Idul Fitri.

Baca juga  Lokasi dan Jadwal Penukaran Uang Baru di Solo untuk Lebaran 2025

Namun Presiden Soekarno menginginkan istilah yang lebih menarik dibandingkan sekadar menyebut acara itu sebagai silaturahmi.

Itu gampang,” kata Kyai Wahab. “Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah halal bi halal.”

Usulan tersebut kemudian diterima oleh Presiden Soekarno. Pada Hari Raya Idul Fitri, para tokoh politik diundang ke Istana Negara untuk menghadiri acara yang diberi nama Halal bi Halal.

Sejak saat itu, kegiatan Halal Bihalal mulai rutin dilakukan di lingkungan pemerintahan. Tradisi ini kemudian menyebar luas ke masyarakat dan menjadi kebiasaan yang dilakukan setiap tahun setelah Lebaran.

Versi Sejarah Kedua – Promosi Pedagang Martabak di Solo

Selain kisah yang berkaitan dengan peristiwa politik nasional, terdapat pula versi lain mengenai asal-usul istilah Halal Bihalal yang berasal dari Kota Solo.

Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan mencatat bahwa pada sekitar tahun 1935 hingga 1936, ada seorang pedagang martabak asal India yang berjualan di kawasan Taman Sriwedari, Solo.

Baca juga  Niat dan Tata Cara Mandi Sunnah Sebelum Shalat Idul Fitri, Harus Mandi Kapan? Simak Keutamaannya

Pada masa itu martabak masih tergolong makanan baru bagi masyarakat Indonesia. Untuk menarik perhatian pembeli, pedagang tersebut dibantu oleh asisten pribumi yang mempromosikan dagangannya dengan meneriakkan kalimat, “Martabak Malabar, halal bin halal, halal bin halal!”

Ungkapan tersebut kemudian dikenal luas oleh masyarakat Solo. Lama-kelamaan, istilah tersebut menjadi populer dan dipakai sebagai sebutan santai untuk kegiatan mengunjungi Sriwedari saat Lebaran atau untuk menyebut pertemuan silaturahmi pada hari raya.

Popularitas istilah tersebut bahkan tercatat dalam kamus Jawa-Belanda karya Dr. Th. Pigeaud pada tahun 1938 dengan ejaan “alal behalal”.

Tradisi yang Memperkuat Ikatan Silaturahmi

Terlepas dari perbedaan versi mengenai asal-usulnya, Halal Bihalal kini telah berkembang menjadi bagian penting dari budaya perayaan Idul Fitri di Indonesia.

Tradisi ini menjadi sarana bagi masyarakat untuk mempererat hubungan sosial melalui saling memaafkan dan memperbaiki hubungan yang mungkin sempat renggang.

Halal Bihalal juga berkaitan erat dengan tradisi mudik. Banyak orang rela melakukan perjalanan jauh untuk pulang ke kampung halaman demi bisa bertemu keluarga besar dan saling memaafkan secara langsung pada momen Lebaran.

Dengan demikian, Halal Bihalal tidak hanya sekadar tradisi tahunan, tetapi juga menjadi simbol kuat nilai kebersamaan, persaudaraan, dan rekonsiliasi dalam kehidupan masyarakat Indonesia.***

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Roberto Carlos masih hidup pada Agustus 2026. Simak kondisi kesehatan, karier, dan perannya sebagai pemegang saham Fursan Hispania. (Foto: instagram/oficialrc3)
Apakah Roberto Carlos Masih Hidup Agustus 2026? Ini Kondisi Terbaru Legenda Brasil dan Real Madrid