Menguak Arti Tradisi Piring Terbang, Sajian Otentik dalam Acara Pernikahan Jawa

Bagikan :
Ilustrasi tradisi Piring Terbang yang erat kaitannya dengan acara pernikahan Jawa /Pixabay

KabarJawa.com – Ketika menghadiri sebuah pesta pernikahan, kita sering mendengar istilah prasmanan atau bahkan piring terbang. Namun, jangan salah paham, sebab pada tradisi piring terbang sebenarnya tidak ada piring yang benar-benar melayang di udara.

Istilah ini justru merujuk pada salah satu cara penyajian makanan khas dalam resepsi pernikahan Jawa, terutama di wilayah Solo dan sekitarnya.

Tradisi ini bukan hanya soal makan bersama, tetapi juga sarat makna budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Apa Itu Tradisi Piring Terbang?

Piring terbang merupakan bentuk jamuan pernikahan di mana tamu undangan akan duduk rapi di meja yang sudah disiapkan, kemudian pramusaji atau yang sering disebut sinoman akan menghidangkan makanan satu per satu secara berurutan.

Sajian ini bukan diambil sendiri seperti prasmanan, melainkan dibawa langsung ke hadapan tamu. Cara ini menciptakan suasana lebih hangat dan tertib, sekaligus memberi penghormatan kepada para tamu yang hadir.

Urutan Hidangan dalam Tradisi Piring Terbang

Dalam budaya Jawa, tradisi piring terbang lekat dengan sebuah pola penyajian yang disebut USDEK.

Baca juga  Tata Cara Nyadran di Jawa: Prosesi Lengkap Bersih Makam hingga Tasyakuran

Melansir dari berbagai sumber, diketahui bahwa rumus kuliner ini sudah dikenal luas dan menjadi panduan dalam setiap jamuan pernikahan Jawa. Adapun masing-masing juga memiliki arti tersendiri, seperti berikut:

  • U (Unjukan): Sajian pertama berupa minuman seperti teh panas, lengkap dengan camilan ringan sebagai pembuka percakapan.
  • S (Sop): Hidangan berikutnya adalah sup bening, misalnya sup ayam dengan sayuran, yang berfungsi sebagai penghangat sekaligus pembuka selera.
  • D (Dhaharan): Tahap utama yang selalu ditunggu, yaitu nasi dengan lauk-pauk lengkap. Inilah inti dari jamuan yang melambangkan rasa syukur keluarga pengantin.
  • E (Es): Setelah makanan utama, tamu akan disuguhi pencuci mulut berupa es buah, es krim, atau minuman dingin segar lainnya.
  • K (Kondur): Tahap terakhir bukan berupa makanan, melainkan sebuah tanda halus bahwa acara jamuan selesai. Setelah ini, tamu biasanya berpamitan, bersalaman dengan pengantin, dan pulang dengan penuh kesan baik.

Rangkaian penyajian ini menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa menjaga tata krama dalam menjamu tamu.

Semua sudah diatur dengan rapi, sehingga setiap orang mendapat kesempatan menikmati hidangan dengan tenang.

Baca juga  Makna Yasa Peksi Burak, Tradisi Keraton Yogyakarta dalam Peringatan Isra Miraj

Asal-Usul Tradisi Piring Terbang

Tradisi piring terbang mulai populer di wilayah Solo dan sekitarnya sekitar pertengahan tahun 1980-an. Konsep ini kemudian berkembang menjadi salah satu cara khas masyarakat Jawa dalam menyambut tamu di pesta pernikahan.

Seiring waktu, bukan hanya masyarakat Jawa Tengah yang menerapkan, tetapi juga daerah-daerah lain di luar wilayah tersebut yang turut mengadopsinya.

Meski zaman terus berubah dan model prasmanan semakin banyak dipilih karena dianggap praktis, tradisi piring terbang masih bertahan hingga kini.

Terutama di pedesaan, cara ini masih sering digunakan karena dianggap lebih menjaga nilai kebersamaan dan keakraban.

Piring Terbang dan Perbedaannya dengan Prasmanan

Bila dibandingkan dengan prasmanan, perbedaan mendasar tradisi piring terbang terlihat jelas. Pada prasmanan, tamu mengambil sendiri makanan sesuai keinginan.

Sementara itu, dalam piring terbang, semua sudah diatur dan diantar langsung oleh pramusaji.

Cara ini tidak hanya mengurangi antrean panjang, tetapi juga membuat acara lebih teratur dan penuh kesopanan khas budaya Jawa.

Warisan Budaya yang Terus Hidup

Hingga sekarang, piring terbang masih dianggap sebagai bagian dari warisan budaya Jawa yang berharga.

Baca juga  Strategi Perang Pangeran Sambernyawa: Menguak Taktik Ddhedemitan, Weweludhan, dan Jejemblungan

Keberadaannya bukan sekadar soal cara menyajikan makanan, melainkan juga simbol penghormatan kepada tamu, wujud kebersamaan, dan cerminan filosofi hidup masyarakat Jawa.

Bentuk Penyajian Makanan

Jadi kesimpulannya, tradisi piring terbang adalah bentuk penyajian makanan dalam pesta pernikahan Jawa yang unik dan penuh makna. Dengan sistem USDEK yang rapi, setiap tamu mendapat jamuan dari awal hingga akhir acara dengan suasana yang tertib.

Walaupun zaman modern menghadirkan banyak alternatif, piring terbang tetap memiliki tempat istimewa sebagai bagian dari identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.***

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Kesalahan Penulisan Aksara Jawa di Kantor Disdikbud Jateng Jadi Sorotan, Begini Fakta dan Evaluasinya
Mengenal Aksara Swara (A, I, U, E, O): Pengertian, Ciri-ciri dan Fungsinya
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya