
KabarJawa.com – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H (2026 M), warga masyarakat di Jawa biasanya mulai disibukkan dengan adanya tradisi tahunan yang disebut Nyadran atau Sadranan.
Tradisi ini tak hanya dikenal sekadar ritual keagamaan, melainkan wujud akulturasi budaya Jawa dan Islam yang kental dengan nilai gotong royong.
Nyadran menjadi momen bagi masyarakat untuk mendoakan leluhur yang telah tiada sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Bagi Anda yang ingin mengetahui urutan prosesinya, berdasarkan informasi yang dihimpun KabarJawa.com, berikut adalah tata cara lengkap Nyadran yang biasa dilakukan masyarakat Jawa.
Tata Cara Prosesi Nyadran di Jawa
Besik
Berdasarkan laman resmi Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, diketahui bahwa rangkaian Nyadran selalu diawali dengan Besik. Ini adalah kegiatan kerja bakti membersihkan makam leluhur dan area pemakaman desa.
Yang satu ini yaitu mencabut rumput liar, menyapu dedaunan, dan memperbaiki nisan yang rusak. Sementara, kegiatan tersebut juga menyimpan simbol sebagai pembersihan diri dan bentuk bakti serta penghormatan anak cucu kepada para leluhur.
Kirab
Selanjutnya, di beberapa desa wisata atau wilayah tertentu, prosesi dilanjutkan dengan Kirab. Jadi, dalam kegiatan ini, warga akan berjalan beriringandari balai desa atau masjid menuju ke lokasi pemakaman atau tempat upacara adat.
Lebih lanjut, peserta biasanya mengenakan pakaian adat Jawa atau busana muslim yang rapi.
Ujub
Sesampainya di lokasi, acara dibuka oleh Pemangku Adat atau sesepuh desa. Kemudian, Pemangku adat menyampaikan Ujub dalam Bahasa Jawa krama inggil.
Isinya ialah penyampaian maksud dan tujuan diselenggarakannya acara Nyadran tersebut kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para hadirin.
Doa Bersama
Ini adalah inti spiritual dari Nyadran dimana pemuka agama setempat akan memimpin pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, zikir, dan tahlil.
Adapun doa ini dikhususkan untuk memohon ampunan bagi arwah leluhur yang telah meninggal dunia.
Kembul Bujana
Acara ditutup dengan prosesi Kembul Bujana atau makan bersama. Dalam sesi ini, setiap keluarga membawa tenong atau bakul berisi makanan tradisional dari rumah.
Adapun menu yang biasanya ada dalam kegiatan yang juga disebut sebagai tasyakuran ini antara lain Ayam Ingkung, sambal goreng ati, urap sayur, perkedel, tahu/tempe bacem, dan kerupuk.
Dan sebelum dimakan, makanan didoakan terlebih dahulu. Uniknya, warga seringkali saling menukar makanan mereka dengan tetangga di sebelahnya, lalu makan bersama sambil bercengkerama.
Sejarah Singkat Nyadran
Tradisi ini memiliki akar sejarah yang panjang. Berdasarkan catatan Pemerintah Kabupaten Kendal, Nyadran merupakan adaptasi dari tradisi Hindu-Buddha kuno bernama Sradha (sejak tahun 1284).
Dahulu, Sradha dilakukan untuk menghormati arwah Raja dengan sesaji. Setelah Islam masuk, para Wali mengadaptasi tradisi ini agar selaras dengan tauhid.
Sesaji diganti dengan sedekah makanan, dan mantra-mantra diganti dengan doa, zikir, serta tahlil.
Kapan Nyadran 2026 Dilaksanakan?
Secara umum, Nyadran dilaksanakan pada bulan Sya’ban (Kalender Hijriah) atau bulan Ruwah (Kalender Jawa). Biasanya dimulai sejak tanggal 10 Rajab hingga menjelang Ramadhan.
Mengingat Ramadhan 1447 H diperkirakan jatuh pada pertengahan Februari 2026, maka awal Februari 2026 ini diperkirakan menjadi puncak pelaksanaan Nyadran di berbagai pelosok desa di Jawa
Nah, itulah tadi tata cara Nyadran lengkap dengan berbagai penjelasan mengenai tradisi yang biasa dilaksanakan masyarakat Jawa jelang bulan suci Ramadhan ini.***