
KabarJawa.com – Ketika menghadiri sebuah pesta pernikahan, kita sering mendengar istilah prasmanan atau bahkan piring terbang. Namun, jangan salah paham, sebab pada tradisi piring terbang sebenarnya tidak ada piring yang benar-benar melayang di udara.
Istilah ini justru merujuk pada salah satu cara penyajian makanan khas dalam resepsi pernikahan Jawa, terutama di wilayah Solo dan sekitarnya.
Tradisi ini bukan hanya soal makan bersama, tetapi juga sarat makna budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Apa Itu Tradisi Piring Terbang?
Piring terbang merupakan bentuk jamuan pernikahan di mana tamu undangan akan duduk rapi di meja yang sudah disiapkan, kemudian pramusaji atau yang sering disebut sinoman akan menghidangkan makanan satu per satu secara berurutan.
Sajian ini bukan diambil sendiri seperti prasmanan, melainkan dibawa langsung ke hadapan tamu. Cara ini menciptakan suasana lebih hangat dan tertib, sekaligus memberi penghormatan kepada para tamu yang hadir.
Urutan Hidangan dalam Tradisi Piring Terbang
Dalam budaya Jawa, tradisi piring terbang lekat dengan sebuah pola penyajian yang disebut USDEK.
Melansir dari berbagai sumber, diketahui bahwa rumus kuliner ini sudah dikenal luas dan menjadi panduan dalam setiap jamuan pernikahan Jawa. Adapun masing-masing juga memiliki arti tersendiri, seperti berikut:
- U (Unjukan): Sajian pertama berupa minuman seperti teh panas, lengkap dengan camilan ringan sebagai pembuka percakapan.
- S (Sop): Hidangan berikutnya adalah sup bening, misalnya sup ayam dengan sayuran, yang berfungsi sebagai penghangat sekaligus pembuka selera.
- D (Dhaharan): Tahap utama yang selalu ditunggu, yaitu nasi dengan lauk-pauk lengkap. Inilah inti dari jamuan yang melambangkan rasa syukur keluarga pengantin.
- E (Es): Setelah makanan utama, tamu akan disuguhi pencuci mulut berupa es buah, es krim, atau minuman dingin segar lainnya.
- K (Kondur): Tahap terakhir bukan berupa makanan, melainkan sebuah tanda halus bahwa acara jamuan selesai. Setelah ini, tamu biasanya berpamitan, bersalaman dengan pengantin, dan pulang dengan penuh kesan baik.
Rangkaian penyajian ini menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa menjaga tata krama dalam menjamu tamu.
Semua sudah diatur dengan rapi, sehingga setiap orang mendapat kesempatan menikmati hidangan dengan tenang.
Asal-Usul Tradisi Piring Terbang
Tradisi piring terbang mulai populer di wilayah Solo dan sekitarnya sekitar pertengahan tahun 1980-an. Konsep ini kemudian berkembang menjadi salah satu cara khas masyarakat Jawa dalam menyambut tamu di pesta pernikahan.
Seiring waktu, bukan hanya masyarakat Jawa Tengah yang menerapkan, tetapi juga daerah-daerah lain di luar wilayah tersebut yang turut mengadopsinya.
Meski zaman terus berubah dan model prasmanan semakin banyak dipilih karena dianggap praktis, tradisi piring terbang masih bertahan hingga kini.
Terutama di pedesaan, cara ini masih sering digunakan karena dianggap lebih menjaga nilai kebersamaan dan keakraban.
Piring Terbang dan Perbedaannya dengan Prasmanan
Bila dibandingkan dengan prasmanan, perbedaan mendasar tradisi piring terbang terlihat jelas. Pada prasmanan, tamu mengambil sendiri makanan sesuai keinginan.
Sementara itu, dalam piring terbang, semua sudah diatur dan diantar langsung oleh pramusaji.
Cara ini tidak hanya mengurangi antrean panjang, tetapi juga membuat acara lebih teratur dan penuh kesopanan khas budaya Jawa.
Warisan Budaya yang Terus Hidup
Hingga sekarang, piring terbang masih dianggap sebagai bagian dari warisan budaya Jawa yang berharga.
Keberadaannya bukan sekadar soal cara menyajikan makanan, melainkan juga simbol penghormatan kepada tamu, wujud kebersamaan, dan cerminan filosofi hidup masyarakat Jawa.
Bentuk Penyajian Makanan
Jadi kesimpulannya, tradisi piring terbang adalah bentuk penyajian makanan dalam pesta pernikahan Jawa yang unik dan penuh makna. Dengan sistem USDEK yang rapi, setiap tamu mendapat jamuan dari awal hingga akhir acara dengan suasana yang tertib.
Walaupun zaman modern menghadirkan banyak alternatif, piring terbang tetap memiliki tempat istimewa sebagai bagian dari identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.***