Apa yang Dimaksud Lebaran Ketupat? Ini Sejarah dan Maknanya

Bagikan :
Ilustrasi pengertian, sejarah dan makna Lebaran Ketupat (AI // Kabar Jawa)

KabarJawa.com – Lebaran Ketupat merupakan salah satu tradisi khas masyarakat Indonesia yang telah berlangsung turun-temurun, terutama di wilayah Jawa.

Tradisi ini dikenal luas di tengah masyarakat, namun tidak sedikit pula yang hanya memahami perayaan Idul Fitri tanpa mengetahui adanya tradisi lanjutan yang disebut Lebaran Ketupat.

Padahal, perayaan ini bukan sekadar kegiatan menyajikan ketupat beberapa hari setelah Idul Fitri. Di baliknya tersimpan nilai sejarah, dakwah Islam, serta pesan filosofis yang mendalam mengenai kebersamaan, rasa syukur, dan pentingnya berbagi kepada sesama.

Supaya kita bisa mendalaminya, berdasarkan informasi yang dihimpun KabarJawa.com, berikut penjelasan mengenai makna, rangkaian acara, hingga sejarah munculnya tradisi Lebaran Ketupat di Indonesia.

Pengertian Lebaran Ketupat dan Rangkaian Tradisinya

Lebaran Ketupat adalah tradisi tahunan yang biasanya dilaksanakan pada hari ketujuh setelah Hari Raya Idul Fitri. Informasi ini sebagaimana dijelaskan dalam laman resmi Pemerintah Desa Pulosari.

Perayaan tersebut menjadi bentuk ungkapan syukur umat Islam setelah menjalankan puasa sunah enam hari di bulan Syawal.

Selain bernilai ibadah, momen ini juga menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.

Suasana kebersamaan sangat terasa dalam pelaksanaan tradisi ini. Warga berkumpul di berbagai tempat seperti balai desa, langgar, masjid, maupun rumah tokoh masyarakat atau kerabat yang dituakan.

Baca juga  Titik Lokasi Penukaran Uang Baru di Yogyakarta: Cara Penukaran, Mekanisme hingga Batas Nominal Tukar Uang

Setiap warga biasanya datang dengan membawa hidangan khas Lebaran yang disiapkan secara swadaya. Beberapa menu yang umum disajikan antara lain ketupat, opor ayam, sambal goreng ati, serta sayur lodeh.

Makanan tersebut kemudian dinikmati bersama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur. Selain itu, kegiatan utama dalam perayaan ini juga diisi dengan doa bersama, pembacaan tahlil, serta kegiatan berbagi makanan kepada tetangga atau warga yang membutuhkan.

Di sejumlah daerah, khususnya wilayah pesisir utara Pulau Jawa, perayaan Lebaran Ketupat bahkan berlangsung sangat meriah.

Tidak jarang kemeriahannya dianggap lebih semarak dibandingkan perayaan Idul Fitri itu sendiri karena melibatkan banyak kegiatan masyarakat.

Asal Usul Tradisi Lebaran Ketupat di Jawa

Tradisi Lebaran Ketupat memiliki keterkaitan erat dengan sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa. Melansir dari laman resmi MA Al Falah Margoyoso, tradisi ini diyakini diperkenalkan oleh salah satu tokoh Wali Songo, yakni Sunan Kalijaga atau Raden Said.

Dalam proses dakwahnya, Sunan Kalijaga dikenal menggunakan pendekatan budaya agar ajaran Islam lebih mudah diterima oleh masyarakat Jawa. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperkenalkan konsep perayaan yang disebut Ba’da.

Baca juga  Dari Panen hingga Pesta Rakyat: Jejak Tradisi Sedekah Bumi di Jawa yang Masih Hidup hingga Kini

Ia mengenalkan dua istilah Ba’da kepada masyarakat, yakni Ba’da Lebaran dan Ba’da Kupat.

Ba’da Lebaran merujuk pada perayaan yang berlangsung pada 1 Syawal, yaitu pelaksanaan salat Idul Fitri yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan silaturahmi serta saling memaafkan antar sesama umat Islam.

Sementara itu, Ba’da Kupat merupakan tradisi yang digelar satu minggu setelah Idul Fitri.

Sebagai bagian dari Ba’da Kupat, masyarakat Jawa diajarkan membuat ketupat, yaitu makanan berbahan dasar beras yang dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa muda atau janur berbentuk kantong persegi.

Setelah dimasak hingga matang, ketupat disajikan bersama berbagai lauk bersantan. Hidangan tersebut kemudian dibagikan kepada tetangga, kerabat, maupun orang yang lebih tua sebagai simbol rasa hormat dan kasih sayang.

Makna Filosofis dalam Tradisi Lebaran Ketupat

Selain memiliki latar sejarah yang kuat, Lebaran Ketupat juga mengandung pesan filosofis yang relevan hingga sekarang.

Berdasarkan penjelasan dari laman resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, tradisi ini dapat dipahami sebagai wujud nyata praktik moderasi beragama di Indonesia.

Baca juga  Menggali Makna Sandekala, Tradisi Lisan yang Sarat Nilai Filosofis

Terdapat beberapa nilai penting yang tercermin dalam tradisi ini, antara lain adalah sebagai berikut.

Menghargai Kearifan Budaya Lokal

Tradisi Lebaran Ketupat menunjukkan bagaimana nilai agama dapat berjalan berdampingan dengan budaya lokal. Selama tidak bertentangan dengan ajaran agama, tradisi yang berkembang di masyarakat dapat tetap dilestarikan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.

Menguatkan Semangat Berbagi

Kegiatan membawa makanan dan menyantapnya bersama-sama mengandung pesan tentang pentingnya berbagi rezeki. Memberi makanan kepada tetangga dan masyarakat sekitar mencerminkan kepedulian sosial yang dianjurkan dalam ajaran Islam.

Melanjutkan Tradisi Halal Bihalal

Lebaran Ketupat juga menjadi kesempatan tambahan untuk mempererat hubungan kekeluargaan. Tradisi ini memberi ruang bagi masyarakat yang mungkin belum sempat bersilaturahmi saat Hari Raya Idul Fitri karena kesibukan atau perjalanan mudik.

Dengan adanya perayaan ini, masyarakat dapat kembali berkumpul, saling mengunjungi, serta memperkuat ikatan persaudaraan.

Hingga kini, Lebaran Ketupat masih terus dirayakan di berbagai daerah di Indonesia. Meski bentuk perayaannya dapat berbeda-beda di setiap wilayah, esensi dari tradisi tersebut tetap sama. Yakni ungkapan syukur, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama.***

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Kesalahan Penulisan Aksara Jawa di Kantor Disdikbud Jateng Jadi Sorotan, Begini Fakta dan Evaluasinya
Mengenal Aksara Swara (A, I, U, E, O): Pengertian, Ciri-ciri dan Fungsinya