
KabarJawa.com – Jika kita memperhatikan banyak alun-alun di Jawa, hampir selalu terdapat pohon beringin yang berdiri kokoh di tengahnya.
Keberadaan pohon besar ini bukan sekadar elemen hiasan ruang publik, melainkan menyimpan kisah panjang yang dipengaruhi oleh sejarah kerajaan dan kepercayaan masyarakat.
Pohon beringin telah lama menjadi simbol kekuasaan, perlindungan, dan nilai spiritual yang masih diyakini hingga sekarang.
Sejarah Pohon Beringin di Alun-Alun
Sejak masa kerajaan Jawa, pohon beringin sudah menjadi bagian penting dari konsep tata kota tradisional. Keberadaannya selalu dikaitkan dengan pusat pemerintahan, terutama alun-alun yang berfungsi sebagai ruang publik sekaligus tempat berlangsungnya acara kenegaraan.
Contoh paling terkenal ada di Alun-Alun Yogyakarta. Berdasarkan penjelasan dari laman resmi Keraton Yogyakarta, diketahui bahwa pohon beringin ini dipandang sebagai lambang pengayoman.
Pohon yang rimbun dan kuat dianggap mewakili peran raja dalam memberikan perlindungan kepada rakyatnya. Di kawasan keraton terdapat belasan beringin, bahkan beberapa di antaranya diberi nama khusus seperti Kiai Dewadaru dan Kiai Janadaru di Alun-Alun Utara.
Dari sinilah kita dapat melihat bahwa keberadaan pohon beringin di alun-alun berkaitan erat dengan filosofi kekuasaan dan tata pemerintahan pada masa lalu.
Pohon tersebut bukan ditanam secara acak, melainkan sudah direncanakan sebagai simbol yang membawa makna mendalam.
Makna Filosofis Pohon Beringin
Selain memiliki sejarah panjang, pohon beringin juga sarat dengan makna filosofis yang diperhatikan masyarakat Jawa selama berabad-abad.
Bentuknya yang besar dan teduh menggambarkan pemimpin yang ideal, yakni sosok yang mampu menaungi seluruh rakyatnya tanpa membedakan golongan.
Akar pohon beringin yang menjalar ke segala arah dipandang sebagai lambang dari pemerintahan yang merangkul semua pihak.
Sementara akarnya yang kokoh dan kemampuannya bertahan dalam berbagai kondisi melambangkan keteguhan serta nilai-nilai abadi yang dijunjung oleh suatu kerajaan.
Makna filosofis ini kemudian diadopsi dalam lambang negara Indonesia. Dalam Pancasila, pohon beringin dijadikan simbol Sila Ketiga yaitu Persatuan Indonesia.
Artinya, beringin dianggap sebagai tempat bernaung bagi seluruh rakyat dalam satu persatuan yang kokoh meski berasal dari latar belakang berbeda.
Mitos dan Kepercayaan di Masyarakat
Selain aspek sejarah dan filosofi, pohon beringin di alun-alun juga menyimpan banyak mitos yang telah diwariskan secara turun temurun.
Ukurannya yang besar, rimbunnya daun, serta suasana yang teduh dan terkadang gelap membuat pohon ini dianggap sakral dan dihuni makhluk halus seperti jin atau bahkan genderuwo.
Salah satu mitos paling terkenal adalah tradisi Masangin di Alun-Alun Kidul Yogyakarta. Dalam tradisi ini, seseorang berjalan menyeberangi jalur di antara dua pohon beringin kembar dengan mata tertutup.
Konon, mereka yang berhasil berjalan lurus dianggap memiliki hati yang bersih atau bahkan dipercaya bahwa keinginannya kelak dapat terkabul.
Ritual ini telah menjadi daya tarik tersendiri hingga banyak orang yang sengaja datang untuk mencobanya. Tradisi ini kemudian memperkuat kesan mistis sekaligus keunikan pohon beringin dalam budaya Jawa.
Simpan Mitos hingga Sejarah Panjang
Jadi, dari sejarah kerajaan hingga kepercayaan yang berkembang di masyarakat, pohon beringin di alun-alun ternyata memiliki peran yang sangat besar.
Pohon ini telah menjadi lambang kekuasaan, perlindungan, kebijaksanaan, sekaligus menjadi bahan perbincangan karena banyaknya mitos yang mengiringinya.
Dengan demikian, adanya pohon tersebut akhirnya bukan hanya bagian dari tata kota, tetapi juga simbol nilai budaya yang terus hidup dari masa lalu hingga sekarang.***